Shadow

Ratusan PJGT (Penanggung Jawab Guru Tugas) Melakukan Pendaftaran GT (Guru Tugas)

DSC00566
Antrian PJGT (Penanggung Jawab Guru Tugas) di Darul Munadloroh

assirojiyyah.online – Ratusan PJGT (Penanggung Jawab Guru Tugas) dari berbagai daerah registrasi ulang Guru Tugas (GT) di Pondok Pesantren Assirojiyyah yang bertempat di Darul Munadloroh Pada Senin (21/02/2022).

Ag. Khotibul Umam Sarnawi, selaku anggotna Biro Pendidikan dan Pengajaran menyampaikan, bahwa tujuan diadakan Pengajuan Guru Tugas (GT)  tersebut untuk membantu PJGT (Penanggung jawab Guru Tugas) dalam proses belajar mengajar serta untuk melatih dan mengevaluasi kekurangan  santri yang sudah naik ke Nidlomiyyah sekaligus untuk mengetahui cara beradaptasi dengan masyarakat.

      “Karena situasi di Pondok jauh beda dengan yang ada di masyarakat,  dan kekurangannya bisa dibenahi di Pondok,” ungkapnya.

      Ag. Khotib juga menyampaikan, bahwa pendaftaran GuruTugas (GT) dilakukan setiap tanggal 20 Rajab pada tiap tahunnya, baik yang lama maupun yang baru. Sedangkan bagi yang baru mendaftar, pihak pendidikan akan melakukan survey terlebih dahulu, mulai dari jumlah santri, asatidz dan tempatnya untuk menentukan layak tidaknya mendapat jatah guru tugas.

      Selain itu Ag. Khotib sapaan akrabnya, menambahkan bahwa jumlah keseluruhan Guru Tugas (GT) pada tahun ini tidak jauh beda dengan jumlah tahun sebelumnya. Namun, lanjutnya.untuk pendaftaran yang baru untuk saat ini tidak sampai sepuluh orang.

      “Untuk  tahun kemaren Guru Tugas yang di Pontianak sebanyak 32 Guru Tugas (GT), untuk daerah Banjarmasin 2 begitu pula di Balikpapan, di Jakarta 5 dan sisanya di Madura,” Imbuhnya.

      Perlu diketahui, guru tugas tersebut diambil dari siswa NID 1 dan NID 2 yang nilainya di atas rata-rata untuk tugas dalam kota, NID 2 sampai Khususiyah untuk luar kota dan untuk siswa yang pernah bertugas di luar kota minimal 1 kali untuk daerah luar jawa.

      Diakhir wawancara Agus tersebut berharap “ Semoga dengan adanya penugasan ini, para Guru Tugas (GT)  bisa mengambil hikmah dan belajar mengevaluasi diri agar bisa lebih hati-hati dan siap ketika boyong (Berhenti dari Pondok),” pungkas Ag. Khotib.

Leave a Reply

Your email address will not be published.