MIMPI DI ATAS KERTAS LUSUH
PT. Assrof Media - Monday, 13 July 2026 | 07:00 AM


Pagi itu, embun masih menempel di ujung daun padi ketika Farhan berjalan menuju sekolah. Di tangannya tergenggam beberapa lembar kertas bekas yang sudah kusut. Sebagian kertas itu ia temukan di dekat pasar, sebagian lagi diberikan oleh penjaga sekolah. Di sepanjang jalan, ia terus menatap kertas-kertas itu sambil tersenyum. "Aku akan menulis cerita baru hari ini," gumamnya.
Farhan adalah anak seorang buruh tani di sebuah desa kecil. Ayahnya bekerja dari pagi hingga sore di sawah milik orang lain, sementara ibunya membantu dengan berjualan gorengan di depan rumah. Kehidupan mereka sederhana, bahkan sering kali kekurangan. Namun, Farhan memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: mimpi yang besar.
Sejak kecil, ia sangat menyukai dunia tulis-menulis. Sayangnya, ia tidak memiliki buku tulis yang cukup. Suatu sore, ketika sedang menulis di teras rumah, ayahnya pulang dari sawah. "Apa yang kamu tulis lagi, Han?" tanya ayah sambil meletakkan cangkul. "Cerita, Yah." "Cerita tentang apa?" "Tentang anak desa yang ingin menjadi penulis terkenal." Ayah tersenyum tipis. "Anak itu kamu, ya?" Farhan tertawa kecil. "Mungkin." Ayah lalu duduk di sampingnya. "Kalau itu memang mimpimu, kejarlah. Ayah mungkin tidak bisa memberimu banyak hal, tapi Ayah selalu mendoakanmu."
Farhan menunduk. Dadanya terasa hangat mendengar kata-kata itu. "Terima kasih, Yah." Malam harinya, saat makan bersama, ibunya memperhatikan tumpukan kertas bekas di sudut meja. "Han, kenapa tidak minta buku tulis saja ke Ibu?" Farhan menggeleng. "Tidak apa-apa, Bu. Kertas ini masih bisa dipakai." "Tapi sudah lusuh begitu." "Yang penting masih bisa ditulis." Ibunya tersenyum haru. "Kamu memang anak yang berbeda."
Keesokan harinya di sekolah, Farhan kembali menulis saat jam istirahat. Beberapa temannya memperhatikan. Dimas mendekat lalu bertanya, "Han, kamu nulis lagi?" "Iya." "Memangnya tidak bosan?" "Tidak." Dimas mengambil salah satu kertas yang digunakan Farhan. "Wah, kertas begini saja masih dipakai?" Seketika beberapa teman tertawa. Salah seorang siswa mengejek, "Penulis terkenal pakai kertas bekas!" Namun Farhan hanya tersenyum. "Tidak masalah. Yang penting isinya." "Kalau aku jadi kamu, aku malu." "Malu kenapa?" "Karena kertasmu jelek."
Farhan menatap temannya dengan tenang. "Orang membaca tulisan, bukan kertasnya." Ucapan itu membuat beberapa teman terdiam. Beberapa minggu kemudian, sekolah mengumumkan adanya lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, Bu Rina memanggil Farhan ke meja guru. "Farhan, Ibu ingin bicara sebentar." "Iya, Bu." "Kamu ikut lomba cerpen, ya." Farhan tampak terkejut. "Saya, Bu?" "Iya. Tulisanmu bagus." "Tapi peserta lain pasti lebih hebat." Bu Rina tersenyum. "Kenapa berpikir begitu?" "Mereka punya fasilitas lebih lengkap." "Farhan, bakat tidak ditentukan oleh fasilitas. Yang menentukan adalah kemauan untuk belajar." "Tapi saya takut gagal." "Kalau tidak mencoba, kamu sudah gagal lebih dulu."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Farhan. Sepulang sekolah, ia langsung menemui ibunya yang sedang membuat gorengan. "Bu, sekolah mengadakan lomba menulis." "Bagus sekali. Kamu ikut?" "Saya masih ragu." "Kenapa?" "Takut kalah." Ibunya meletakkan adonan yang sedang dibuat lalu menatap Farhan dengan lembut. "Han, dengarkan Ibu." "Iya, Bu." "Orang yang berani mencoba sudah menang melawan rasa takutnya." Farhan tersenyum kecil. "Akan saya coba, Bu."
