"JEK ROK NOROK MIMPIN TAHLIL, MIMPIN TAHLIL BEGI DEK PENDUDUK SETEMPAT BEIH, KAKEH TUGASEH MOROK BEIH."
PT. Assrof Media - Friday, 29 October 2021 | 01:45 PM



(Jangan ikut-ikutan memimpin tahlil, memimpin tahlil itu serahkan pada penduduk setempat saja. Tugasmu mengajar saja)
Petuah al Muallim kepada salah seorang santrinya yang tengah menjalani khidmat di masyarakat. Kebetulan, saat itu sang santri mengutarakan niatnya untuk berpindah ke lokasi baru.
Sebagai guru sudah harusnya mengarahkan para muridnya agar tetap berhati-hati di dalam merefleksikan ilmu yang telah diperoleh. Petuah tersebut mengandung larangan terhadap suatu perseolan yang menyangkut kepentingan mesyarakat yaitu beliau melarang muridnya untuk menjadi memimpin tahlil.

Kalimat beliau tidaklah sertamerta ditangkap dengan pemahaman yang sangat sederhana. Akan tetapi harus dikaji lebih dalam agar diketahui maksud sebenarnya. Makna melarang di sini bukan berarti larangan mutlak, melainkan ada qoyyid atau batasan yang perlu dipahami. Artinya, sebagai santri haruslah mengerti dengan kondisi dan etika. Apabila di suatu majelis ada orang yang layak, baik dari segi usia, latar belakang atau keilmuannya untuk dijadikan pemimpin, maka seyogianya mendahulukan orang tersebut. Lebih-lebih dia merupakan penduduk asli dalam majelis itu.
Selain itu, beliau juga mendidik santrinya agar tidak berhasrat menjadi tokoh yang selalu tampil terdepan ditengah masyarakat. Tetaplah bersikap ramah, tawadlu' serta focus menjalankan apa yang menjadi tugas pokoknya. Seperti halnya seorang santri yang mendapat amanat untuk mengajar, maka hendaklah dia benar-benar konsisten dengan tugasnya sebagai guru. Tugas itu adalah amanat, dan tugas pokok adalah amanat utama yang harus dijalankan dengan sebaik mungkin.

Karena sesungguhnya ada banyak cara bagi seseorang untuk berkhidmat di masyarakat. Bisa dengan cara mengajar, memimpin tahlil, jadi MC, ikut bakti social, menjaga keamanan lingkungan, takmir masjid dan lain-lain. Akan tetapi, dari beberapa tugas yang ada, pasti ada bagiannya masing-masing. Siapa yang lebih pantas, maka dialah yang lebih berhak menjalankan tugasnya. Yang terpenting ialah kedepankan sikap saling memahami, menghargai serta saling menjaga satu sama lain. Agar dengan demikian, akan terjalin hubungan emosional yang baik dan terhindar dari kecemburuan social di masyarakat. "Ilmu yang paling utama ialah akhlaq, dan amal paling utama adalah menjaga akhlaq itu."
Next News

Grebeg Maulud: Ritual Rebutan Berkah yang Bikin Jantung Mau Copot tapi Tetap Nagih
17 hours ago

Mencicipi Hangatnya Paskah di Indonesia: Dari Ritual Syahdu Sampai Perburuan Telur yang Chaos
17 hours ago

Mappacci: Bukan Sekadar Pakai Kutek, Tapi Ritual 'Deep Cleaning' Jiwa ala Bugis-Makassar
17 hours ago

Ngeri-Ngeri Sedap: Mengulik Debus, Warisan Jawara Banten yang Bikin Bulu Kuduk Berdiri
17 hours ago

Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa
17 hours ago

Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh
17 hours ago

Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita
17 hours ago

Mengenal Erau: Pesta Rakyat Kalimantan Timur yang Lebih dari Sekadar Hura-hura
17 hours ago

Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta
17 hours ago

Bukan Cuma Sekadar Pesta: Menyesap Magis di Semarak Festival Danau Toba
17 hours ago





