HANYA PENYESALAN
PT. Assrof Media - Monday, 27 July 2026 | 04:59 PM


HANYA PENYESALAN
Sebuah kisah dari keluarga kecil sederhana yang tak berkelimang harta. Ibu Samira mempunyai dua anak, laki-laki dan perempuan, bernama Fakhri dan Riana. Mereka tumbuh tanpa sosok seorang ayah yang meninggal karena kecelakaan, sehingga ibunyalah yang menjadi tulang punggung keluarga yang jauh dari sanak saudara. "Fakhri, Riana, ayo makan. Kamu antar ya adikmu sekolah," ucap ibunya. "Iya, Bu," jawab Fakhri. "Bu, Riana belum keluar juga?" tanya Fakhri yang menghampiri ibunya. "Belum, Nak. Nanti setelah makan, kamu antar adikmu sekolah." "Iya, Bu. Nanti Fakhri antar. Habis itu Fakhri nyusul ke ladang." Tak lama kemudian, Riana muncul dengan wajah malasnya. "Ck! Makan rumput lagi." "Riana, kamu jangan seperti itu. Ibu susah payah masak untuk kamu," bentak Fakhri. "Nak, makan dulu. Daun singkong ini enak, loh. Dulu kamu suka sayur ini," ucap ibunya dengan lembut. "Dulu ya dulu, Bu! Enggak usah bandingkan dengan yang sekarang. Ibu lihat tuh tetangga sebelah, mereka makan enak terus. Masa ibu enggak malu, sih? Mending Riana mati aja daripada makan rumput," jawab Riana. "Riana!" bentak Fakhri ketika Riana berlalu pergi.
Di perjalanan menuju sekolah, Riana berjalan kaki dengan wajah kesal. Datanglah seorang pria bejat yang mengajaknya untuk memuaskan nafsunya. Riana sempat menolak, tetapi hanya karena segepok uang, ia rela dibawa ke sebuah gedung tua yang terbengkalai. Di sana pria itu melakukan aksi bejatnya kepada Riana yang hanya diam pasrah.
Dua minggu kemudian, Fakhri tengah bersiap-siap merantau jauh. Namun, kepergian Fakhri tidak disetujui oleh ibunya. Ia melarang anaknya pergi karena mendapat tawaran kerja yang belum jelas ke luar negeri. Akan tetapi, Fakhri bersikeras ingin pergi karena ia tidak tega melihat ibunya berutang ke sana kemari demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Riana, kakak berangkat dulu ya. Kamu baik-baik sama Ibu. Tolong jaga Ibu. Kamu jangan begini terus. Kakak janji setahun lagi kakak akan pulang. Kakak pamit. Assalamu'alaikum," ucap Fakhri kepada Riana.
Namun, ucapannya tak direspons sama sekali oleh Riana. Ia hanya mengurung diri di dalam kamarnya. Lalu Fakhri berpamitan kepada ibunya yang sejak tadi menangis. Dua minggu berlalu. Teman-teman Riana menyebarkan kabar bahwa Riana hamil di luar nikah. Berita itu pun sampai kepada warga sekitar yang dulunya mengasihani mereka, tetapi kini berubah menjadi benci. "Lihat tuh, sudah miskin, utang sana-sini, anaknya lagi hamil anak haram." "Iya tuh, enggak tahu malu banget. Dia juga punya utang sama saya." "Ya sudah, tagih aja." "Ih, enggak mau lah. Dia bayarnya pakai beras, enggak higienis. Saya enggak mau anak-anak saya kena penyakit." "Oh iya, dengar-dengar si Fakhri dapat kerjaan enggak jelas ya?" "Iya, palingan juga mencuri di sana. Keluarga Ibu Samira mana ada yang benar. Pasti asal usulnya juga enggak baik. Eh, pergi aja yuk, enggak enak lama-lama di sini."
Pembicaraan itu terdengar oleh Ibu Samira. Air matanya jatuh pada api yang berasal dari kayu bakar untuk memasak. Sembilan bulan berjalan penuh penderitaan. Akhirnya, Riana pun melahirkan tanpa pertolongan siapa pun. Ibu Samira sempat meminta bantuan kepada warga, tetapi tak ada satu pun yang membantunya. Bahkan, warga berencana mengusir mereka dari desa.