Malam itu ia mulai menulis. Lampu minyak menerangi ruangan kecil tempat ia belajar. Angin sesekali masuk dari sela-sela dinding bambu. Ketika melihat Farhan masih terjaga, ayahnya menghampiri. "Belum tidur?" "Belum, Yah. Ceritanya belum selesai." "Sudah jam sebelas malam." "Sedikit lagi." Ayah duduk di sampingnya. "Cerita apa yang kamu tulis?" "Tentang perjuangan seorang anak desa mengejar cita-citanya." Ayah tersenyum. "Mirip kamu lagi?" Farhan tertawa. "Mungkin." "Kalau begitu, buat akhir ceritanya bahagia." "Kenapa?" "Karena Ayah ingin kamu juga bahagia saat mencapai cita-citamu." Perkataan itu membuat Farhan kembali menulis dengan semangat baru.
Selama beberapa hari, ia menyempurnakan cerpennya. Setelah selesai, Bu Rina membantu mengetik dan mengirimkannya kepada panitia lomba. Waktu berlalu hingga suatu pagi saat upacara sekolah. Kepala sekolah berdiri di depan para siswa sambil membawa sebuah amplop besar. "Anak-anak, hari ini kita mendapat kabar membanggakan."
Semua siswa memperhatikan dengan penasaran. "Perwakilan sekolah kita berhasil meraih juara pertama lomba cerpen tingkat kabupaten. Dan juara itu adalah... Farhan!" Farhan membelalak. "Apa?" Teman di sebelahnya langsung menepuk bahunya. "Itu kamu, Han! Cepat maju!"
Dengan langkah gemetar, Farhan berjalan ke depan. Kepala sekolah menyerahkan piagam penghargaan kepadanya. "Selamat, Farhan." "Terima kasih, Pak." Bu Rina ikut menghampirinya sambil tersenyum bangga. "Ibu bilang apa? Kamu bisa." Mata Farhan mulai berkaca-kaca. "Terima kasih sudah percaya pada saya, Bu." Sore harinya, ia pulang membawa piagam penghargaan itu. "Ayah! Ibu!" Orang tuanya segera keluar rumah. "Ada apa, Han?" tanya ibunya. Farhan menunjukkan piagam tersebut dengan wajah berseri-seri. "Saya juara satu!" "Alhamdulillah!" seru ibunya sambil memeluknya erat. Ayahnya menatap piagam itu dengan mata berkaca-kaca. "Ayah bangga padamu." "Ini berkat doa Ayah dan Ibu," jawab Farhan.
Malam itu, Farhan duduk di teras rumah sambil memandangi langit. Di tangannya masih ada selembar kertas lusuh yang dulu menjadi tempat pertama ia menulis mimpinya. Ia membaca kembali kalimat yang pernah ditulisnya. "Aku ingin menjadi penulis." Farhan tersenyum. "Perjalananku masih panjang," bisiknya. Kemudian ia menambahkan satu kalimat baru di bawahnya. "Mimpi yang ditulis dengan sungguh-sungguh tidak akan tetap menjadi mimpi. Suatu hari, ia akan menjadi kenyataan."
Angin malam berhembus pelan, seolah ikut membawa harapan itu terbang lebih tinggi. Di atas kertas lusuh yang sederhana, sebuah mimpi besar telah menemukan jalannya menuju masa depan.
Oleh : Sobir_Fidhek
Next News

PENGABDIAN GURU TUGAS
2 days ago

PESANTREN: TEMPAT NIKMAT YANG TAK TERLIHAT
5 days ago

BELAJAR MEMANAJEMEN WAKTU
15 days ago

Penyumbang Emas Terbesar Puncak Monumen Nasional
19 days ago

MEMANAGE WAKTU SEBELUM BERLALU
21 days ago

PENYAKIT HATI: MUSUH TAK KASAT MATA YANG MERUSAK KEHIDUPAN
a month ago

HILYATUL JANNAH: PERHIASAN MUSLIMAH SEJATI
a month ago

BERSOSIAL MEDIA DENGAN AKHLAK
a month ago

PANCASILA: CAHAYA PERSATUAN DALAM BINGKAI KEBERAGAMAN
a month ago

JERAT KEMEWAHAN: ANTARA KESENANGAN SEMU DAN KEHANCURAN HAKIKI
a month ago
