Gokilnya Cap Go Meh di Singkawang: Bukan Sekadar Pawai, Ini Soal Nyali dan Tradisi yang Pecah Banget
PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM


Gokilnya Cap Go Meh di Singkawang: Bukan Sekadar Pawai, Ini Soal Nyali dan Tradisi yang Pecah Banget
Kalau ada yang nanya, "Kota mana di Indonesia yang paling niat kalau ngerayain Imlek?" Jawabannya udah pasti nggak jauh-jauh dari Singkawang. Kota di Kalimantan Barat ini nggak cuma sekadar pasang lampion atau bagi-bagi angpao. Di sini, perayaan mencapai puncaknya pada hari ke-15 setelah Imlek, alias Cap Go Meh. Dan percayalah, suasananya itu beda level. Kalau kalian mikir festival budaya itu ngebosenin dan cuma buat orang tua, mending main-main ke Singkawang pas momen ini. Vibes-nya bener-bener gila!
Bayangin aja, kota yang biasanya tenang ini mendadak berubah jadi lautan manusia. Dari bandara di Pontianak sampai jalanan menuju Singkawang, semuanya penuh sama orang-orang yang pengen liat langsung "keajaiban" tahunan ini. Lampion merah bertebaran di mana-mana, aroma hio atau dupa tercium di setiap sudut jalan, dan suara tabuhan drum yang ritmenya bikin jantung ikutan deg-degan. Ini bukan sekadar acara seremonial, ini adalah pesta rakyat yang levelnya udah internasional.
Tatung: Antara Ngeri, Takjub, dan Keajaiban
Ngomongin Cap Go Meh di Singkawang tapi nggak bahas Tatung itu ibarat makan seblak tapi nggak pakai kencur: kurang nendang. Tatung adalah atraksi utama yang bikin Singkawang mendunia. Secara teknis, Tatung adalah orang-orang yang dipercaya dirasuki oleh roh dewa atau leluhur. Dalam kondisi "trance" alias nggak sadar ini, mereka bakal melakukan hal-hal yang di luar nalar manusia normal.
Kalian bakal liat orang berdiri di atas mata parang yang tajam banget, atau pipinya ditusuk pakai kawat besi panjang yang diameternya lumayan bikin ngilu. Tapi anehnya, mereka nggak berdarah sama sekali dan nggak ngerasain sakit. Pas liat pertama kali, mungkin refleks kita bakal tutup mata atau minimal ngerasa ngeri sedap. Tapi setelah beberapa lama, rasa ngeri itu bakal berubah jadi rasa takjub. Ada sisi magis dan spiritual yang kental banget di sini. Para Tatung ini bukan lagi pamer kesaktian buat gaya-gayaan, tapi sebagai simbol pembersihan kota dari roh jahat dan nasib buruk.
Jujur aja, di zaman yang serba digital dan logis ini, ngeliat fenomena Tatung itu kayak ditarik balik ke masa lalu yang penuh misteri. Dan uniknya, para Tatung ini nggak cuma dari etnis Tionghoa aja. Banyak juga warga Dayak yang ikut berpartisipasi sebagai bentuk solidaritas dan akulturasi budaya yang udah mendarah daging di tanah Borneo. Cakep banget, kan?
Vibes Kota yang Nggak Ada Matinya
Selama perayaan Cap Go Meh, Singkawang nggak pernah tidur. Kalau kalian tipe orang yang suka people watching, ini adalah tempat terbaik. Kalian bakal ketemu fotografer dari berbagai negara yang bawa lensa segede meriam, turis lokal yang ribet sama tongsisnya, sampai warga lokal yang jualan makanan enak di pinggir jalan. Cuaca di Singkawang pas momen ini biasanya panasnya minta ampun, tapi entah kenapa orang-orang tetep semangat 45 buat desak-desakan di pinggir jalan.
Tips buat kalian yang mau ke sini: jangan lupa bawa sunblock, air mineral yang banyak, dan nyali buat desak-desakan. Oya, satu lagi, siapkan memori HP yang lega karena setiap sudut kota ini Instagrammable parah. Dari gerbang kota sampai klenteng-klenteng tua, semuanya punya cerita visual yang sayang kalau nggak diabadikan.
