MENILIK KONSEP PENDIDIKAN DAN ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF IBNU KHALDUN
PT. Assrof Media - Wednesday, 07 September 2022 | 11:49 AM



Pendidikan pada dasarnya adalah proses untuk menghasilkan sesuatu yang dapat mengarahkan kepada pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dan mempunyai disiplin tinggi.
Pendidikan bertujuan memberikan peluang untuk memiliki ilmu, dan berbagai keahlian. Di pihak lain pendidikan tidak boleh mengabaikan tugasnya untuk membangun diri pribadinya sebagai pemegang eksistensi manusia.
Namun seperti yang kita ketahui bahwa disintegrasi wawasan ilmu yang berkembang sekarang, pada dasarnya mengandung asumsi-asumsi yang bersifat sekuler. Oleh karena itu, jalan yang harus ditempuh adalah mengembalikan wawasan ilmu kepada kesatuan ilmu dan agama yang tak terpecah. Warisan yang kiranya patut diaplikasikan dalam dunia pendidikan masa kini adalah wawasan ilmu yang diutarakan Ibnu Khaldun.
Ibnu Khaldun adalah seorang tokoh besar dunia Islam. Beliau mempunyai nama lengkap Abdu al-Rahman ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn al-Hasan ibn Jabir ibn Muhammad ibn Ibrahim ibn Khalid ibn Usman ibn Hani ibn al-Khothob ibn Kuraib ibn Ma'dikarib ibn al-Harish ibn Wail ibn Hujr.
Beliau berhasil memberikan kontribusi yang begitu besar dalam dunia keilmuan yang ada di dunia, sehingga pemikir-pemikir barat mengakuinya sebagai pemikir muslim yang dikagumi pada masa itu. Ibnu Khaldun dipandang sebagai satu-satunya ilmuwan muslim yang kreatif menghidupkan khazanah intelektualisme Islam pada periode pertengahan.
Pemikiran Ibnu Khaldun sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari akar pemikiran Islam. Sebenarnya karya Ibnu Khaldun al-Muqaddimah, yang merupakan manifestasi pemikiran Ibnu Khaldun diilhami dari al-Qur'an sebagai sumber utama dan pertama dalam ajaran Islam. Ibnu Khaldun adalah pemikir yang teguh beriman dan berkomitmen terhadap ajaran agama. Ibnu Khaldun menganggap bahwasannya pendidikan merupakan hakikat dari eksistensi manusia. Beliau berpendapat bahwa pendidikan adalah upaya untuk memperoleh suatu kepandaian, pengertian dan kaedah-kaedah yang baru.
Pandangan Ibnu Khaldun tentang pendidikan berpijak pada konsep dan pendekatan filosofis-empiris. Melalui pendekatan ini, ia memberikan arahan terhadap visi tujuan pendidikan Islam secara ideal dan praktis. Adapun tujuan pendidikan Islam adalah mencari ridlo Alloh SWT.
Sedangkan tantangan pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah pendidikan dapat mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas yaitu melahirkan masyarakat yang berbudaya serta berusaha untuk melestarikan dan meningkatnya untuk eksistensi masyarakat selanjutnya dengan menghargai kebudayaan tersebut.
Ilmu dan pengajaran merupakan aktivitas sosial.Ilmu merupakan perolehan yang tidak cukup diperoleh dengan hafalan tetapi dengan pemahaman. Seseorang tidak bisa memperoleh ilmu dengan sekaligus, melainkan secara bertahap.
Oleh karena itu, belajar harus diarahkan pada pencapaian malakah semaksimal mungkin. Malakah memberi tekanan pada pembentukan diri yang utuh. Ibnu Khaldun menentang keras verbalisme dalam pendidikan. Menghafal pada hakikatnya membebani peserta didik sehingga mereka kurang sanggup mendapatkan malakah yang dibutuhkan.
Rumusan pendidikan yang dikemukakan Ibnu Khaldun ini merupakan hasil dari berbagai pengalaman yang dilaluinya sebagai seorang ahli filsafat dan sosiologi yang mencoba menghubungkan antara konsep dan realita.
Selain itu, kedalaman ilmu yang diterima oleh anak didik harus ditempuh secara berulang-ulang (tuntas). Para penuntut ilmu wajiblah kiranya membaca buku para tokoh sejarah Islam atau mengkaji maksud dari pemikiran-pemikirannya,untuk dijadikan referensi atau sebagai motivasi dalam segala sektor atau bidang apapun. Ahirnya jangan pernah kita berpikir bahwa mempelajari para toko sejarah, kita akan menjadi pemilik masa lalu, tapi mempelajarinya adalah sebagai pandangan atau motivasi kita dalam melangkah, bergerak yang positif dalam mengambil sebuah keputusan yang pasti dan meyakinkan. Wallohu a'lam.
Oleh: Dr. Saiful Bahri, M. Pd

Next News

Grebeg Maulud: Ritual Rebutan Berkah yang Bikin Jantung Mau Copot tapi Tetap Nagih
17 hours ago

Mencicipi Hangatnya Paskah di Indonesia: Dari Ritual Syahdu Sampai Perburuan Telur yang Chaos
17 hours ago

Mappacci: Bukan Sekadar Pakai Kutek, Tapi Ritual 'Deep Cleaning' Jiwa ala Bugis-Makassar
17 hours ago

Ngeri-Ngeri Sedap: Mengulik Debus, Warisan Jawara Banten yang Bikin Bulu Kuduk Berdiri
17 hours ago

Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa
17 hours ago

Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh
17 hours ago

Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita
17 hours ago

Mengenal Erau: Pesta Rakyat Kalimantan Timur yang Lebih dari Sekadar Hura-hura
17 hours ago

Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta
17 hours ago

Bukan Cuma Sekadar Pesta: Menyesap Magis di Semarak Festival Danau Toba
17 hours ago





