Misteri Batu Kapur dan Semerbak Harum
PT. Assrof Media - Thursday, 30 November 2023 | 08:11 AM


Mendengar nama Sidoarjo, mungkin yang terlintas dalam pikiran adalah kota lumpur panas lapindo. Sidoarjo selain dikenal sebagai Kota Delta dan Kota Udang, kota ini juga dikenal dengan sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa. Buktinya di kota ini ditemukan beberapa masjid bersejarah yang berusia ratusan tahun, di antaranya ialah Masjid Jami' al-Abror Kauman, Sidoarjo.
Di jantung Kota Sidoarjo, berdiri megah sebuah masjid di antara pusat perbelanjaan dan perkampungan padat penduduk. Masjid yang diberi nama Masjid al-Abror menjadi tonggak sejarah sekaligus cikal-bakal penyebaran agama Islam di Sidoarjo. Bagi siapapun yang pertama kali melihat Masjid Jami' al-Abror, pasti mengira bila masjid ini merupakan masjid baru. Maklum saja, bentuknya megah, warnanya juga cerah dengan perpaduan warna hijau dan kuning. Padahal, masjid ini merupakan masjid tertua di Sidoarjo. Menurut dokumen sejarah yang ditulis tahun 2017, masjid ini berdiri sekitar tahun 1678 M oleh para ulama yaitu Mbah Mulyadi yang berasal dari Mataram, putra dari Mbah Muso dan Mbah Badriyah yang berasal dari Madura dan Mbah Sayyid Salim yang berasal dari Cirebon.
Mbah Mulyadi selaku pendiri masjid merupakan seorang ulama yang hijrah dari Mataram, karena pada masa itu Kerajaan Mataram diperintah oleh Raja Amangkurat I, raja tirani yang memusuhi para ulama dan rakyatnya. Lalu, setelah Mbah Mulyadi menetap di Dusun Sungon, Desa Suko, Sidoarjo beliau berkeinginan untuk mendirikan masjid dan pada waktu itu ada sebidang tanah di sebelah selatan pasar. Beliau mulai memasang batu bata dan seterusnya hingga masjid tersebut selesai dibangun dengan bentuk masjid yang sangat sederhana. Dengan bangunan sederhana itu, Mbah Mulyadi mulai menyebarkan ajaran Islam kepada warga sekitar.
Baca Juga :
Masjid yang terletak di Kota Udang tersebut tepatnya di Jl. Kauman, Pagerwojo, Pekauman Sidoarjo rupanya sudah berumur 344 tahun. Sebelum direnovasi terakhir kalinya, masjid ini memiliki struktur bangunan ciri khas perpaduan aritektur tradisional Jawa dan Timur Tengah, yang kala itu Sidoarjo masih bernama Sidokare, diperintah oleh Bupati Raden Notopuro (Tjokronegoro). Pada saat itu bangunan yang tidak direnovasi hanya pintu gerbang berwarna putih di sisi utara masjid. Dan petunjuk waktu pertanda salat menggunakan sinar matahari yang berada di depan masjid (pincret).
Kini setelah direnovasi berkali-kali bentuk dan struktur bangunan masjid berubah total 95 % mulai dari arsitektur, bentuk dan warna bangunan dan hanya menyisakan pintu gapuro yang terletak di sebelah utara bangunan masjid ini. Ada beberapa keistimewaan ketika masjid ini direnovasi yaitu saat Masjid Jami' al-Abror ini dibongkar, keluarlah bau harum tersebar kemana-mana, juga kemudahan dalam pengumpulan dana dari masyarakat .
Saat renovasi terakhir tahun 2007 yaitu pada masa kepemimpinan Win Hendarso, Bupati Sidoarjo ditemukan sebuah batu bata kapur besar yang masih utuh berwarna putih di tempat pengimaman. Batu berwarna putih itu ternyata telah berumur 6 abad dan sekilas ada kaitannya dengan batu bata yang berasal dari pesisir utara pulau Jawa bagian timur.
Sisa peninggalan yang masih tersisa adalah 3 bangunan asli yang menjadi bukti sejarah, yaitu sumur, pintu gerbang masjid dan makam para pendiri masjid yang berada di bagian paling belakang. Masjid berusia ratusan tahun tersebut, masih menggunakan sumur yang dibuat oleh Mbah Mulyadi yang sampai sekarang alirannya masih deras dan biasa digunakan untuk minum, mandi dan berwudhu. Selain itu, terdapat sebuah pintu gapuro bercungkup mahkota yang letaknya berada di sebelah utara bangunan masjid. Pintu gapuro tersebut hampir mirip dengan pintu gapuro yang ada di masjid peninggalan Maulana Malik Ibrahim.
Kini, masjid yang sudah menjadi situs budaya tersebut dikelola oleh masyarakat dan dijadikan sebagai pusat kegiatan keagamaan antara lain; kegiatan salat jemaah lima waktu, pengajian kitab kuning dan kegiatan sekolah Madrasah Diniyah Awaliyah bagi anak-anak.
Oleh: Wasiur Rohman Madani
Next News

Grebeg Maulud: Ritual Rebutan Berkah yang Bikin Jantung Mau Copot tapi Tetap Nagih
18 hours ago

Mencicipi Hangatnya Paskah di Indonesia: Dari Ritual Syahdu Sampai Perburuan Telur yang Chaos
18 hours ago

Mappacci: Bukan Sekadar Pakai Kutek, Tapi Ritual 'Deep Cleaning' Jiwa ala Bugis-Makassar
18 hours ago

Ngeri-Ngeri Sedap: Mengulik Debus, Warisan Jawara Banten yang Bikin Bulu Kuduk Berdiri
18 hours ago

Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa
18 hours ago

Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh
18 hours ago

Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita
18 hours ago

Mengenal Erau: Pesta Rakyat Kalimantan Timur yang Lebih dari Sekadar Hura-hura
18 hours ago

Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta
18 hours ago

Bukan Cuma Sekadar Pesta: Menyesap Magis di Semarak Festival Danau Toba
18 hours ago