Urusan Perut yang Nggak Boleh Skip
Nggak afdol kalau ke Singkawang tapi nggak kulineran. Kota ini surganya makanan enak, titik. Kalau kalian laper setelah capek nonton pawai, langsung aja cari Choi Pan. Kuliner khas ini bener-bener juara. Kulitnya yang tipis lembut, isian bengkoang yang garing, disiram minyak bawang putih goreng dan sambal yang pedas asam... beuh, langsung ilang itu capek di kaki.
Terus, jangan lupa mampir ke kedai kopi legendaris di sini. Ngopi di Singkawang itu punya seni tersendiri. Kopinya kuat, pahitnya pas, dan biasanya disajikan bareng roti srikaya yang manisnya nggak lebay. Duduk santai di kedai kopi sambil dengerin warga lokal ngobrol pakai bahasa Khek atau Teochew itu bikin pengalaman traveling kalian terasa lebih autentik. Rasanya kayak bener-bener jadi bagian dari kehidupan mereka, bukan cuma sekadar turis numpang lewat.
Lebih dari Sekadar Tradisi, Ini Soal Toleransi
Satu hal yang bikin hati adem pas ngerasain Cap Go Meh di Singkawang adalah melihat gimana indahnya toleransi di sini. Di tengah keramaian pawai Tatung, kalian bisa liat warga yang pakai hijab, warga lokal Dayak, dan umat dari berbagai agama berbaur jadi satu. Nggak ada sekat, nggak ada rasa curiga. Semuanya datang buat satu tujuan: ngerayain kebersamaan.
Singkawang sering banget disebut sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia, dan itu bukan cuma label kosong. Di sini, masjid dan klenteng bisa berdiri berdampingan tanpa ada drama. Pas perayaan Cap Go Meh, semua orang dari berbagai latar belakang bahu-membahu biar acaranya sukses. Ini tuh kayak bukti nyata kalau perbedaan itu kalau dikelola dengan kasih sayang dan rasa hormat, hasilnya bakal jadi sesuatu yang luar biasa indah.
Kenapa Kalian Harus Ke Sini Minimal Sekali Seumur Hidup?
Mungkin ada yang mikir, "Ah, paling cuma pawai doang, liat di YouTube juga bisa." Hei, beda banget rasanya nonton lewat layar sama ngerasain energinya langsung! Ada perasaan magis yang nggak bisa dijelasin kata-kata pas kalian denger suara lonceng dan aroma kemenyan yang kuat, sambil ngeliat naga raksasa menari-nari di depan mata. Energi ribuan orang yang ada di sana itu bener-bener menular.
Cap Go Meh di Singkawang itu bukan cuma soal atraksi ekstrem atau hiasan lampion. Ini adalah soal merayakan kehidupan, keberagaman, dan harapan buat tahun yang lebih baik. Jadi, kalau tahun depan kalian punya waktu luang dan tabungan yang cukup, jangan ragu buat pesan tiket ke Kalimantan Barat. Rasakan sendiri gimana seru, ngeri, dan harunya berada di tengah-tengah semarak Cap Go Meh di Singkawang. Dijamin, kalian bakal pulang dengan cerita yang nggak bakal habis buat diceritain ke temen-temen tongkrongan!
Next News

HILYATUL JANNAH: PERHIASAN MUSLIMAH SEJATI
2 days ago

BERSOSIAL MEDIA DENGAN AKHLAK
4 days ago

PANCASILA: CAHAYA PERSATUAN DALAM BINGKAI KEBERAGAMAN
9 days ago

JERAT KEMEWAHAN: ANTARA KESENANGAN SEMU DAN KEHANCURAN HAKIKI
11 days ago

SABAR MENGHADAPI ISTRI GALAK: ALLAH ANGKAT LEVEL JADI WALI QUTHUB
13 days ago

Hari Arafah: Hari Pengampunan dan Mustajabnya Doa
16 days ago

MENELAAH KEMBALI ARTI SEBUAH SOPAN SANTUN
18 days ago

MENYOAL LEGALITAS KEADILAN DI INDONESIA
20 days ago

Biografi Singkat Tokoh-tokoh Habib Berpengaruh di Indonesia
23 days ago

Bullying dan Dampak Psikologis Serius: Tinjauan dan Pencegahan
23 days ago
