Foto diambil dari; pinterest
Menulis adalah sebuah pelajaran yang telah menjadi sebuah tradisi dan budaya di kalangan pondok pesantren ataupun madrasah, menulis juga adalah sebuah aktifitas yang indah dan mudah bagi kita menambah lebih kreatif dalam memperindah tulisan, semisal dalam tulisan latin ataupun arab.
Kita sebagai santri harus senantiasa dalam menulis, entah itu dalam tulisan latin ataupun dalam tulisan arab, karena para ulama zaman dahulu mereka lebih senang dalam menulis apapun yang berbuah ilmu, seperti halnya guru kita Almuallim, beliau pernah berpesan kepada salah satu santri nya (Ag. Mahfudz Birali) di mana dalam pesan tersebut beliau memerintahkan untuk senantiasa menulis sebuah materi pelajaran yang di dapat.
Dalam tujuan menulis tersebut selain kelak akan menjadi saksi bagi kita di hari hisab dan juga dapat menjaga kelestarian ilmu itu sendiri, maka tidak heran bagi kita bahwa para ulama senantiasa menulis sebuah pelajaran yang mereka dapat, selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Apabila engkau mendengarkan sesuatu ( tentang ilmu ) maka hendaklah engkau menulisnya walaupun di atas tembok”, ( HR.Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu No 146 )
Dari uraian hadis tersebut, seharusnya kita sudah memahami dengan jelas bahwa menulis sebuah ilmu yang sangatlah penting. Jika para syuhada’ di hari hisab nanti dipersaksikan dengan darah yang bercucuran ataupun luka-luka yang berada di sekujur tubuhnya, maka kita seorang santri juga akan dipersaksikan oleh tinta yang digoreskan atau keringat yang bercucuran serta kertas yang dicoret-coretkan.
Sungguh sangatlah bodoh orang yang tidak mengiginkan budaya menulis ataupun mencatat pelajaran dengan dalih “Ilmu itu didalam hati bukan di dalam tulisan buku”. Maka orang tersebut salah dalam memahami konteks menulis dan apabila orang tersebut melakukan dengan dalih di atas maka kebodohanlah yang akan ia dapatkan. Karena ilmu mudah hilang apabila kita tidak mencatatnya.
Oleh : Alviansyah ( KPA )

