MEMANAGE WAKTU SEBELUM BERLALU
PT. Assrof Media - Monday, 22 June 2026 | 07:59 AM


Oleh : A. Harry Mukti
Di zaman yang serba digital ini tidak sedikit orang yang merasakan fenomena percepatan waktu, baru kemarin senin, tahu-tahu sudah akhir pekan. Atau baru kemarin puasa bulan ramdhan, tiba- tiba sudah Ramadan lagi. Dalam konteks Islam, fenomena ini bukan sekadar perasaan psikologis belaka, melainkan sebuah realitas yang sudah diprediksi dan dibahas secara mendalam, baik dari sudut pandang teologis (tanda zaman) maupun manajemen diri.
Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat hingga waktu terasa berdekatan (berjalan cepat). Maka setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, dan sehari bagaikan sejam dan sejam seperti sekejap api yang membakar" (HR. Tirmidzi).
Menurut Imam Ibnu Hajar al-Asqalani bahwa yang dimaksud "cepat" didalam hadis ini sini bermakna dua hal: Yang pertama hilangnya Keberkahan Waktu, dalam artian tidak ada manfaat dan amal yang bisa dihasilkan di dalamnya dan hari-hari berlalu begitu saja tanpa ada karya atau ibadah yang membekas. Yang kedua percepatan hakiki, secara psikologis dan persepsi, manusia benar-benar merasakan hari berganti dengan sangat kilat karena saking sibuknya dengan urusan duniawi.
Pada dasarnya semua orang dikaruniai waktu dengan jatah yang sama, tidak dak ada perbedaan antara satu dan yang lain semuanya sama-sama mendapatkan 24 jam dalam sehari semalam, namun dengan jatah waktu tersebut ada yang merasakan lebih cepat atau malah sebaliknya. Diantara penyebab fenomena percepatan waktu ini adalah distraksi digital atau pengalihan perhatian atau hilangnya fokus seseorang dari aktivitas utama seperti bekerja, belajar, beribadah, atau mengobrol akibat gangguan yang ditimbulkan oleh perangkat digital dan teknologi informasi.
Secara sederhana, distraksi digital adalah kondisi ketika teknologi mengendalikan perhatian kita, bukan kita yang mengendalikan teknologi. Baik distraksi ini bisa bersifat aktif (datang dari luar) maupun pasif (keinginan dari dalam diri sendiri), seperti halnya notifikasi Ponsel yang berunyi dari pesan WhatsApp, email masuk, atau update media sosial yang langsung memecah konsentrasi. Atau Siklus Scrolling Tanpa Akhir (Doomscrolling) yaitu dorongan untuk terus menggeser layar demi melihat konten baru di Instagram, TikTok, Twitter, atau YouTube Shorts tanpa tujuan yang jelas. Juga FOMO (Fear of Missing Out) yaitu rasa cemas jika tidak memeriksa ponsel dalam beberapa menit sekali, takut tertinggal berita atau trend terbaru.
Distraksi digital ini yang menimbulkan hilangnya keberkahan waktu. Seperti yang dibahas sebelumnya, ini adalah penyebab utama mengapa waktu terasa melesat sangat cepat. 2 jam bisa menguap begitu saja hanya untuk melihat konten acak. Selain itu distraksi digital juga dapat menyebabkan penurunan kualitas kerja atau belajar, dan dapat merusak hubungan sosial karena mengabaikan orang di depan kita demi melihat layar HP yang mengurangi kualitas komunikasi dengan keluarga atau teman.
Untuk menghindari fenomena percepatan waktu ini, kita perlu memanage waktu agar tidak terbuang sia-sia dengan beberapa prinsip dasar berikut:
1. Menentukan Skala Prioritas
Menjadwal kinerja dan kegiatan kita terlebih dahulu mulai dari bangun tidut hingga tidur lagi, sehingga tidak ada waktu yang tebuang begitu saja. Lalu menggunakan matriks Eisenhower yaitu membagi tugas menjadi empat kuadran. 1.Penting dan mendesak: Kerjakan sekarang. 2. Penting tidak mendesak: Jadwalkan waktunya 3. Tidak penting tapi mendesak: Delegasikan jika bisa. 4. Tidak Penting dan tidak mendesak: Singkirkan atau lalukan nanti sebagai hiburan.
Rasululloh bersabda "Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya" (HR. Tirmidzi). Islam mengajarkan kita untuk mendahulukan hal wajib sebelum mengerjakan yang sunah, dan mendahulukan yang bermanfaan daripada yang sia-sia.
