Lima Peluang Emas: Meraih Keberhasilan Sebelum Keterbatasan Tiba
PT. Assrof Media - Friday, 15 May 2026 | 03:06 AM


Dalam hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat, terdapat dua kemungkinan hasil: sukses dan gagal. Keduanya memiliki kaitan yang sangat erat dengan kemampuan mengatur waktu dan memanfaatkan peluang. Jika seseorang mampu mengatur waktu dengan baik, maka kegagalan akan sulit menghampiri.
Oleh karena itu, waktu sangatlah berharga, bahkan lebih mahal dari emas dan permata. Sangat disayangkan jika waktu disia-siakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Kesalahan dalam mengatur waktu dapat berakibat kerugian besar di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika berhasil mengelolanya dengan baik, insyaAlloh akan meraih keberhasilan dalam kehidupan dunia yang singkat ini dan juga kehidupan akhirat yang kekal abadi.
Setiap detik waktu yang telah dilewati mustahil dapat diulangi kembali. Waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah dapat diganti atau dilalui lagi. Itulah sistem dan hukum Alloh SWT (sunatullah) yang berlaku dalam kehidupan dunia.
Kesempatan kemarin, ataupun kesempatan saat ini, tidak bisa diputar ulang (replay) untuk dilalui kembali. Sebab, waktu hanyalah sekadar hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun yang terus berjalan, seperti usia yang terus mendekati masa tua yang kemudian diikuti oleh kematian.
Satu-satunya hal yang mungkin bisa dilakukan adalah bagaimana memanfaatkan waktu yang masih ada untuk meraih kesuksesan. Dalam catatan orang sukses, waktu pasti dibaca sebagai peluang yang harus dimanfaatkan. Tentunya peluang hidup bukan hanya sekadar bagaimana mendapat keuntungan duniawi, tetapi harus juga mengarah pada ukhrawi (kehidupan akhirat).
Setidaknya ada lima peluang yang harus dijadikan tolak ukur dalam kehidupan yang mengarah pada sukses dunia-akhirat. Penulis memberikan arahan agar memanfaatkan lima peluang sebelum datangnya lima hal lain: Masa muda sebelum masa tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sibuk, hidup sebelum mati.
Kita sebagai santri harus memaksimalkan waktu kita untuk belajar (mutala'ah) agar ketika kita boyong (lulus dari pesantren), kita tidak pulang dengan tangan kosong (tidak mempunyai ilmu), tetapi pulang dengan membawa ilmu yang berkah dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Next News

Dzul Qa'dah: Bulan 'Kejepit' yang Sering Terlupakan, Padahal Pas Banget Buat Healing Spiritual
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Bulan Kalem yang Sering Dilupakan, Padahal Penuh "Privilege" dan Pantangan Gak Main-Main
a month ago

Nungguin Lebaran Haji Jangan Cuma Pas Motong Kambing, Yuk Pemanasan Spiritual dari Bulan Dzul Qa'dah!
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Bulan 'Kalem' yang Sering Terlupakan, Padahal Penuh Makna
a month ago

Mengenal Dzul Qa'dah: Si Bulan 'Tenang' yang Ternyata Punya Kedudukan Spesial
a month ago

Dzul Qa'dah: Si "Bulan Gabut" yang Ternyata Punya Makna Mendalam
a month ago

Menemukan Makna di Balik Sunyinya Dzul Qa'dah: Bukan Sekadar Bulan Kejepit
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Anak Tengah yang Sering Kelupaan Padahal Punya Vibes Sultan
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Bulan 'Kalem' yang Ternyata Punya Privilese Jalur Langit
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Bulan 'Antara' yang Sering Terlupakan, Padahal Pahalanya Gede Banget!
a month ago
