Kamis, 9 April 2026
Assirojiyah.online
KPPA

Kenapa Percuma Pintar Kalau Kelakuan Minus? Menakar Pentingnya Adab Sebelum Ilmu

PT. Assrof Media - Thursday, 09 April 2026 | 12:00 PM

Background
Kenapa Percuma Pintar Kalau Kelakuan Minus? Menakar Pentingnya Adab Sebelum Ilmu
Kenapa Percuma Pintar Kalau Kelakuan Minus? Menakar Pentingnya Adab Sebelum Ilmu (istimewa/)

Kenapa Percuma Pintar Kalau Kelakuan Minus? Menakar Pentingnya Adab Sebelum Ilmu

Pernah nggak sih lo lagi asyik scrolling media sosial, terus nemu orang yang argumennya sebenernya pinter banget, tapi cara nyampeinnya bikin lo pengen banting HP? Atau mungkin lo punya temen yang gelarnya deretan panjang kayak gerbong kereta, tapi kalau ngomong sama pelayan kafe ketusnya minta ampun? Kalau iya, selamat, lo baru saja menyaksikan sebuah fenomena nyata tentang krisis "adab" di tengah gempuran "ilmu".

Di zaman sekarang, cari ilmu itu gampang banget. Tinggal buka YouTube, dengerin podcast, atau tanya ChatGPT, semua informasi ada di ujung jari. Kita bisa jadi ahli dalam semalam cuma modal baca thread di Twitter. Tapi, ada satu hal yang nggak bisa di-download lewat App Store atau dipelajari secara instan lewat kursus kilat: adab. Inilah yang bikin pepatah lama "Adab sebelum Ilmu" tetep relevan, bahkan makin krusial buat kita yang hidup di tengah bisingnya dunia digital.

Ilmu Itu Pisau, Adab Itu Pegangannya

Bayangin ilmu itu kayak pisau yang tajam banget. Kalau pisau itu dipegang sama orang yang nggak punya etika, yang ada malah melukai orang lain atau bahkan dirinya sendiri. Orang pinter tanpa adab itu ibarat hacker yang jago tapi cuma buat nipu tabungan orang tua. Ngeri, kan?

Adab itu sebenernya "operating system" kita sebagai manusia. Sebelum lo masukin berbagai "software" canggih berupa ilmu pengetahuan, algoritma, atau teori ekonomi, OS-nya harus stabil dulu. Kalau OS-nya udah korup atau penuh bug (alias kelakuannya minus), software secanggih apa pun nggak bakal berjalan dengan bener. Yang ada malah bikin sistemnya crash atau malah ngerusak perangkat orang lain.

Ada sebuah ungkapan dari ulama besar terdahulu yang bilang, "Aku belajar adab selama tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu selama dua puluh tahun." Gila nggak tuh? Belajar tata krama doang butuh waktu lebih lama daripada belajar materinya. Kenapa? Karena membentuk karakter itu jauh lebih susah daripada menghafal rumus fisika atau bahasa pemrograman.

Sindrom "Pinter Tapi Nyebelin"

Kita sering banget terjebak dalam pola pikir kalau nilai bagus di sekolah atau IPK tinggi di kampus adalah segalanya. Kita dipaksa buat kompetitif, ngejar prestasi, sampai lupa gimana caranya jadi manusia yang memanusiakan manusia. Akhirnya muncullah sosok-sosok yang pinter secara intelektual tapi "cacat" secara emosional.

Orang-orang kayak gini biasanya ngerasa punya hak buat merendahkan orang lain yang dianggap nggak selevel sama mereka. Mereka hobi "nyemprot" orang di kolom komentar dengan istilah-istilah tinggi, padahal intinya cuma pengen flexing kepintaran. Padahal ya, makin tinggi ilmu seseorang, harusnya dia makin sadar kalau di atas langit masih ada langit. Kayak filosofi padi, makin berisi makin merunduk. Bukannya makin berisi malah makin pengen nyolok mata orang.

Tanpa adab, ilmu cuma jadi alat buat memuaskan ego. Kita belajar bukan buat menebar manfaat, tapi buat jadi "senjata" buat debat kusir yang nggak ada ujungnya. Alhasil, bukannya dapet respek, orang-orang justru malah males berurusan sama kita. Pintar itu keren, tapi jadi orang yang asyik dan sopan itu jauh lebih langka dan berharga.

Dunia Digital dan Matinya Etiket

Masalah adab ini makin kerasa sejak dunia pindah ke layar smartphone. Sekarang, orang berani ngomong apa aja tanpa mikirin perasaan lawan bicaranya karena ngerasa "aman" di balik layar. Jempol sering kali lebih cepet geraknya daripada kerja otak. Kita bisa dengan mudah ngatain ahli, menghujat guru, atau ngeremehin pendapat orang lain cuma karena kita ngerasa udah baca satu artikel di internet.

Inilah kenapa adab sebelum ilmu itu jadi filter yang paling ampuh. Adab ngajarin kita kapan harus bicara dan kapan harus diem. Adab ngajarin kita cara menyampaikan kritik tanpa harus mempermalukan. Di dunia yang serba berisik ini, kemampuan buat dengerin orang lain dan menghargai perbedaan pendapat itu adalah bentuk adab yang paling tinggi. Jangan sampai kita jadi sarjana yang tahu segalanya tapi nggak tahu cara bilang "permisi" atau "terima kasih".

Kenapa Barakah Itu Penting?

Mungkin terdengar agak religius atau tradisional, tapi konsep "barakah" atau keberkahan ilmu itu nyata banget. Ilmu yang berkah itu ilmu yang nggak cuma berhenti di otak, tapi turun ke hati dan mewujud dalam perilaku. Ilmu yang bikin hidup lo dan orang di sekitar lo jadi lebih baik.

Gimana caranya dapet keberkahan itu? Ya lewat adab kepada sumber ilmunya. Baik itu guru, dosen, mentor, atau bahkan buku yang kita baca. Kalau kita aja nggak punya rasa hormat sama yang ngasih ilmu, gimana ilmu itu bisa meresap dan bermanfaat? Hubungan antara murid dan guru itu bukan cuma transaksi jual-beli jasa, tapi ada ikatan rasa yang kalau rusak, ilmunya cuma bakal jadi beban di kepala.

Mulailah Jadi Manusia Dulu

Kesimpulannya, nggak ada yang salah dengan jadi orang jenius. Dunia butuh orang pinter buat nyiptain vaksin, ngerancang kota yang ramah lingkungan, atau nemuin teknologi baru. Tapi dunia jauh lebih butuh orang pinter yang punya hati nurani.

Adab itu bukan soal jadi kaku atau kolot. Adab itu soal empati. Soal tahu tempat. Soal gimana kita menempatkan diri di depan orang yang lebih tua, teman sebaya, atau mereka yang secara strata sosial ada di bawah kita. Adab adalah tentang integritas diri.

Jadi, buat lo yang sekarang lagi semangat-semangatnya belajar, entah itu lagi lanjut S2, ikut bootcamp coding, atau lagi belajar investasi saham, jangan lupa buat tetep "upgrade" adab lo juga. Jangan biarkan otak lo makin penuh tapi hati lo makin kosong. Karena pada akhirnya, orang nggak bakal inget seberapa tinggi nilai lo, tapi mereka bakal inget gimana cara lo memperlakukan mereka.

Mari kita sepakat: pinter itu wajib, tapi beradab itu mutlak. Jangan sampai kita jadi orang yang punya segalanya, tapi kehilangan esensi paling mendasar sebagai manusia. Yuk, belajar jadi manusia dulu, baru jadi ahli.