BERMULA DARI RASA TANGGUNG JAWAB

Spread the love

Oleh: Yasidul Bustomi

Memimpin suatu lembaga keagamaan merupakan sebuah perjalanan spritual yang penuh tantangan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan mendalam tentang ajaran agama, tetapi juga harus mempunyai kemampuan mengispirasi dan membimbing umat. Kesiapan untuk menghadapi dinamika sosial, perubahan zaman, dan berbagai persoalan umat menjadi kunci keberhasilan dalam menjalankan tugas mulia ini. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi pendiri awal sebuah lembaga pendidikan agama yang akan kami wartakan, yakni Madrasah Ibtidaiyah (MID) Raudlatul Ulum, Kmp. Pibetes, Ds. Tlagah, Kab. Bangkalan.

Sejarah Madrasah

Madrasah Ibtidaiyah (MID) Raudlatul Ulum merupakan madrasah yang resmi didirikan pada tahun 1985 M oleh Ustaz Nasuki dan Ustaz Sarweni. Asal muasal berdirinya lembaga tersebut berawal dari dawuh KH. Abdullah Aschal melewati Aba Hasan, kakek dari Ustaz Nasuki yang berharap di Kampung Pibetes, Desa Tlagah untuk didirikan sebuah madrasah dan dawuh tersebut tertuju pada Ustaz. Nasuki dan Ustaz. Sarweni yang merupakan sesepuh daerah tersebut.

Namun, dengan keadaan mereka berdua yang terbilang masih sangat muda dan merasa sangat tidak siap menerima amanah tersebut. Lalu mereka berdua pergi sowan pada KH. Abdullah Aschal dan menghaturkan hal yang menjadi beban di benak mereka. Maka beliau berdawuh “Ampon taknapah, keng nganiserren nak kanak se bedeh.” “Sudah tidak apa-apa, kasihan anak-anak yang ada di sana (red).”

Hari demi hari berlalu, namun benak yang ada pada mereka berdua tak kunjung hilang. lalu mereka berdua sowan kembali kepada KH. Abdullah Aschal. Namun beliau justru memperkuat dawuhnya “Ampon, ekissah wejib abangun madrasah!” “Sudah, di sana wajib mendirikan madrasah! (red).”

Setelah kejadian tersebut, mereka berdua pergi sowan kepada gurunya KH. Busiri Nawawi yang dikenal dengan panggilan Al-Muallim dan menghaturkan dawuh KH. Abdulah kepada beliau. Kemudian dawuh Al-Muallim “Iyeh, bismillah deddih.” “Iya, Bismillah jadi.” Yang mana dawuh tersebut diulang-ulang oleh beliau pada mereka berdua.

Pada pertengahan tahun 1984 M, pembanguna MID. Raudlatul Ulum mulai dikerjakan oleh mereka berdua, dimulai dari membersihkan lahan dan mebakar batu, karena biaya pembangunan pada waktu itu masih belum ada dan masih dalam pencarian donasi. Seiring berjalannya waktu biaya hasil donasi mulai terkumpul sedikit demi sedikit. Biaya pembangunan Madrasah selain didapat dari hasil donasi, juga di dapat dari hasil penjualan foto KH. As’ad Samsul Arifin, Situbondo yang dulunya foto tersebut hanya berharga Rp500,00. Dengan bantuan dari masyarajat sekitar, ahirnya pada tahun 1985 M pembangunan Madrasah selesai dibangun dengan bentuk gedung empat kelas yang ditempuh sekitar enam bulan.

Pada awal dirintisnya madrasah, jumlah santri hanya sekitar 25 orang. Dengan kelas yang berjumlah 4 ruangan. Ke semuanya dipimpin langsung oleh Ustaz Nasuki dan Ustaz Sarweni dalam pengajaran.

Operasional Madrasah

Madrasah Roudlatul Ulum untuk saat ini memiliki jumah santri yang berjumlah 150 orang. dan tenaga pengajar yang awalnya hanya mereka berdua, pada saat ini dibantu oleh beberapa keluarganya dan dua Guru Tugas dari PP. Assirojiyyah, Kajuk. Mid. Raudlatul ulum telah melakukan renovasi untuk ketiga kalinya, yang sekarang Mid tersebut memiliki 7 ruangan, 6 diantaranya difungsikan ruang belajar mengajar, dan 1 ruangan dijadikan kamar Guru Tugas.

Madrasah ini memilki tiga jenjang pendidikan: Sifir, yang sekarang sudah memakai metode Qiroati, dimulai dari pukul 12:30-02:00 WIB. Kedua ibtidaiyah, dan ketiga senawi, yang keduanya memiliki waktu yang sama, yaitu dari pukul 02:00-04:00 WIB. Untuk biaya operasional diambil dari uang bulanan para santri sebesar Rp15.000,00 /Bulan.

Adapun kurikulum yang dipakai hingga sekarang masih kokoh dengan sistem salaf yang berkutat pada penanaman akidah dan fikih. Harapan beliau dengan adanya madrasah ini, bisa memajukan pendidikan agama dan mencatak murid-murid yang takwallah.