Sumber foto: Pinterest
Membaca bukanlah sekadar mengisi waktu luang, melainkan sebuah aktivitas fundamental yang menjadi pilar utama bagi kemajuan kehidupan dan perkembangan manusia. Aktivitas ini memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada peningkatan kualitas individu secara personal, tetapi juga pada kemajuan masyarakat secara kolektif.
Kemampuan membaca adalah kunci universal yang membuka pintu menuju dunia ilmu pengetahuan, memperluas cakrawala wawasan, dan yang paling penting, merangsang imajinasi kreatif yang tak terbatas. Sering kali kita menyederhanakan membaca sebagai proses mengeja kata demi kata. Padahal, membaca adalah sebuah proses kognitif yang kompleks. Ia melibatkan lebih dari sekadar pengenalan simbol-simbol grafis (huruf dan angka).
Membaca yang efektif menuntut otak untuk bekerja dalam beberapa lapisan: pemahaman makna literal dari sebuah kalimat, interpretasi konteks dan implikasi yang tersirat dalam teks, hingga penilaian kritis terhadap informasi yang disampaikan.
Dalam Islam, nilai membaca diangkat ke posisi tertinggi melalui peristiwa monumental turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw. di Gua Hira. Perintah pertama dari Tuhan kepada Nabi-Nya bukanlah salat, puasa, atau zakat, melainkan “Iqra’” yang berarti “Bacalah”.
Perintah ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1-5, yang artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah! Dan Tuhanmulah yang Maha Mulia, yang mengejar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq : 1-5)
Ayat ini tidak hanya memerintahkan untuk membaca, tetapi juga mengaitkan tindakan membaca dengan nama Tuhan Yang Maha Pencipta dan alat menulis (pena) sebagai medium transfer ilmu. Perintah “Iqra” pada dasarnya adalah ajakan universal untuk mencari, mengkaji, dan mendalami semua ciptaan, baik yang tertulis (ayat qouliyah) maupun yang terhampar di alam semesta (ayat kauniyah).
Oleh karena itu, menjadikan membaca sebagai kebutuhan primer bukan sekadar pelengkap, melainkan langkah krusial. Marilah kita tanamkan budaya literasi sejak dini, karena hanya dengan membaca kita dapat terus meningkatkan kualitas diri dan kehidupan kita menuju pribadi yang berilmu, berwawasan luas, dan berkarakter mulia.
Oleh: Suheri Al-aly

