Kamis, 16 April 2026
Assirojiyah.online
KPPA

Banyuwangi: Sebuah Cerita Tentang Cinta, Gaslighting Masa Lalu, dan Air yang Wangi

PT. Assrof Media - Wednesday, 15 April 2026 | 12:00 AM

Background
Banyuwangi: Sebuah Cerita Tentang Cinta, Gaslighting Masa Lalu, dan Air yang Wangi
Banyuwangi: Sebuah Cerita Tentang Cinta, Gaslighting Masa Lalu, dan Air yang Wangi (istimewa/)

Banyuwangi: Sebuah Cerita Tentang Cinta, Gaslighting Masa Lalu, dan Air yang Wangi

Kalau kita bicara soal ujung timur Pulau Jawa, apa sih yang pertama kali muncul di kepala? Mungkin sebagian dari kalian bakal langsung kepikiran Kawah Ijen dengan api birunya yang mendunia itu, atau mungkin Alas Purwo yang auranya bikin bulu kuduk berdiri. Tapi, pernah nggak sih kalian berhenti sejenak dan mikir: "Kenapa ya kota ini namanya Banyuwangi?"

Nama Banyuwangi itu secara harfiah artinya "Air yang Wangi". Di balik nama yang estetik dan puitis ini, ternyata tersimpan sebuah drama legendaris yang kalau kejadian di zaman sekarang, mungkin bakal viral di TikTok atau masuk thread Twitter dengan ribuan retweet. Ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, tapi sebuah kisah tentang kesetiaan yang luar biasa, kecemburuan yang buta, dan pembuktian diri yang sangat tragis.

Pertemuan yang Terlalu Manis untuk Berakhir Tragis

Semua bermula dari seorang pangeran bernama Raden Banterang. Bayangkan saja dia ini tipe-tipe pria alfa yang hobi berburu, gagah, tapi mungkin agak sedikit emosian—sejenis cowok yang kalau di zaman sekarang hobinya naik motor trail atau ikut komunitas off-road. Suatu hari, pas lagi asyik berburu di tengah hutan, dia ketemu sama seorang perempuan cantik jelita bernama Sri Tanjung.

Singkat cerita, mereka jatuh cinta. Klasik banget, kan? Pertemuan di tengah hutan, langsung merasa cocok, lalu berlanjut ke jenjang pernikahan. Sri Tanjung ini digambarkan sebagai sosok istri yang sempurna—setia, lembut, dan tulus. Raden Banterang pun membawa istrinya pulang ke istana. Hidup mereka awalnya adem-adem saja, layaknya pasangan baru yang lagi hangat-hangatnya menikmati masa honeymoon.

Plot Twist: Fitnah yang Menghancurkan Segalanya

Tapi ya, yang namanya cerita legenda nggak bakal seru kalau nggak ada antagonisnya. Di sini muncul sosok ayah dari Sri Tanjung (dalam beberapa versi disebut saudaranya) yang punya dendam pribadi atau niat buruk. Intinya, ada pihak ketiga yang berusaha mengadu domba. Si tokoh antagonis ini menemui Raden Banterang dan membisikkan fitnah yang luar biasa jahat: dia bilang kalau Sri Tanjung itu nggak setia dan punya selingkuhan.

Masalahnya, Raden Banterang ini tipe cowok yang gampang banget kena "gaslighting" alias termakan omongan orang tanpa cek fakta terlebih dahulu. Bukannya tanya baik-baik atau diskusi layaknya pasangan sehat, dia langsung meledak. Dia merasa harga dirinya sebagai lelaki sekaligus pangeran diinjak-injak. Bayangkan, dia langsung menuduh istrinya berkhianat tanpa memberikan kesempatan bagi Sri Tanjung buat sekadar membela diri.

Di sini kita bisa melihat betapa "red flag" sebenarnya sikap Banterang. Dia lebih percaya omongan orang asing daripada istrinya sendiri yang sudah menemani hari-harinya. Sebuah pelajaran penting buat kita semua: komunikasi itu kunci, kawan. Jangan sampai rasa cemburu bikin logika kita mati total.

