PERJALANAN DAN TRAGEDI MADURA DI SAMBAS

Spread the love

Kedatangan komunitas Madura ke Kalimantan Barat dimulai secara bertahap sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Gelombang awal migrasi ini didominasi oleh pekerja kuli kontrak dalam jumlah yang kecil untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di perkebunan dan pembukaan hutan.

Migrasi kemudian kembali meningkat pada tahun 1930-an seiring dengan tersedianya lebih banyak lapangan pekerjaan. Peningkatan signifikan terjadi setelah tahun 1970-an, di mana migrasi terjadi dalam jumlah yang lebih besar, didukung oleh program pemerintah dan inisiatif individu untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Contoh spesifik kedatangan adalah pada tahun 1955 ketika beberapa tokoh, seperti K.H. Abdus Samad dan K.H. Yasir, tiba di Pontianak untuk mencari pekerjaan.

Meskipun kedatangan mereka pada awalnya untuk mencari penghidupan, sejarah komunitas Madura di Kalimantan Barat juga diwarnai oleh tragedi, yang puncaknya adalah Konflik Sambas tahun 1999. Konflik ini bermula dari perkelahian antar warga dari suku yang berbeda, namun dengan cepat meluas menjadi konflik antaretnis antara suku Melayu dan Madura di wilayah Sambas.

Dampaknya sangat parah, berujung pada kekerasan, pembakaran, dan pengungsian warga Madura, yang pada akhirnya menyebabkan sebagian masyarakat di wilayah tersebut tidak lagi menerima kedatangan mereka.

Walaupun secara geografis berbeda, sejarah konflik ini sering dikaitkan dengan Konflik Sampit di Kalimantan Tengah karena adanya akar masalah yang serupa, yakni perbedaan budaya dan persaingan sumber daya.

Pasca-konflik, terjadi perubahan signifikan dalam distribusi dan mata pencaharian komunitas Madura. Banyak warga yang mengungsi kemudian pindah ke daerah lain yang relatif lebih aman dan stabil, seperti Pontianak dan Kubu Raya, untuk memulai hidup baru dan mencari penghidupan di berbagai sektor ekonomi.

Dalam perkembangannya, berbagai usaha perbaikan hubungan antar etnis terus dilakukan. Inisiatif ini bertujuan untuk meredakan ketegangan yang timbul dari konflik tersebut dan menciptakan lingkungan sosial yang lebih damai dan harmonis bagi semua kelompok etnis yang tinggal di Kalimantan Barat.

Oleh: Suheri Al-Aliy

Leave a Reply