Rabu, 8 Juli 2026
Assirojiyah.online
KPPA

PESANTREN: TEMPAT NIKMAT YANG TAK TERLIHAT

PT. Assrof Media - Wednesday, 08 July 2026 | 12:00 PM

Background
PESANTREN:  TEMPAT NIKMAT YANG TAK TERLIHAT
PESANTREN: TEMPAT NIKMAT YANG TAK TERLIHAT (PT Assrof Media/ISTIMEWA)


Berbicara tentang pesantren, pesantren merupakan tempat bagi para santri untuk mengembangkan ilmu agama dan melatih jati dirinya agar menjadi pribadi yang lebih baik, baik dalam pemikiran, perbuatan, maupun perkataan.

Di pesantren, para santri ditempa dengan kedisiplinan yang tinggi. Tentu kita juga mengetahui bahwa tidak ada pesantren yang mengajarkan keburukan. Kalaupun terdapat kasus-kasus negatif yang melibatkan oknum tertentu, sejatinya pesantren adalah lembaga mulia yang dikelola oleh insan-insan mulia untuk mencetak 'ibadillāhish shālihīn (hamba-hamba Alloh yang saleh). Cita-cita para pendiri dan leluhur pesantren hanya satu, yaitu mencetak generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia sebagaimana harapan para ulama.

Pesantren berdiri bukan sekadar sebagai bangunan, melainkan sebagai penjaga nilai-nilai yang menumbuhkan keikhlasan dalam setiap gerakan dan pengabdian. Dari ruang-ruang sederhana lahir kaum sarungan yang mengikat ilmu dengan adab, menjaga tradisi dengan kesungguhan, serta menyalakan cahaya kebijaksanaan.

Maka dari itu, kita harus menyadari bahwa pesantren merupakan benteng terakhir pendidikan agama yang teguh tunduk pada aturan syariat, meskipun ada segelintir oknum yang mencoba mencemarkan nama baik pesantren.

Di pesantren, kita ditempa menjadi pribadi yang tangguh dan beradab agar tidak tergilas arus zaman maupun budaya hedonis. Kita diajarkan untuk hidup sederhana dan bertirakat. Kehidupan pesantren memang tidak selalu mudah karena kita terikat oleh berbagai aturan, mulai dari makan dan minum seadanya, mengantre mandi, hingga bangun malam untuk melaksanakan salat tahajud. Gaya hidup seperti ini mungkin dianggap kuno, tidak bermanfaat, bahkan identik dengan kemiskinan dan masa depan yang suram oleh sebagian orang.

Perlu kita sadari pula bahwa kadar kebahagiaan dan penderitaan dalam hidup berjalan seimbang. Jika kita menghabiskan jatah kebahagiaan di awal, mungkin kita akan merasakan kesulitan di akhir. Sebaliknya, jika kita bersungguh-sungguh dan bersusah payah di awal, insyaalloh kebahagiaan akan menanti di kemudian hari.

Sebagaimana dawuh Nawawi Sadullah, "Bertahan di pondok pesantren dengan segala beban dan kesusahannya adalah cara menghabiskan jatah kesusahan kita. Tinggal nanti di rumah jatah bahagia dan suksesnya." Demikian pula KHR. Azaim Ibrahim pernah mengatakan, "Orang mulia sering kali lahir dari ujian dan cobaan, bukan dari kenikmatan dan kenyamanan."Wallohu a'lam

 

Oleh: Shoifan VC KPA

 

 

 

 

Tags