KISAH MENYENTUH PEREMPUAN TUNANETRA
PT. Assrof Media - Sunday, 16 March 2025 | 12:32 PM


Sumber foto: Pinterest
Bulan Ramadan merupakan bulan yang sangat dinantikan oleh umat Muslim. Suasana khusyuk dan penuh berkah menyelimuti setiap aktivitas. Di bulan ini, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan intensitas ibadah, termasuk memperbanyak doa, membaca Al-Qur'an, dan melakukan amal kebaikan
Allah ta'ala berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat ke-186:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦
Artinya, "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al-Baqarah : 186).
Ibnu 'Asyur dalam tafsirnya at-Tahrir wat Tanwir bahwa ayat di atas dapat disebut juga sebagai ayat yang menegaskan kemuliaan Ramadhan sebagai bulan dikabulkannya doa-doa. Alasannya, ayat ini didahului oleh ayat tentang bulan Ramadhan (ayat ke-185 surah Al-Baqarah). Ia berkata:
وفي هذه الآية إيماء إلى أن الصائم مرجو الإجابة، وإلى أن شهر رمضان مرجوة دعواته، وإلى مشروعية الدعاء عند انتهاء كل يوم من رمضان.
Artinya, "Ayat ini mengandung pesan bahwa orang yang berpuasa lebih berpotensi dikabulkan doanya, dan Ramadan adalah bulan anjuran memperbanyak doa, serta menunjukkan anjuran berdoa di akhir setiap hari bulan Ramadan." (Ibnu 'Asyur, at-Tahrir wat Tanwir, , jilid II, hal. 177).
Mengenai doa yang berpotensi dikabulkan di bulan Ramadhan, Syu'aib bin Muhriz pernah menceritakan, bahwa pada masa Muhammad bin Sulaiman, seorang tokoh penting dalam Dinasti 'Abbasiyyah, terdapat seorang perempuan yang buta.
Suatu hari pada malam ke-24 bulan Ramadhan tiba-tiba saja matanya sembuh. Syu'aib bin Muhriz yang kaget mendengar kabar seorang yang buta dan tiba-tiba sembuh mencoba untuk mendatanginya untuk memastikan kebenaran kabar tersebut.
Syu'aib pun mendatangi perempuan tersebut di rumah Musa al-Muhtasib di Bashrah. Ketika mengetahui ada yang mengunjunginya, perempuan tersebut meminta untuk duduk menunggu di depan rumah.
Tatkala keluar rumah tersebut, Syu'aib melihat bahwa mata perempuan tersebut normal layaknya tidak pernah terjadi kebutaan sebelumnya. Syu'aib pun bertanya kepadanya, "Wahai hamba Allah, doa apa yang engkau panjatkan kepada Tuhanmu?"
"Aku melaksanakan shalat pada malam pertama bulan Ramadhan di masjid Al-Hay. Kemudian di waktu sahur, aku pun melaksanakan shalat di tempat shalat di rumahku, aku berdoa:
يَا كَاشِفَ ضُرِّ أَيُّوبَ، يَا مَنْ رَحِمَ شَيْبَةَ يَعْقُوبَ، يَا مَنْ رَدَّ يُوسُفَ عَلَى يَعْقُوبَ، رُدَّ عَلَيَّ بَصَرِي
Artinya, "Wahai Yang Menyingkap kesulitan Nabi Ayub, wahai Yang Maha Penyayang kepada Nabi Ya'qub yang telah beruban, wahai Yang mengembalikan Nabi Yusuf kepada Nabi Ya'qub, mohon kembalikanlah penglihatanku kepadaku."
"Seketika saja, setelah aku berdoa demikian seolah ada yang melepaskan sesuatu yang selama ini menutupi mataku, sehingga aku pun bisa melihat." (Ibnu Abi Dunya, Mujabud Da'wah, , jilid I, hal. 79).
Cerita di atas diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya, seorang ulama yang konsen dalam bidang hadits dan periwayatan dalam salah satu karyanya yang berjudul Mujabud Da'wah. Tidak dapat dipastikan siapa nama perempuan dalam kisah tersebut, akan tetapi ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari kisah di atas.
Di antara hikmah kisah di atas adalah hendaknya kita memaksimalkan Ramadhan untuk beribadah kepada Allah, misalnya dengan mengisi malam-malam Ramadhan dengan ibadah sunnah seperti shalat tarawih, tahajud, witir dan zikir serta doa kepada Allah. Nabi saw pernah bersabda:
إِنَّ للصَائِم عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ
Artinya: "Sungguh ketika berbuka, orang yang berpuasa mempunyai doa yang tidak tertolak (baca:dikabulkan)." (HR Ibnu Majah)
Selain itu, kita juga dianjurkan untuk tidak berputus asa terhadap pertolongan Allah dengan menyelipkan kebutuhan pada setiap doa yang kita panjatkan kepada-Nya. Sebab kita tidak tahu pada doa yang keberapa kalinya kebutuhan kita akan dikabulkan. Wallahu a'lam
Next News

Seni Menemukan Diri di Balik Gerbang Pesantren: Lebih dari Sekadar Ngaji
4 hours ago

Sabar dan Ikhlas: Survival Kit Wajib Biar Nggak Tumbang di Pondok Pesantren
4 hours ago

Mantra Sakti di Balik Sarung dan Peci: Menelisik Kekuatan Doa dalam Keseharian Santri
4 hours ago

Rahasia di Balik Sarung: Menelisik Amalan Harian Santri yang Bikin Hidup Nggak Cuma 'Slay' tapi Berkah
4 hours ago

Antara Kantuk dan Keajaiban: Kenapa Sepertiga Malam Itu 'The Real Life Hack'
4 hours ago

Kenapa Percuma Pintar Kalau Kelakuan Minus? Menakar Pentingnya Adab Sebelum Ilmu
4 hours ago

Kenapa Percuma Pintar Kalau Kelakuan Minus? Menakar Pentingnya Adab Sebelum Ilmu
4 hours ago

Seni Bertahan Hidup di Pondok: Saat Manja Bukan Lagi Pilihan
4 hours ago

Tips Menghafal Al-Qur'an buat Kita yang Masih Amatir: Nggak Usah Buru-buru, yang Penting Istiqomah
4 hours ago

Bukan Sekadar Sarungan: 5 Kebiasaan Santri yang Jadi Modal Rahasia Menaklukkan Dunia
4 hours ago





