Sejak kepergian ayahnya, rumah itu terasa hampa seperti taman yang kehilangan matahari. Hanya ada seorang ibu renta yang terus menanam doa di antara sepi, berharap hatinya yang retak masih cukup kuat menuntun anak semata wayangnya. Arif, yang dulu menjadi alasan senyumnya, kini menjelma bayang asing yang dingin dan jauh. Setiap pagi, suara lembut sang ibu memanggilnya di ambang pintu, namun yang kembali hanya gema kesabaran yang tak pernah terbalas.
Pagi yang cerah. Saat itu Arif bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. “Nak, makan dulu, Nak, sebelum berangkat. Ini Ibu sudah siapkan lauk tahu dan tempe.” “Apa, Bu? Makanannya cuma itu-itu saja, enggak bosan apa?” jawab Arif dengan nada kasar. Arif pun berangkat tanpa pamit dan peduli pada ibunya. Sejak ayahnya meninggal dunia, sikap Arif berubah, menjadi kasar dan tidak peduli pada sekitarnya. Ibunya yang sudah cukup tua itu pun sering sakit hati melihat tingkah laku anaknya.
Sore pun tiba. Terlihat Arif datang dari sekolahnya sambil berjalan kaki. Ibunya yang melihatnya langsung menyapa. “Eh, anakku sudah pulang!” “Apaan sih, Bu, sok perhatian, deh,” jawab Arif dengan nada kesal. “Apa Ibu tega melihat aku berjalan kaki setiap hari berangkat maupun pulang dari sekolah? Aku lelah, Bu, hidup begini terus. Pokoknya Ibu harus belikan aku sepeda motor!” protes Arif pada ibunya. “Bukan Ibu tega, Nak, tapi Ibu tidak punya uang. Makan saja susah, apalagi membelikanmu sepeda motor,” jawab ibunya dengan sedih. “Alah, omong kosong” jawab Arif sambil meninggalkan ibunya.
“Pagi, Bro!” sapa Arif pada beberapa temannya. “Pagi juga, Bro,” jawab salah satu temannya. “Sudah dari tadi, ya?” tanya Arif lagi. “Enggak, sih, baru saja yang sampai,” jawab temannya. “Ayo, kita ke tempat biasanya saja,” ajak Arif. “Ayo, gas!” jawab temannya menyetujui ajakan Arif. Mereka pun bergegas menuju ke belakang sekolah. Mereka menongkrong sambil merokok. Hari itu, lagi-lagi Arif tidak masuk sekolah padahal ia sudah kelas 3 SMA dan tidak lama lagi akan menghadapi ujian. Ia hanya menghabiskan waktunya dengan bermain gitar dan merokok di belakang sekolahnya bersama teman-temannya. “Rif, kapan kamu mau bayar utang kamu?” tanya salah satu temannya. “Nanti sore pasti kubayar, tenang saja,” jawab Arif dengan yakin, meskipun sebenarnya ia sedang tidak punya uang.
Siang harinya, ia bolos keluar sekolah dengan melompati pagar. Ia pergi ke sebuah pasar di dekat sekolahnya dan mencoba mencopet karena ia butuh uang untuk membayar utang pada temannya. “Copet! Copet! Tolong, tas saya dicopet!” teriak ibu-ibu yang sedang dicopet. Massa pun mengejar Arif hingga akhirnya Arif gagal melarikan diri. Arif babak belur dihakimi massa, dan akhirnya dibawa ke kantor polisi untuk ditindak lebih lanjut.
Setibanya di kantor polisi, polisi menelpon ibu Arif dan memintanya untuk datang. Ibunya kaget dan langsung menangis mendengar anak satu-satunya tersebut berurusan dengan polisi. Dengan wajah babak belur karena dihajar massa, Arif pun menangis dan menyesali perbuatannya. Ia menyesal karena selalu mengecewakan ibunya. Bahkan, saat ibunya sakit sekalipun ia tidak pernah peduli dengan keadaannya. Ia hanya sibuk bergaul dengan teman-temannya. Dalam tangisannya, Arif berjanji akan membahagiakan ibunya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk langsung mencium kaki sang ibu saat ibunya datang ke kantor polisi.
Detik demi detik, menit demi menit, dan tiga jam sudah berlalu. Ibu Arif belum juga datang. Arif pun gelisah. Setelah tiga jam lewat, akhirnya telepon genggam Arif berbunyi. “Halo, benarkah ini dengan Saudara Arif?” tanya orang yang sedang memanggilnya. “Iya, ini dengan saya sendiri. Kalau boleh tahu ini siapa, ya?” tanya Arif dengan penasaran. “Saya dari pihak petugas rumah sakit ingin mengabarkan bahwasanya ibu Anda sedang dirawat di rumah sakit. Keadaannya sekarang sedang kritis dikarenakan beliau kecelakaan saat menuju kantor polisi,” ungkap petugas rumah sakit. Arif pun histeris mendengar kabar tersebut. Dia langsung menuju rumah sakit, diantar oleh pihak kepolisian.
Sesampainya di rumah sakit, Arif berlari menuju ruangan tempat ibunya dirawat. Namun, Arif tidak menemukan ibunya di ruangan itu. Lalu, petugas rumah sakit memberi kabar kepada Arif bahwasanya sang ibu baru saja dipindah ke kamar mayat. Ia meninggal karena kehabisan darah. Setelah mendengar kabar pahit tersebut, Arif pun menangis histeris, seakan tak menerima kenyataan. Tangisannya semakin dalam ketika ia menemukan dokumen pembelian sepeda motor di tas ibunya. Rupanya, hari ini ibunya berhasil mengumpulkan uang hasil berdagang kue di pasar, hingga bisa membelikan Arif sepeda motor. Arif memeluk tas lusuh itu erat-erat, menangis sejadi-jadinya di lantai rumah sakit. Penyesalan menghujam hatinya seperti ribuan duri yang menembus tanpa ampun. Ia teringat semua ucapan kasarnya, setiap pandangan dingin yang pernah ia berikan pada ibunya. Kini semuanya terlambat. Senyum itu takkan pernah menyambutnya lagi, dan doa itu hanya akan bergema dari langit, tempat ibunya beristirahat dalam keabadian.
Oleh: Ghonim 4-A KPA

