LANGGAR DUKUR KAYU: SAKSI BISU PERJUANGAN DAN SEJARAH
PT. Assrof Media - Monday, 22 September 2025 | 02:24 PM


Surabaya adalah salah satu kota metropolitan di Indonesia yang di dalamnya banyak menyimpan kisah dan sejarah unik dari perjuangan kemerdekaan dan sejarah perkembangan islam. Sehingga kota ini disebut juga dengan Kota Pahlawan. Jejak-jejak sejarahpun terus digali oleh masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat jati diri Surabaya sebagai Kota Pahlawan.
Salah satunya adalah Langgar Dukur Kayu, Salah satu situs bersejarah di Kampung Lawang Seketeng yang terletak di Jalan Lawang Seketeng Gang IV atau Gang Ponten RT 6 RW 15, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng. Surabaya. Tempat ini merupakan sebuah Langgar Atau Mussholla yang digunakan sebagai tempat ibadah dan menyimpan banyak historis yang sangat berharga di dalamnya.
Bangunan seluas 39 meter ini konon didirikan oleh beberapa ulama yang berdiam di kampung Lawang Seketeng pada Januari 1893 sebagaimana yang tertulis Arab pegon pada tengah Mimbar Imam yang berbentuk segi tiga seperti atap rumah, mimbar itu terpasang di dinding, menggantung setinggi 2 meter dengan kalimat berbahasa Jawa : "awitipun jumeneng puniko langgar tahun 1893 sasi setunggal" Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yaitu pembangunan langgar dimulai pada Januari 1893 dan hingga kini masih berdiri kokoh dengan dinding dari kayu yang terawat dengan baik.
Langgar atau mushallah berlantai 2 (dua) ini terbuat dari kayu jati, selain itu bagian luar mimbar ditempeli potongan kayu sehingga dari luar terlihat menyerupai sisik ikan. Sehingga Langgar ini dinamakan dengan Langgar Dukur Kayu.
Pada zaman kolonial lantai dasar Langgar Dukur Kayu ini dipergunakan sebagai tempat berkumpulnya para pejuang dalam merundingkan kemerdekaan Indonesia, juga pemuda-pemuda Anshor dan pemuda dari partai Nahdlatul Ulama, hal ini dibuktikan dengan adanya Plakat Partai NU masih menempel utuh di lantai bawah.
Di tempat itu pula Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau yang dikenal dengan H.O.S Cokrominoto berunding dengan tokoh bangsa lainnya saat zaman penjajahan. Menurut salah satu takmir atau pengurus Langgar Dukur Kayu yaitu bapak Rifa'at menuturkan, bawah pada saat ini lantai bawah digunakan sebagai balai pertemuan warga.
Sedangkan untuk menuju lantai dua, kita harus menaiki tujuh anak tangga. Disana terdapat banyak peninggalan kuno bersejarah yang saat ini tetap ada. Diantaranya adalah sebuah al-Qur'an kuno yang menarik perhatian. Al-Qur'an ini memiliki sampul kulit hewan dan ditulis langsung dengan tangan, serta setiap lembarannya dilengkapi dengan setempel air dari Kerajaan Hindia Belanda. Keberadaan al-Qur'an ini tidak hanya menambah nilai religius tempat tersebut, tetapi juga mencerminkan pengaruh budaya dan sejarah yang melekat pada Langgar Dukur Kayu.
Selain itu, ditemukan juga lembaran jadwal sholat (Ilmu Falak) bertulis tangan yang terdapat di dinding Langgar. Juga sebuah tombak dengan panjang ± 2 m di samping al-Qur'an tersebut. Langgar ini juga menyimpan historis Presiden RI pertama yaitu Bung Karno, yang mana semasa kecil beliau juga penah belajar mengaji di tempat ini. Salah satu guru ngaji Soekarno kecil adalah Mbah Pitono yang makamnya berada di gang III tidak jauh dari langgar.
Langgar Dukur inipun telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Surabaya sebagai bangunan cagar budaya pada tanggal 10 Nopember 2019 dan dibuka setiap hari pada waktu salat. Pengunjung dapat datang tanpa harus membayar tiket masuk, menjadikannya sebagai tempat yang terbuka untuk umum dan memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk mengunjungi dan merasakan suasana sejarah serta religius yang ada di sana. Dengan keberadaan Langgar Dukur Kayu, Surabaya tidak hanya memiliki tempat ibadah yang masih aktif, tetapi juga sebuah warisan sejarah yang patut dilestarikan. Langgar ini merupakan contoh nyata dari kekayaan budaya dan sejarah lokal yang harus dijaga dan dihargai oleh generasi mendatang.
Oleh: A. Harry Mukti
Next News

Grebeg Maulud: Ritual Rebutan Berkah yang Bikin Jantung Mau Copot tapi Tetap Nagih
18 hours ago

Mencicipi Hangatnya Paskah di Indonesia: Dari Ritual Syahdu Sampai Perburuan Telur yang Chaos
18 hours ago

Mappacci: Bukan Sekadar Pakai Kutek, Tapi Ritual 'Deep Cleaning' Jiwa ala Bugis-Makassar
18 hours ago

Ngeri-Ngeri Sedap: Mengulik Debus, Warisan Jawara Banten yang Bikin Bulu Kuduk Berdiri
18 hours ago

Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa
18 hours ago

Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh
18 hours ago

Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita
18 hours ago

Mengenal Erau: Pesta Rakyat Kalimantan Timur yang Lebih dari Sekadar Hura-hura
18 hours ago

Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta
18 hours ago

Bukan Cuma Sekadar Pesta: Menyesap Magis di Semarak Festival Danau Toba
18 hours ago