Keesokan harinya, rumah Ibu Samira dipenuhi warga yang berbondong-bondong ingin mengusir mereka. Namun, kedatangan polisi membuat warga terdiam. "Assalamu'alaikum. Apakah benar ini rumah Ibu Samira?" tanya polisi. "Iya, benar. Ada apa ya, Pak?" ucap Ibu Samira. "Maaf, kami mendapat kabar tentang anak Anda yang bernama Fakhri. Bahwasanya beliau telah meninggal dunia." Ibu Samira syok dan seketika pingsan.
Waktu berlalu dengan cepat. Ambulans tiba bersama pihak kepolisian. "Almarhum Fakhri ini orang yang sangat baik. Saya mengenal beliau secara langsung. Beliau suka menolong. Entah mengapa, setiap ada orang baik pasti ada orang yang berniat jahat. Beliau dibunuh oleh teman kerjanya dengan alasan iri hati karena beliau selalu mendapat pujian serta gaji tambahan dari atasannya selama bekerja di lautan. Beliau dibunuh dengan delapan tusukan senjata tajam pada bagian leher, dada, dan perut. Pelaku kini sudah diamankan oleh pihak kepolisian dan dikenai hukuman penjara seumur hidup."
Mendengar penuturan polisi tersebut, Ibu Samira menangis histeris ingin membuka peti jenazah. Sementara itu, Riana hanya terdiam seakan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Setelah pemakaman almarhum Fakhri, seorang pemuda menghampiri Ibu Samira dan Riana. Ia membawa dua koper besar.
"Assalamu'alaikum, Bu. Saya teman kerja Fakhri. Beliau sempat menitipkan barang-barangnya sebelum berlayar ke lautan." Ibu Samira dan Riana menerima koper tersebut dan memeluknya erat-erat. Riana dikejutkan oleh koper kedua yang dipenuhi uang hampir Rp2 miliar. Namun, ia hanya mengambil sepucuk surat yang terselip di antara uang tersebut.
Surat itu bertuliskan:
"Assalamu'alaikum, Ibu, Riana. Maaf Fakhri belum bisa pulang. Fakhri sudah ingkar janji karena Fakhri tidak ingin kembali dengan tangan kosong dan membuat kalian kecewa. Jadi, Fakhri memutuskan untuk bekerja lagi. Di sini Fakhri tidak sendirian, kok. Doa Ibu dan Riana selalu menemani Fakhri. Fakhri yakin, meski bukan di dunia, kita akan selalu bahagia berkumpul bersama Ayah di surga-Nya Alloh. Uang ini adalah hasil keringat Fakhri selama setahun. Kalian gunakan sebaik-baiknya. Fakhri sayang kalian." BY: FAKHRI
Riana pun menangis menghampiri ibunya dan memeluknya erat-erat. "Ibu... ini semua salah Riana. Maafkan Riana sudah durhaka sama Ibu," ucap Riana. "Dari awal sudah Ibu maafkan kamu. Ini bukan salah kamu, Nak," balas ibunya. Lalu Riana memeluk papan nisan Fakhri dan meneteskan air mata."Kak... Riana minta maaf. Riana menyesal."
Oleh : ar_lan5_klb
Next News

MELETAKKAN NIAT PADA TEMPAT YANG TEPAT
2 days ago

PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN
7 days ago

SEJUMPUT LELAH, SEGUNUNG BARAKAH
11 days ago

MIMPI DI ATAS KERTAS LUSUH
14 days ago

PENGABDIAN GURU TUGAS
16 days ago

PESANTREN: TEMPAT NIKMAT YANG TAK TERLIHAT
19 days ago

BELAJAR MEMANAJEMEN WAKTU
a month ago

Penyumbang Emas Terbesar Puncak Monumen Nasional
a month ago

MEMANAGE WAKTU SEBELUM BERLALU
a month ago

PENYAKIT HATI: MUSUH TAK KASAT MATA YANG MERUSAK KEHIDUPAN
2 months ago
