Kamis, 28 Mei 2026
Assirojiyah.online
KPPA

SABAR MENGHADAPI ISTRI GALAK: ALLAH ANGKAT LEVEL JADI WALI QUTHUB

PT. Assrof Media - Thursday, 28 May 2026 | 11:24 AM

Background
SABAR MENGHADAPI ISTRI GALAK:  ALLAH ANGKAT LEVEL JADI WALI QUTHUB
SABAR MENGHADAPI ISTRI GALAK: ALLAH ANGKAT LEVEL JADI WALI QUTHUB (PT Assrof Media/ISTIMEWA)

SABAR MENGHADAPI ISTRI GALAK:

ALLAH ANGKAT LEVEL JADI WALI QUTHUB


Imam Ar-Rifa'i bernama lengkap Ahmad Ar-Rifa'i bin Ali bin Yahya bin Tsabit bin Hazim Ali bin Ahmad bin Ali bin Hasan bin Rifa'ah bin Mahdi bin Muhammad bin Hasan bin Husein Ar-Ridha bin Hamad bin Musa Ats-Tsani bin Ibrahim bin Musa Al-Kadzim bin Ja'far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Zainal Abidin bin Husein bin Sayyidina Ali Amirul Mukminin dengan Sayyidah Fatimah binti Rasulullah SAW. Dengan demikian, nasab Imam Ar-Rifa'i bersambung kepada Rasulullah SAW melalui jalur ayahnya. Ia lahir pada tahun 512 H/1118 M.

 

Imam Ar-Rifa'i adalah seorang anak yatim. Ayahnya wafat saat ia masih berada dalam kandungan. Meskipun yatim, ia tumbuh di lingkungan para pencinta ilmu. Ia memiliki seorang paman yang sangat terkenal keilmuannya, yaitu Syekh Mansur Al-Bathahi. Ibunya pun sepenuhnya memasrahkan pendidikan Imam Ar-Rifa'i kepada pamannya tersebut.

 

Imam Ar-Rifa'i dikenal sebagai seorang wali quthub dan memiliki santri yang tak terhitung jumlahnya. Namun, siapa sangka, beliau memiliki seorang istri yang dikenal keras, sering mengomel, bahkan memukulinya. Dikisahkan, salah seorang santri kesayangan Imam Ar-Rifa'i bermimpi melihat gurunya berada di surga. Mimpi tersebut tidak hanya terjadi sekali, tetapi berulang kali. Meski demikian, santri itu merahasiakannya dan tidak menceritakannya kepada siapa pun, termasuk kepada sang guru.

 

Suatu hari, santri tersebut bertamu ke rumah gurunya dan menyaksikan Imam Ar-Rifa'i dipukul oleh istrinya menggunakan kayu pengorek tungku hingga meninggalkan noda hitam pada pakaiannya. Namun, Syekh Ar-Rifa'i hanya diam dan bersabar. Melihat kejadian itu, santri tersebut resah dan menceritakannya kepada santri-santri lain. Mereka pun bersepakat agar sang guru menceraikan istrinya. Akan tetapi, Imam Ar-Rifa'i hidup dalam kefakiran dan tidak mampu memberikan ganti mahar yang ditaksir senilai 500 dinar. Para santri kemudian berinisiatif untuk mengumpulkan uang bersama.

 

Setelah uang terkumpul, mereka menyerahkannya kepada sang guru. Imam Ar-Rifa'i pun bertanya, "Untuk apa uang ini?" Para santri menjawab, "Sebagai ganti mahar untuk menceraikan istri guru yang telah berlaku kasar." Beliau hanya tersenyum dan berkata, "Seandainya bukan karena kesabaranku menghadapi omelan dan pukulan istriku, niscaya engkau tidak akan bermimpi melihatku di surga." (As-Susi, Shafahatun min Akhbaril Anbiya, hlm. 18–19). Itulah salah satu bentuk kesabaran Imam Ar-Rifa'i dalam menghadapi ujian rumah tangga, hingga Allah SWT mengangkat derajatnya sebagai wali quthub.

 

Ka'ab Al-Ahbar, salah satu Tabi'in dari Yaman pernah menyampaikan, "Seorang suami yang sabar menghadapi istri yang galak, Allah akan memberinya ganjaran pahala sebagaimana pahala yang dianugerahkan kepada Nabi Ayyub AS. Adapun seorang istri yang sabar atas perlakuan kasar suaminya, ia akan memperoleh pahala seperti pahala yang diberikan kepada Asiyah binti Muzahim, istri Fir'aun." Pesan Ka'ab Al-Ahbar ini bukan untuk melegalkan kekerasan dalam rumah tangga, melainkan menegaskan bahwa rumah tangga seharusnya menjadi madrasah takwa, tempat suami dan istri sama-sama belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa dan tangguh dalam menjalani kehidupan.

 

Setelah menjadi pendakwah dan pengajar, Imam Ar-Rifa'i mendirikan sebuah tarekat yang dinisbatkan kepada namanya, yaitu Tarekat Rifa'iyyah. Tarekat ini dilandasi oleh dua dasar utama, yakni intelektual dan spiritual. Dalam aspek intelektual, pengamalan zahir penganut Tarekat Rifa'iyyah merujuk kepada Al-Qur'an dan hadis, sehingga amalan yang dilakukan tidak bertentangan dengan nash syariat. Adapun dalam aspek spiritual, tarekat ini menekankan mujahadah atau latihan pengendalian diri.

Imam Ar-Rifa'i wafat pada hari Kamis, bulan Jumadil Ula tahun 576 H/1182 M. Jasad beliau dimakamkan di Ummu Ubaidah, sekitar 600 kilometer dari Kota Baghdad, Irak. Hingga kini, makam beliau menjadi salah satu tempat ziarah bagi para pencari hikmah dan keberkahan.

Oleh : Musobbir Assaid