Peninggalan Adipati Raden Mas Tejo Kusumo
PT. Assrof Media - Friday, 05 August 2022 | 08:46 AM



Oleh: Khoiron Munib
Perbedan daerah akan menciptakan perbedaan karakter. Begitupun yang terjadi pada tempat-tempat ibadah. Selain nilai historinya yang berbeda, bentuk arsitektur bangunannya pun juga tidak sama. Di edisi kali ini, Majalah Assirojiyyah akan membahas masjid tertua di Lasem yang memiliki museum ala Minangkabau.
Masjid Jamik Lasem yang terletak di Jl. Iyang Sambu No. 01 merupakan masjid tertua kedua setelah Masjid Agung Demak. Pada bangunannya terdapat tulisan jawa kuno yang menunjukkan tahun berdirinya masjid. Ada yang membacanya 1300, 1400, 1600, namun yang lebih jelas 1580. Sehingga penduduk lebih meyakini kalau masjid ini berdiri pada tahun 1580 Masehi.
Selain menjadi tempat ibadah umat Islam, masjid ini juga menjadi pusat wisata religi di Lasem. Banyak peziarah yang berdatangan, baik dari dalam kota maupun luar kota. Karena di lingkungan Masjid Jamik Lasem terdapat beberapa makam ulama dan tokoh besar pejuang agama Islam di Lasem. Di antaranya adalah Makam Mbah Sambu, Mbah Srimpet, Mbah Maksum dan banyak lagi ulama lainnya.
Sejarah berdirinya Masjid Lasem sedikit banyak mempunyai keterkaitan dengan kota Lasem. Dulu di masa Raden Mas Tejo Kusumo, Lasem mempunyai pelabuhan yang besar, jadi banyak pemberontak-pemberontak yang menginginkan pelabuhan tersebut. Setelah pemberontakan berlangsung lama dan tak kunjung usai, akhirnya adipati pertama, Raden Mas Tejo Kusumo memanggil Sayyid Abdurrohman dari Tuban. Sesampainya di Lasem, pemberontakan tersebut berhenti tanpa ada pertumpahan darah. Beliau adalah wali negara atau guru agama Islam di Lasem yang didatangkan dari Tuban, beliau merupakan keturunan Sunan Koalang, Tuban.
Setelah kejadian itu, beliau dijadikan menantu oleh adipati dan terus menetap di Lasem. Berkat hubungan ini, akhirnya dibangunlah masjid oleh sang adipati, yakni Masjid Jamik Lasem. Oleh masyarakat, Sayyid Abdurrohman dipanggil juga sebagai Mbah Sambu. Yang sampai saat ini namanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan yaitu Jl. Iyang Sambu. Mbah Sambu meninggal di Lasem dan dimakam di sebelah utara masjid. Dari beliaulah terlahir ulama-ulama yang tersebar di Pulau Jawa.
Di dalam masjid tersebut, terdapat peninggalan benda bersejarah yaitu Mustaka Masjid, yang diyakini benda ini merupakan mustaka tertua di Rembang. Namun setelah dilakukan perenovasian, mustaka itu dipindah dan diamankan ke tempat khusus. Sedangkan mustaka yang ada sekarang hanyalah duplikasi agar tetap diingat oleh masyarakat.
Selain memiliki sejarah yang panjang, masjid ini juga memiliki museum yang menyerupai bangunan rumah adat Minangkabau. Museum yang memamerkan al-Quran dengan latar belakang jendela ini, termasuk bangunan baru. Bangunan ini sengaja didesain seperti ala Minangkabau, tujuannya untuk mengenang Sultan Mahmud Minangkabau yang tinggal di sini. Menurut cerita dari Ketua Takmir, Abdul Muid, makam Sultan Mahmud tersebar di tiga tempat yaitu di Lasem, di Padang dan di Makasar.
Masjid peninggalan adipati ini, sudah mengalami tiga kali renovasi. Adapun finansial yang dipakai untuk pengelolaan dan operasional masjid berasal dari kotak amal yang disediakan di di dalam masjid dan di pemakaman. Pendapatan tersebut dipakai untuk keperluan masjid dan makam, seperti haul, khataman dan acara-acara yang lain. "Di Masjid Jamik Lasem memang tidak ada masukan dari luar, tapi itu tidak jadi masalah. Karena kadang di kotak amal biasanya bisa mencapai dua puluh lima sampai tiga puluh juta setiap bulannya," ujar Ketua Takmir.
Kegiatan di masjid ini tidak jauh beda dengan masjid pada umumnya. Seperti acara haul setiap tahunnya, khataman, kajian kitab yang diselenggarakan setiap ba'da sholat fardu dan kegiatan-kegitan yang lain.
"Di sini juga ada kelompok Islam yang berbeda pendapat. Ada yang condong ke kanan dan ada yang condong kekiri, tapi kami tidak mempermasalahkan perbedaan ini. Hanya yang kami harapkan dari perbedaan ini agar kita sesama Islam bisa bersatu. Itu saja," harap Abdul Muid di akhir wawancaranya.

Next News

Grebeg Maulud: Ritual Rebutan Berkah yang Bikin Jantung Mau Copot tapi Tetap Nagih
18 hours ago

Mencicipi Hangatnya Paskah di Indonesia: Dari Ritual Syahdu Sampai Perburuan Telur yang Chaos
18 hours ago

Mappacci: Bukan Sekadar Pakai Kutek, Tapi Ritual 'Deep Cleaning' Jiwa ala Bugis-Makassar
18 hours ago

Ngeri-Ngeri Sedap: Mengulik Debus, Warisan Jawara Banten yang Bikin Bulu Kuduk Berdiri
18 hours ago

Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa
18 hours ago

Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh
18 hours ago

Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita
18 hours ago

Mengenal Erau: Pesta Rakyat Kalimantan Timur yang Lebih dari Sekadar Hura-hura
18 hours ago

Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta
18 hours ago

Bukan Cuma Sekadar Pesta: Menyesap Magis di Semarak Festival Danau Toba
18 hours ago





