21. Legenda Si Lancang: Anak yang Lupa Asal Usul
PT. Assrof Media - Wednesday, 15 April 2026 | 12:00 AM


Legenda Si Lancang: Kisah Klasik Tentang Anak yang Lupa Daratan dan Flexing yang Berujung Maut
Pernah nggak sih kalian merasa kalau fenomena "kacang lupa kulitnya" itu cuma ada di zaman sekarang gara-gara media sosial? Di mana orang-orang mendadak jadi 'sultan' di perantauan, lalu pura-pura nggak kenal sama temen lama atau bahkan malu mengakui keluarganya sendiri yang masih hidup sederhana? Ternyata, tren durhaka dan gengsi selangit ini sudah ada sejak zaman baheula. Kalau di Sumatra Barat kita punya Malin Kundang, di Riau ada "saudaranya" yang nggak kalah fenomenal: Si Lancang.
Kisah Si Lancang ini bukan sekadar dongeng sebelum tidur yang tujuannya nakut-nakutin anak kecil supaya nggak nakal. Ini adalah narasi tentang ambisi, kerja keras yang salah arah, dan bagaimana harta bisa dengan mudahnya menghapus memori masa lalu seseorang. Mari kita bedah pelan-pelan kenapa kisah dari bumi Lancang Kuning ini tetap relate sampai sekarang.
Dari Hidup Kere Sampai Jadi Miliarder
Dahulu kala, di daerah Kampar, hiduplah seorang pemuda bernama Lancang bersama ibunya yang sudah tua dan janda. Hidup mereka itu bener-bener definisi "makan pagi buat pagi, makan sore belum tentu ada". Mereka cuma buruh tani yang mengerjakan lahan orang lain. Lancang, yang mungkin saat itu lagi merasa 'madesu' alias masa depan suram, akhirnya punya tekad buat mengubah nasib. Dia nggak mau selamanya jadi orang susah yang dipandang sebelah mata.
Lancang pun izin ke ibunya buat merantau. Dengan berat hati dan modal doa yang tulus, ibunya melepas si anak semata wayang. Di perantauan, Lancang ternyata bukan tipe orang yang malas-malasan. Dia kerja keras bagai kuda. Dari yang awalnya cuma jadi anak buah kapal, dia pelan-pelan belajar dagang, nabung, sampai akhirnya punya kapal dagang sendiri. Nggak cuma satu, tapi tujuh kapal! Bayangkan, di zaman itu, punya tujuh kapal dagang itu sudah selevel punya jet pribadi atau koleksi mobil mewah di garasi.
Sayangnya, seiring dengan bertambahnya saldo di rekening (kalau zaman dulu mungkin peti emas), sikap Lancang pun berubah. Dia jadi pribadi yang sombong, arogan, dan mulai memoles citranya sedemikian rupa supaya terlihat seperti keturunan bangsawan. Dia punya beberapa istri yang cantik-cantik dan berasal dari keluarga terpandang. Masalahnya, Lancang berbohong kepada mereka semua tentang asal-usulnya. Dia bilang kalau dia adalah yatim piatu yang lahir dari keluarga kaya raya.
Momen Kepulangan yang Berantakan
Suatu hari, Lancang memutuskan untuk pulang kampung dengan armada kapalnya yang megah. Tujuannya sebenarnya bukan buat sungkem ke ibunya, tapi lebih ke pamer alias flexing kesuksesan. Berita tentang datangnya kapal-kapal mewah itu langsung bikin heboh seantero kampung. Ibunya, yang mendengar kabar bahwa anaknya pulang, tentu saja kegirangan setengah mati. Dengan baju yang compang-camping dan tubuh yang sudah renta, si ibu berlari ke dermaga. Dia nggak peduli kalau dia terlihat lusuh, yang dia tahu cuma anak kesayangannya sudah kembali.
Begitu sampai di dermaga, si ibu mencoba naik ke kapal megah itu. Namun, apa yang terjadi? Bukannya disambut dengan pelukan hangat atau setidaknya jabat tangan, Lancang justru merasa malu luar biasa. Di depan istri-istrinya yang cantik dan para anak buahnya, Lancang merasa harga dirinya jatuh karena punya ibu yang terlihat seperti pengemis.