Pembuktian di Tepi Sungai

Kemarahan Banterang memuncak. Dia membawa Sri Tanjung ke pinggir sebuah sungai. Dia berniat menghabisi nyawa istrinya di sana karena rasa malu yang amat sangat. Di tepi sungai itulah, Sri Tanjung menunjukkan sebuah bentuk kesetiaan yang bikin siapa pun yang dengar ceritanya bakal merasa nyesek.

Sri Tanjung berkata dengan tenang namun tegas, kurang lebih begini: "Kalau aku memang bersalah dan tidak setia, maka setelah aku mati dan kamu buang jasadku ke sungai ini, airnya akan berbau busuk. Tapi, kalau aku tidak bersalah dan tetap setia kepadamu, maka air sungai ini akan berubah menjadi harum."

Sebuah pertaruhan nyawa. Tanpa pikir panjang dan masih dikuasai amarah, Banterang menghujamkan senjatanya ke tubuh Sri Tanjung. Jasad istrinya pun diceburkan ke sungai tersebut. Dan di sinilah keajaiban itu terjadi.

Begitu jasad Sri Tanjung menyentuh air, tiba-tiba sebuah aroma yang sangat wangi—seperti ribuan bunga melati yang baru mekar—menyeruak ke udara. Air sungai yang tadinya biasa saja berubah menjadi jernih dan menebarkan bau harum yang menenangkan. Raden Banterang langsung lemas. Dia sadar, dia baru saja membunuh satu-satunya orang yang paling tulus mencintainya karena kebodohan dan rasa cemburunya sendiri.

Dalam penyesalan yang mendalam, dia berteriak, "Banyu... Wangi... Banyu Wangi!" Dan dari situlah nama daerah tersebut abadi hingga sekarang.

Kenapa Cerita Ini Masih Relevan?

Mungkin buat sebagian anak muda zaman sekarang, cerita kayak gini terdengar too much atau terlalu drama. Tapi kalau kita bedah lagi, kisah Asal-Usul Banyuwangi ini menyentuh sisi fundamental manusia: kepercayaan. Di era informasi yang serba cepat ini, fitnah atau hoax bisa menyebar lebih cepat daripada harumnya sungai Sri Tanjung. Banyak hubungan hancur hanya karena kita lebih percaya "katanya" daripada kenyataan yang ada di depan mata.

Selain itu, Banyuwangi hari ini seolah-olah memang mewarisi sifat "keharuman" tersebut. Kabupaten ini nggak lagi dipandang sebelah mata. Dari daerah yang dulu mungkin dianggap mistis dan jauh, sekarang jadi primadona pariwisata. Transformasi Banyuwangi dari kota transit menjadi tujuan utama wisata adalah bukti bahwa "nama adalah doa". Keharuman nama Banyuwangi sekarang bisa kita rasakan lewat festival-festivalnya, kebersihan kotanya, dan keramahan penduduknya.

Setiap kali kita berkunjung ke Banyuwangi, entah itu mau mendaki ke Ijen atau sekadar makan sego tempong di pinggir jalan, ada baiknya kita ingat sedikit soal Sri Tanjung. Tentang sebuah pengingat bahwa kesetiaan itu mahal harganya, dan kebenaran—sepahit apa pun prosesnya—pasti akan membuahkan hasil yang "wangi" pada akhirnya.

Jadi, buat kalian yang lagi menjalin hubungan, jangan jadi kayak Raden Banterang ya. Jangan gampang kemakan gosip netizen atau omongan orang yang nggak jelas sumbernya. Karena penyesalan itu selalu datang belakangan, dan nggak semua kesalahan bisa ditebus hanya dengan menamai sebuah kota. Belajarlah dari Banyuwangi: bahwa kesetiaan itu butuh ruang untuk bicara, bukan sekadar vonis yang membabi buta.

Banyuwangi bukan cuma soal air yang harum, tapi soal pengingat abadi bahwa kejujuran punya aromanya sendiri yang nggak akan pernah bisa ditutupi oleh busuknya fitnah.