Shadow

Etnosentrisme-Antroposentrisme dalam Keragaman dan Kebangsaan Kita

Oleh: Hasani Utsman

l

Dalam pemikiran antropologis Abdurrahman ibn Khaldun (1332 M-1384 M), manusia merupakan makhluk yangsalah satu tipologinya adalahlemah fisik (dha’fu al-nafsi al-basyariyah) yang hal itu ditunjukkan dengan ketidakmampuan manusia dalam menjaga dan mengamankan mata pencahariannya seorang diri, baik dari serangan manusia atau binatang buas, sehingga manusia selalu perlu bekerjasama dengan sesama manusia dalam usaha menggapai tujuan dan menghindari bahaya.

Jiwa manusia juga memiliki beberapa tipologi yang diantaranya adalah kuasa (al-mulk) yang kemudian melahirkan negara, lalu lahir peraturan (nidzam) berdasarkan prinsip maslahat dan mafsadat umum. Negara kemudian harus benar-benar dijalankan berdasarkan prinsip keadilan (la sabila lil imarah illa bi al-adl) agar terhindar dari kehanduran dan perang.  Kebangsaan, atau hubungan hukum antara beberapa orang dan institusi bernama negara tidak lantas membuat seseorang kemudian menjadi kehilangan kedaulatan secara personal (as-siyadah as-sakhsiyah) walaupun negara tentu akan banyak memberikan peraturan dan perlindungan bagi setiap warga bangsa.

Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari berbagai macam suku yang merupakan salah satu negara bangsa (nation-state) di dunia hari ini, atau negara yang pembentukannya didasarkan pada prinsip satu kebangsaan dan cita-cita bersama, walaupun di dalam Indonesia terdapat banyak agama, ras, etnis dan golongan.

Dalam konteks kehidupan berbangsa hari ini, kita dihadapkan pada persoalan menguatnya etnosentrisme, atau sebuah persepsi yang datang dari satu orang atau kelompok tertentu dalam menilai suatu pihak atau kebudayaan lain, dengan menjadikan kebudayaan sendiri sebagai standar nilai bagi orang atau kebudayaan lain. Menguatnya politik identitas belakangan ini bisa dijadikan argumentasi akan semakin kencangnya arus deras bernama etnosentrisme itu, ditambah lagi dengan maraknya isu-isu rasial di tengah masyarakat kita, yang tentu saja kalau terus dibiarkan akan menjadi pemicu perpecahan dan perang sesama anak bangsa.

Dalam al-Quran, manusia di seluruh dunia dalam sejarahnya terlahir dari dua orang yang sama, yaitu Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Manusia juga telah diciptakan oleh Alloh SWT tidak satu latar belakang, tapi berbeda-beda ras, etnis dan golongan yang dimaksudkan agar mengenal antara satu dengan yang lain. Tapi, jika itu menyangkut soal kemuliaan di sisi Alloh SWT, maka menjadi tidak penting lagi soal nasab, ras, etnis dan golongan, tapi sudah benar-benar menyangkut ketakwaan. Orang Arab bisa lebih mulia dari non-Arab (‘ajam) dan non-Arab bisa lebih mulia, mengalahkan orang Arab jika mereka benar-benar bertakwa, sebagaimana firman Alloh SWT dalam al-Quran, Surah al-Hujurat ayat 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ  إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Alloh Maha Mengetahui, Maha teliti.”

Keragaman umat manusia dijamin oleh fakta sejarah dan sosial, bahkan dalam tradisi Islam telah dijamin oleh ragam teks formal, bagaimana keragamaan memang kehendak Alloh SWT seperti dalam satu ayat dalam al-Quran, Surah Hud ayat 118.

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat).”

Ayat di atas berisi pengakuan Alloh SWT, bagaimana dan kalau saja Ia memang berkehendak, maka Ia akan menjadikan manusia satu umat saja. Tapi pada kenyataannya, manusia hingga hari ini tetap berbeda-beda, karena semua keragaman manusia ini sepenuhnya adalah kehendak Alloh, baik itu perbedaan mazhab, ataupun agama.