"Siapa perempuan tua bangka ini? Berani-beraninya dia mengaku sebagai ibuku!" teriak Lancang dengan nada kasar. Dia bahkan menyuruh anak buahnya untuk mengusir ibunya sendiri. Si ibu yang hatinya hancur berkeping-keping itu terus memanggil nama Lancang, mencoba mengingatkan tentang masa-masa sulit mereka dulu. Tapi Lancang sudah buta hati. Dia tetap pada pendiriannya: tidak mengenal perempuan itu.
Hukum Alam dan Kekuatan Doa Ibu
Kita semua tahu, dalam cerita rakyat Nusantara, doa orang yang terzalimi—apalagi seorang ibu—itu punya kekuatan 'magic' yang nggak main-main. Sambil menangis tersedu-sedu dan pulang ke gubuknya, sang ibu mengambil sebuah lesung dan nyiru. Dia memutar-mutar lesung itu sambil berdoa kepada Tuhan agar memberikan pelajaran kepada anaknya yang sudah lupa asal-usul.
Nggak butuh waktu lama buat alam merespons. Langit yang tadinya cerah mendadak jadi hitam pekat. Petir menyambar-nyambar, dan badai besar langsung menghantam kapal-kapal Lancang yang sedang bersandar. Kapal-kapal itu hancur berkeping-keping. Konon, barang-barang dari kapal Lancang terlempar ke berbagai tempat dan berubah menjadi nama-nama daerah di Riau. Ada yang bilang kain suteranya terbang dan menjadi daerah bernama Gunung Silancat, sementara bagian kapalnya ada yang menjadi sebuah bukit.
Lancang sendiri? Dia hilang ditelan ombak bersama semua harta dan kesombongannya. Hidupnya berakhir tragis tepat di depan mata ibunya sendiri yang sebenarnya masih sangat menyayanginya.
Pelajaran Buat Kita Semua
Kisah Si Lancang ini sebenarnya adalah tamparan keras buat kita yang seringkali terjebak dalam lifestyle atau tuntutan sosial sampai harus menutupi jati diri. Di dunia modern, kita sering melihat orang yang memaksakan diri tampil mewah di media sosial demi pengakuan, tapi di balik itu mereka mengabaikan orang-orang yang tulus mendukung mereka dari nol.
Kita boleh saja sukses, boleh saja punya ambisi setinggi langit, tapi jangan pernah lupakan "akar". Sejauh apa pun kapal kita berlayar, daratan tempat kita berangkat adalah identitas yang nggak akan pernah bisa dihapus. Jangan sampai kita jadi "Lancang-Lancang" modern yang lebih menghargai validasi orang asing daripada cinta kasih orang tua sendiri.
Jadi, buat kalian yang lagi berjuang di perantauan atau lagi meniti karier di kota besar, ingatlah kalau kesuksesan sejati itu bukan cuma soal seberapa banyak harta yang kita punya, tapi seberapa mampu kita tetap membumi meskipun sudah berada di atas awan. Jangan sampai "kualat" jadi penutup cerita hidup kita, ya!
Next News

Mengenal Semeru: Lebih dari Sekadar Tempat "Healing" dan Film 5 CM
8 hours ago

Menelusuri Jejak Air Mata dan Berlian di Telaga Warna Dieng: Antara Mitos Magis dan Logika Belerang
8 hours ago

Menelusuri Jejak Telur Naga: Mengapa Raja Ampat Bukan Sekadar Surga Snorkeling
8 hours ago

Menelusuri Jejak Air Mata dan Berlian di Telaga Warna Dieng: Antara Mitos Magis dan Logika Belerang
8 hours ago

Mengenal Semeru: Lebih dari Sekadar Tempat "Healing" dan Film 5 CM
8 hours ago

Lombok Bukan Cuma Gili Trawangan: Menyelami Tragedi dan Cinta di Balik Tradisi Bau Nyale
8 hours ago

Asal-Usul Gunung Krakatau: Sang Legenda yang Pernah 'Menghapus' Langit Dunia
8 hours ago

Barong vs Rangda: Drama Abadi Bali yang Lebih Deep dari Sekadar Konten TikTok
8 hours ago

22. Cerita Rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih
20 hours ago

19. Kisah Panji Semirang dan Cinta yang Tersamarkan
20 hours ago





