SAFINA, MAULA ROSULULLOH SAW
PT. Assrof Media - Saturday, 10 December 2022 | 06:28 AM



Dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, terdapat sosok-sosok yang menjadi juru bantu dalam aktivitas rumah tangga beliau, baik sebagai anggota keluarga maupun pembantunya. Diantara beberapa orang yang pernah menjadi pengurus rumah mulia itu adalah Safina.
Safina adalah seorang budak wanita yang pernah mengabdikan dirinya pada keluarga Rosululloh. Ia membantu pekerjaan rumah dari menumbuk gandum, membuat roti, memasak, dan lain sebagainya. Meski berstatus budak, ia dianggap seperti keluarga sendiri. Karena itulah Safina bahagia dapat melayani Rosululloh dan keluarganya.
Pada awalnya, Safina merupakan budak dari Ummu Salamah, istri Rosululloh SAW. Kemudian ia dibebaskan menjadi insan merdeka. Meski berstatus merdeka, dirinya tetap mengabdi kepada keluarga Nabi. Ia terus bekerja sebagai pembantu di kediaman Nabi SAW. Bahkan meski telah dibebaskan statusnya oleh babi, Safina enggan dikenal oleh orang kecuali sebagai budaknya. Kemana pun Safinah pergi, ia dengan bangga selalu menyebut dirinya sebagai Maula Rosululloh (Budak Rosululloh).
Dijuluki sebagai Safinah
Safina lahir di tanah Arab dengan nama asli Qoys. Meski lahir di Arab akan tetapi nasab asalnya berasal dari Persia (Iran).
Dalam Kitab Mustadrak disampaikan; Safina menuturkan, nama asliku adalah Qoys kemudian Rosululloh menggantinya dengan Safina. Ada yang bertanya, mengapa Anda dinamai Safina (kapal)?. Beliau menceritakan, suatu hari Rosululloh bepergian bersama beberapa orang sahabatnya, mereka pun merasa keberatan membawa barang-barangnya, lalu beliau berkata kepadaku "bentangkanlah kainmu!", aku pun membentangkannya sesuai permintaan beliau. Beliau menaruh barang-barang tersebut di kainku itu, kemudian membawakannya kepadaku sambil bersabda "bawalah!. Sesungguhnya engkau adalah sebuah kapal." Lalu Safina mengatakan, "Sekarang, apabila aku memikul (barang bawaan) seekor unta, dua atau bahkan lima sampai enam ekor unta, aku tidak merasakan itu beban" . (HR. Hakim, hal. 3.701)
Kisah dengan Seekor Singa
Suatu ketika, Safina menuturkan, "Aku menaiki sebuah perahu, tak kusangka perahu itu tiba-tiba pecah". Dalam kondisi demikian, Safina berupaya menyelamatkan diri. Dengan susah payah dirinya mengambang di atas lautan dengan mengandalkan sebidang papan, pecahan bekas perahu tersebut. Untuk beberapa lama, ia terombang-ambing dipermainkan ombak. Lantas, angin kencang semakin menghempaskannya. "Akhirnya aku terseret hingga ke sebuah pulau. Dengan sisa-sisa kekuatan dalam diriku, aku berjalan menyusuri pulau tersebut, hingga sampailah ke kawasan belantara", tuturnya. Safina merasa aman berada di dalam hutan. Ia tak lagi terombang-ambing di lautan. Ia terus menelusuri hutan itu mencari jalan keluar. Berharap ada sebuah kampung di balik hutan belantara yang lebat itu. Namun Safina terus berjalan dan berjalan. Ia tersesat tak menemukan jalan keluar. Tanpa disadari, seekor singa sedari tadi mulai membuntutinya. Saat berbalik, Safina terkejut bukan kepalang. Hewan liar itu bergaung kencang, kemudian perlahan mendekatinya.
Baca juga
Bersama Gubernur Jawa Timur, Tim SANGGUP Assirojiyyah Lestarikan Alam
Safina berusaha tetap tenang. Singa itu terus berputar-putar di dekatnya. Maka Safina mengatakan kepadanya, "Wahai Abu Haris (sebutan singa dalam bahasa Arab), aku ini bekas pembantunya Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam", katanya mengenang. Setelah Safina mengucapkan kalimat itu, singa tersebut tampak lebih jinak. Hewan tersebut tidak lagi menunjukkan taringnya. Dia mendekatiku lalu mendorong-dorongku dengan bahunya, seolah-olah menuntunku hingga ke luar hutan. Aku diantarkan sampai ke pinggir jalan. Setelah itu, singa tersebut bergaung seperti mengucapkan selamat tinggal.
Wafatnya Sang Maula
Safina berpulang ke rahmatullah pada masa pemerintahan Hajjaj bin Yusuf. Tidak hanya masyhur karena kekuatan fisiknya yang bisa mengangkut beban lebih dari orang biasa. Sahabat Safina juga meriwayatkan sejumlah hadis dari Rosululloh SAW. Semoga Alloh meridai dan merahmati sahabat Nabi shollallohu alaihi wa sallam yang mulia ini.
Oleh: Faza Tamamy
Next News

Grebeg Maulud: Ritual Rebutan Berkah yang Bikin Jantung Mau Copot tapi Tetap Nagih
17 hours ago

Mencicipi Hangatnya Paskah di Indonesia: Dari Ritual Syahdu Sampai Perburuan Telur yang Chaos
17 hours ago

Mappacci: Bukan Sekadar Pakai Kutek, Tapi Ritual 'Deep Cleaning' Jiwa ala Bugis-Makassar
17 hours ago

Ngeri-Ngeri Sedap: Mengulik Debus, Warisan Jawara Banten yang Bikin Bulu Kuduk Berdiri
17 hours ago

Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa
17 hours ago

Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh
17 hours ago

Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita
17 hours ago

Mengenal Erau: Pesta Rakyat Kalimantan Timur yang Lebih dari Sekadar Hura-hura
17 hours ago

Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta
17 hours ago

Bukan Cuma Sekadar Pesta: Menyesap Magis di Semarak Festival Danau Toba
17 hours ago