Kehidupan berbangsa dan bernegara kita hari ini juga sering diwarnai oleh adanya ragam bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, angin topan, kekeringan dan lain-lain. Manusia memang  diciptakan sebagai seorang pemimpin di atas bumi ini (khalifatulloh fi al-ardi) karena peran penting ini manusia seringkali berpandangan antroposentris, atau persepsi yang menganggap bahwa manusia adalah makhluk hidup yang menjadi pusat dari segala seuatu di atas muka bumi ini. Manusia juga sering beranggapan, bahwa alam di sekitar manusia diciptakan disediakan Alloh SWT hanya untuk memenuhi seluruh kebutuhan manusia.

Karena pandangan ini, manusia kemudian berperilaku sewenang-wenang dalam memperlakukan alam, bagaimana mereka menganggap alam tidak mempunyai nilai intrinsik dalam dirinya sendiri, selain nilai instrumental ekonomis bagi kepentingan ekonomi manusia. Akibatnya, hari ini banyak bukit dan gunung dikeruk, deforestasi, yang kemudian menjadi penyebab terjadinya banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.

Dalam pandangan Ibnu Khaldun, alam dibagi menjadi tiga. Pertama, dunia indra (alam al-hissi), kedua, dunia fisik (alam al-nafs). Ketiga, dunia ruh dan malaikat (alam al-arwah wa al-malaikah). Dalam kondisi yang pertama manusia tidak merasakannya sendiri, binatang merasakan hal yang sama, memiliki rasa, yang membedakan manusia dengan binatang adalah akal yang kemudian memproduksi kemanusiaan, yang pada akhirnya menjadi tipologi bagi manusia.

Alam indra dibagi menjadi dua, yaitu dunia  komponen  (alam anasir) sepertitanah, air, udara, api hingga planet. Lalu dunia cipta (alam takwin) seperti mineral, tumbuh-tumbuhan hingga hewan.  Dunia manusia oleh Ibnu Khaldun memang disebut sebagai dunia yang paling mulia dan tinggi (alam al-basyari asyrafu al-awalim min al-maujudad wa arfa’uha). Indra manusia banyak persamaan dengan binatang (musytarak), jiwa manusia banyak musytarak dengan jiwa malaikat. Tentu saja manusia tidak boleh merasa sebagai makhluk satu-satunya di muka bumi ini dan bagaimana mereka harus selalu sadar, bahwa yang membedakan mereka dari hewan adalah anugerah akal budi dari Alloh SWT.

Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam dan sumber hukum primer tidak hanya berisi tentang ayat-ayat yang membahas manusia, tetapi juga membahas tentang alam semesta, bagaimana dalam Surah al-Fatihah, Alloh SWT menyebut dirinya sebagai Tuhan Semesta Alam (رَبِّ الْعَالَمِينَ) yang kemudian di dalam al-Quran juga berisi tentang langit, bumi, flora dan fauna, matahari, bulan, bintang, air, udara dan gunung. Kita harus benar-benar memahami, keragaman bukan hanya keragaman manusia tetapi juga keragaman spesies lain yang ada di atas bumi ini.

Dengan menggunakan paradigma yang juga mempertimbangkan aspek lingkungan hidup, kita akan selamat dari cara berpikir antroposentris yang pada kenyataannya hari ini, telah banyak melahirkan kerusakan lingkungan hidup dan menjauhkan kita dari pesan-pesan al-Quran seputar ekologi dan biosfer. Sebagaimana firma Alloh SWT dalam Surah ar-Rum ayat 41.

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُواْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Alloh menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Bahan bacaan: Aljilani ibn al-Tuhamy Miftah, Falsafah al-Insan  inda ibn Khaldun (Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2011).

Leave a Reply

Your email address will not be published.