Minggu, 12 April 2026
Assirojiyah.online
KPPA

Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita

PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM

Background
Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita
Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita (istimewa/)

Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita

Kalau kamu kebetulan lagi di Bali saat Hari Raya Galungan, kamu bakal ngerasa ada yang beda banget sama atmosfer pulau ini. Bukan cuma soal macetnya yang agak berkurang di titik tertentu, tapi auranya itu, lho. Ada campuran bau dupa yang kebawa angin, janur kuning yang melengkung cantik di pinggir jalan, sampai aroma masakan bumbu genep yang bikin perut auto keroncongan. Galungan itu ibarat "lebarannya" orang Bali, sebuah momen di mana kearifan lokal, spiritualitas, dan ajang silaturahmi tumplek bleg jadi satu.

Buat yang belum tahu atau cuma sekadar lihat foto-foto estetik di Instagram, Galungan itu bukan sekadar perayaan rutin tiap 210 hari sekali. Secara filosofis, ini adalah selebrasi kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan). Tapi, kalau kita bedah pake kacamata anak muda zaman sekarang, Galungan itu adalah momen healing yang paling hakiki buat masyarakat Hindu di Bali. Kenapa? Karena di sinilah mereka pulang ke kampung halaman, ketemu keluarga besar, dan sejenak melupakan urusan deadline kantor yang nggak ada habisnya.

Penjor: Adu Gengsi atau Bentuk Bakti?

Satu hal yang paling ikonik dari Galungan jelas adalah Penjor. Itu tuh, bambu melengkung yang dihias pakai janur, padi, dan hasil bumi lainnya. Kalau kamu jalan-jalan menyusuri jalanan desa di Bali, pemandangan penjor berjejer ini bener-bener magical. Bahkan, kadang ada semacam "persaingan sehat" antar tetangga. Ada yang penjornya standar aja, ada yang tingginya minta ampun sampai butuh lima orang buat masang, lengkap dengan hiasan janur yang detailnya ngalahin kerajinan tangan anak sekolah.

Tapi jangan salah, penjor itu bukan cuma buat pajangan biar jalanan jadi Instagrammable. Penjor itu simbol Gunung Agung dan tanda rasa syukur kepada Tuhan. Di bagian bawahnya biasanya ada semacam pelinggih kecil tempat naruh sesajen. Jadi, meski kelihatan mewah, esensinya tetap spiritual. Tapi ya namanya manusia, kadang tetap ada perasaan bangga kalau penjor di depan rumahnya paling kece dan jadi pusat perhatian orang lewat. Manusiawi banget, kan?

Penampahan: Harinya Para 'Chef' Dadakan

Sehari sebelum Galungan, ada yang namanya hari Penampahan. Nah, di sinilah keseruan yang sebenarnya dimulai. Kalau biasanya dapur itu wilayah kekuasaan ibu-ibu, pas Penampahan, para bapak dan pemuda mendadak jadi chef profesional. Mereka bangun subuh-subuh buat nampah (menyembelih) babi atau ayam, terus mulai ritual bikin Lawar dan Komoh.

Bayangin deh, sekelompok bapak-bapak duduk melingkar sambil ngerajang bumbu, daging, dan sayuran pake pisau besar di atas talenan kayu yang bunyinya tuk-tuk-tuk sahut-sahutan. Ini bukan cuma soal masak, tapi soal bonding. Di momen ini, mereka biasanya sambil ngobrolin apa aja, dari soal politik lokal, harga gabah, sampai curhat masalah cicilan motor. Suasananya cair banget, penuh canda tawa, dan tentu saja diselingi dengan kopi hitam atau terkadang sedikit ajakan buat menghangatkan suasana.

Ritual yang Menguras Tenaga tapi Bikin Adem

Pas hari-H Galungan, biasanya pagi-pagi buta semua orang sudah rapi pakai pakaian adat. Yang cowok pakai kamen dan udeng yang presisi, yang cewek pakai kebaya warna-warni yang bikin mereka makin terpancar auranya. Mereka bakal keliling dari Pura keluarga (Sanggah/Merajan) sampai ke Pura Desa. Buat yang punya banyak keluarga, hari ini bisa jadi sangat melelahkan karena harus pindah dari satu tempat ke tempat lain sambil bawa sesajen atau banten.

Tapi anehnya, secapek-capeknya mereka jalan kaki atau naik motor panas-panasan, senyumnya tetap lebar. Ada perasaan puas setelah bisa menghaturkan bakti. Galungan itu kayak pengingat kalau di tengah gempuran modernitas dan turis yang makin hari makin padat di Canggu atau Ubud, identitas asli Bali itu masih sangat kuat. Mereka nggak kehilangan pegangan. Agama dan budaya masih jadi fondasi utama yang bikin orang Bali tetap "membumi".

Gak Cuma Soal Banten, Tapi Soal Pulang

Observasi menarik lainnya adalah gimana Galungan ini jadi momen "mudik" kecil-kecilan. Banyak orang Bali yang merantau ke Jakarta atau kota lain, pasti bakal usahain pulang pas Galungan. Suasana terminal dan bandara biasanya penuh sama mereka yang rindu masakan rumah dan rindu bau dupa di kampung halaman. Ini ngebuktiin kalau ikatan keluarga di Bali itu nggak main-main kencengnya.

Secara pribadi, saya melihat Galungan itu sebagai pengingat buat kita semua—nggak cuma yang merayakan—bahwa dalam hidup ini bakal selalu ada konflik antara kebaikan dan keburukan dalam diri kita. Galungan ngajarin kita buat tetap milih jalan yang benar, sesulit apa pun itu. Dan bonusnya, kita bisa ngerayain kemenangan itu dengan makan enak bareng keluarga. Siapa yang nggak mau, kan?

Sepuluh hari setelah Galungan, rangkaian ini bakal ditutup sama Hari Raya Kuningan. Katanya sih, di hari itu para leluhur kembali ke surga setelah seminggu lebih "nengok" cucu-cucunya di bumi. Jadi kalau Galungan itu pembukaannya yang meriah, Kuningan itu penutupnya yang lebih tenang tapi tetap syahdu. Kalau kamu berencana ke Bali, coba deh cek kalender Bali. Rasain sendiri gimana vibes-nya, karena cerita di artikel ini nggak bakal cukup buat nggambarin betapa indahnya Bali saat berselimut suasana Galungan.