2. Digital Detox
Adalah upaya untuk beristirahat sementara dari penggunaan perangkat digital dan internet agar kehidupan menjadi lebih seimbang, fokus, dan sehat. Tujuannya bukan untuk menghilangkan teknologi sepenuhnya, melainkan menggunakannya secara lebih bijak dan terkendali. Selain itu ada juga hal-hal yang bisa menghindari distraksi digital seperti mematikan notifikasi dari aplikasi yang tidak mendesak seperti media social atau game. Membuat zona tanpa HP seperti pada saat makan, belajar, bekerja dan 1 jam sebelum/setelah bangun tidur. Membangun aktifitas offline dengan memperbanyak aktivitas di dunia nyata seperti olahraga, ngobrol langsung dll.
3. Memanfaatkan Lima Kesempatan Emas
Manajmen waktu dalam islam adalah kesadaran sebelum terlambat dan memanfaatkan kesempatan sebelum waktunya berlalu. Rasululloh SAW mengingatkan kita untuk menjaga lima hal sebelum datangnya lima hal yang lainnya : 1. Masa muda sebelum masa tua 2. Waktu sehat sebelum waktu sakit 3. Masa kaya sebelum masa miskin 4. Waktu luang sebelum waktu sibuk 5. Hidup sebelum kematian.
Banyak orang tidak sadar bahwa waktu luang adalah sebuah nikmat besar, sehingga baru meneysal ketika waktu luang itu hilang. Nabi Muhammad SAW bersabda "Dua nikmat yang banyak manusia tertipu (rugi) didalam keduanya: Kesehatan dan waktu luang." (HR. Tirmidzi).
Manajemen waktu dalam Islam bermuara pada satu tujuan ialah meraih keberkahan. Waktu yang berkah bukan berarti kita tidak bisa istirahat, melainkan waktu yang di dalamnya kita bisa menyeimbangkan hak Alloh (ibadah), hak diri sendiri (istirahat dan kesehatan), serta hak sesama manusia (pekerjaan dan keluarga).
Ada sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Arab yang sangat masyhur: "Waktu itu lebih berharga daripada emas." Ungkapan ini bukan sekadar hiperbola atau hiasan kata. Jika kita merenungkannya lebih dalam, waktu memiliki nilai intrinsik yang jauh melampaui logam mulia tercantik atau mata uang tertinggi sekalipun di dunia ini. karena emas dan harta benda memiliki sifat reversible artinya, jika hari ini kita kehilangan uang atau emas karena kerugian atau kecurian, kita masih memiliki kesempatan untuk bekerja keras dan mendapatkannya kembali di masa depan. Namun, waktu bersifat irreversible. Satu detik yang baru saja berlalu. Ia tidak akan pernah kembali, tidak bisa diputar ulang, dan tidak ada satu pun miliarder di dunia ini yang mampu membeli kembali masa lalunya, meskipun mereka menukarnya dengan seluruh kekayaan yang mereka miliki.
Imam Hasan Al-Bashri pernah memberikan tamparan spiritual yang sangat indah mengenai hal ini, "Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari berlalu, maka berlalu pula sebagian dari diri kalian."
Sebelum kata terlambat itu datang seyogianya kita pergunakan waktu yang tersisa dengan bijak agar berbuah pahala dan kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat. Karena kita tidak pernah tahu berapa sisa waktu yang kita miliki. Seperti yang diungkapka oleh Imam al-Ghazali "Napasmu adalah umurmu yang berharga. Setiap napas yang keluar adalah sebuah permata yang tak ada nilainya. Jika ia telah berlalu, ia tidak akan pernah kembali lagi."
Next News

PENYAKIT HATI: MUSUH TAK KASAT MATA YANG MERUSAK KEHIDUPAN
11 days ago

HILYATUL JANNAH: PERHIASAN MUSLIMAH SEJATI
14 days ago

BERSOSIAL MEDIA DENGAN AKHLAK
16 days ago

PANCASILA: CAHAYA PERSATUAN DALAM BINGKAI KEBERAGAMAN
22 days ago

JERAT KEMEWAHAN: ANTARA KESENANGAN SEMU DAN KEHANCURAN HAKIKI
23 days ago

SABAR MENGHADAPI ISTRI GALAK: ALLAH ANGKAT LEVEL JADI WALI QUTHUB
25 days ago

Hari Arafah: Hari Pengampunan dan Mustajabnya Doa
a month ago

MENELAAH KEMBALI ARTI SEBUAH SOPAN SANTUN
a month ago

MENYOAL LEGALITAS KEADILAN DI INDONESIA
a month ago

Biografi Singkat Tokoh-tokoh Habib Berpengaruh di Indonesia
a month ago
