JERAT KEMEWAHAN: ANTARA KESENANGAN SEMU DAN KEHANCURAN HAKIKI
PT. Assrof Media - Tuesday, 13 May 2025 | 04:09 PM


Sumber foto: Pinterest
Setiap orang pada dasarnya tertarik pada kesenangan dan kemewahan, baik kesenangan lahir ataupun batin. Dasar kecenderungan itu bisa berkembang sedemikian rupa, bisa mengarah pada yang baik dan juga bisa mencampakkannya dalam kehinaan dan kehancuran. Sering kita jumpai orang-orang yang hidup dengan ketenangan dan kebahagiaan pada saat mereka berada dalam kesederhanaan.
Tapi pada saat orang itu dikaruniai rezeki yang berlimpah dan kemewahan yang sangat, ia tenggelam dalam kehidupan yang resah dan mengarah pada kehancuran. Ia sendiri kehilangan keseimbangan dalam mengatur kehidupan, keluarganya berantakan dan anak-anaknya tidak berhasil dididik secara baik.
Maka dari itu, Rasululloh SAW sangat mengkhawatiri umatnya tenggelam, binasa dalam kemewahan duniawai, dikarenakan sikap tamak dan rakus. Mereka mengeksploitasi alam dengan segala isinya untuk memperkaya diri, mengejar kemewahan dan kelezatan dunia.
Sahabat Amru berkata bahwa Nabi SAW mengutus Abu Ubaidah ke Bahrain. Sekembalinya, ia membawa harta benda yang banyak pulang ke Madinah. Para sahabat gembira atas kabar itu. Pada waktu Subuh mereka berdatangan ke Masjid salat berjamaah dengan Nabi. Jamaah Subuh waktu itu nampak lebih banyak dari biasanya. Setelah selesai salat mereka menghadap pada Rasululloh.
Beliau pun tersenyum melihat jamaah yang begitu banyak dan tidak seperti biasanya. Sambil bercanda, Nabi bertanya pada mereka: "Aku menduga kalian semua telah mendengar kedatangan Abu Ubaidah dengan membawa harta yang banyak. "Secara terus terang para sahabat menjawab: "Benar wahai Rasululloh". Nabi bersabda: "Terimalah khabar baik dan bersikap optimislah untuk mencapai segala harapanmu". (HR Muslim).
Masih dalam rangkaian hadis itu Rasululloh SAW selanjutnya bersabda: "Demi Alloh, sesungguhnya bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kamu tetapi aku khawatir kalau terhampar luas rezeki di dunia ini sebagaimaan telah dilimpahkan rezeki kepada bangsa-bangsa sebelummu, kemudian kamu berlomba-lomba memperebutkan kemewahan dunia itu sebagaimana mereka berlomba. Maka binasalah kamu seperti umat-umat sebelummu mengalami kehancuran". (HR. Muslim, No: 2961).
Maksud dari kehancuran suatu umat karena tenggelam dalam sikap rakus dan tamak terhadap kemewahan duniawi, bisa dipahami dalam berbagai versi. Mereka bisa hancur oleh peperangan yang terjadi diantara mereka sendiri karena memperebutkan kemewahan itu. Bisa juga mereka terbuai oleh kemewahan dan kelezatan dunia sehingga mengabaikan tugasnya sebagai khalifah Alloh. Bisa juga mereka mengkhianati amanah suci yang dibebankan pada mereka karena sikap tamak dan rakus, sehingga mereka binasa.
Oleh: Suheri Mkd
Next News

Pir: Si Buah Rendah Profil yang Diam-Diam Jadi Pahlawan Usus Kita
15 hours ago

Si Hijau yang Sering Terasing: Kenapa Timun Adalah Kunci Biar Nggak Gampang Emosi Saat Cuaca Panas
15 hours ago

Tomat: Si Merah Penyelamat Mata Lelah dan Kulit Kusam di Tengah Gempuran Gadget
15 hours ago

Kelengkeng: Si Kecil Manis yang Bikin Saraf Gak Gampang Korslet
15 hours ago

Kurma: Si Kecil Pembangkit Tenaga yang Lebih Ampuh dari Janji Manis Mantan
15 hours ago

Leci: Si Kecil yang Jadi Penyelamat Saat Cuaca Lagi Gak Ngotak
15 hours ago

Lemon: Antara Tren Estetik Instagram dan Realita Detoks yang Sebenernya
15 hours ago

Blackberry: Senjata Rahasia Anti-Aging yang Sering Terlupakan
15 hours ago

Si Kecil Biru yang Bikin Otak Nggak Gampang Lemot: Rahasia di Balik Populeritas Blueberry
15 hours ago

Ceri: Si Mungil Penyelamat Buat Kamu yang Capek Meradang
15 hours ago





