Rabu, 10 Juni 2026
Assirojiyah.online
KPPA

Menelusuri Hangatnya Imlek di Pecinan: Lebih dari Sekadar Barongsai dan Angpao

PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM

Background
Menelusuri Hangatnya Imlek di Pecinan: Lebih dari Sekadar Barongsai dan Angpao
Menelusuri Hangatnya Imlek di Pecinan: Lebih dari Sekadar Barongsai dan Angpao (istimewa/)

Menelusuri Hangatnya Imlek di Pecinan: Lebih dari Sekadar Barongsai dan Angpao

Kalau kita bicara soal Imlek, hal pertama yang terlintas di kepala biasanya adalah warna merah yang mentereng, suara petasan yang bikin kaget, atau tentu saja—angpao. Tapi, kalau mau merasakan esensi yang benar-benar "nyess" di hati, cobalah melipir ke kawasan Pecinan. Entah itu Glodok di Jakarta, Kya-Kya di Surabaya, atau Pasar Gede di Solo, suasananya selalu punya sihir tersendiri yang nggak bakal bisa ditemukan di mal-mal mewah.

Di Pecinan, Imlek bukan cuma soal diskon baju baru. Ini adalah tentang denyut nadi kehidupan, tradisi yang diwariskan lewat aroma hio, dan keramaian yang jujur. Masuk ke gang-gang sempitnya saja sudah membuat kita merasa seperti sedang "pindah dimensi".

Ritual Beberes Rumah yang Bikin Gempor

Beberapa hari sebelum hari H, suasana di Pecinan biasanya sudah mulai sibuk. Jangan harap bisa santai-santai, karena ada tradisi bersih-bersih rumah besar-besaran. Buat mereka yang merayakan, membersihkan rumah sebelum Imlek itu hukumnya wajib. Logikanya simpel tapi dalam: kita membuang sial dan energi negatif tahun lalu biar rezeki baru bisa masuk tanpa hambatan.

Lucunya, saat hari H tiba, menyapu lantai malah jadi hal yang dilarang keras. Katanya sih, kalau kita menyapu saat hari pertama Imlek, sama saja kita menyapu keberuntungan keluar rumah. Jadi, ya, kalau ada sampah sedikit, tahan dulu saja sampai besoknya. Agak unik memang, tapi di situlah letak seninya. Kepercayaan-kepercayaan kecil seperti ini yang bikin perayaan di Pecinan terasa sangat manusiawi dan penuh makna.

Aroma Kue Keranjang dan Filosofi Lengketnya Keluarga

Main ke Pecinan saat menjelang Imlek berarti siap-siap "diserang" oleh aroma manis dari kue keranjang atau Nian Gao. Di lapak-lapak kaki lima, kue ini tumpah ruah. Teksturnya yang lengket dan rasanya yang manis bukan tanpa alasan. Konon, kelengketan itu melambangkan hubungan keluarga yang makin erat. Sedangkan rasa manisnya adalah doa supaya hidup di tahun yang baru juga penuh dengan hal-hal manis.

Jangan lupakan juga jeruk santang yang warnanya oranye cerah. Jeruk ini dianggap sebagai simbol emas atau kemakmuran. Makanya, kalau bertamu ke rumah saudara di Pecinan, pasti deh meja tamunya penuh dengan tumpukan jeruk ini. Makan satu, rasanya segar; makan dua, nagih; makan sekilo, ya risiko tanggung sendiri. Tapi intinya, berbagi makanan adalah bahasa cinta paling universal di kawasan ini.

Barongsai: Rock Star-nya Pecinan

Nggak afdol rasanya kalau ke Pecinan tapi nggak nonton Barongsai. Di sini, Barongsai bukan sekadar tontonan biasa. Begitu bunyi tabuhan simbal dan drum menggema, warga dari berbagai latar belakang bakal tumplek blek di pinggir jalan. Anak-anak kecil naik ke pundak bapaknya, sementara anak muda sibuk mengabadikan momen lewat kamera HP mereka.

Ada sensasi magis saat melihat naga dan singa itu menari-nari lincah. Barongsai dipercaya bisa mengusir roh jahat dengan kebisingan dan gerakannya yang gagah. Dan momen paling ikonik tentu saja saat penonton menyodorkan angpao ke mulut Barongsai. Ada kepuasan tersendiri saat angpao itu "dimakan", seolah-olah kita baru saja memberikan sumbangan untuk kebaikan bersama. Vibes-nya itu lho, benar-benar terasa kebersamaannya.

Asap Hio dan Keheningan di Balik Keramaian

Di tengah hiruk-pikuk suara petasan dan tawa orang-orang, ada satu sudut yang selalu menawarkan ketenangan: Klenteng. Di Pecinan, Klenteng adalah pusat gravitasi spiritual. Saat Imlek, asap hio bakal mengepul tebal, menciptakan suasana yang sakral sekaligus dramatis.

Orang-orang datang dengan rapi, memegang hio, dan berdoa dengan khusyuk. Di sini, kita bisa melihat sisi lain dari perayaan ini—sebuah harapan jujur kepada Tuhan dan leluhur untuk kesehatan, keselamatan, dan keberkahan. Meski kita mungkin cuma jadi penonton atau turis lokal, melihat kesungguhan mereka berdoa bikin kita sadar bahwa seberisik apa pun dunia di luar sana, manusia selalu butuh waktu untuk kembali ke "dalam" dan bersyukur.

Imlek Adalah Milik Semua Orang

Satu hal yang paling saya sukai dari perayaan Imlek di Pecinan adalah sifatnya yang inklusif. Di pasar-pasar Pecinan, yang jualan nggak cuma warga keturunan Tionghoa. Abang-abang ojek, penjual es tebu, sampai tukang parkir pun ikut kecipratan rezeki dan kemeriahan. Mereka semua memakai baju merah, saling melempar senyum, dan mengucapkan "Gong Xi Fa Cai" dengan logat lokal yang kental.

Pecinan menjadi bukti nyata kalau perbedaan itu sebenarnya bisa dirayakan dengan cara yang sangat asyik. Nggak ada sekat-sekat kaku. Semuanya melebur dalam kegembiraan menyambut tahun baru yang penuh harapan. Tradisi ini bukan cuma soal melestarikan budaya nenek moyang, tapi juga soal menjaga tali silaturahmi antar tetangga yang sudah terjalin berpuluh-puluh tahun.

Penutup: Harapan di Tahun Baru

Merayakan Imlek di Pecinan itu seperti meminum secangkir teh hangat di tengah hujan—menenangkan dan bikin betah. Kita diingatkan kembali soal pentingnya keluarga, nilai berbagi, dan keberanian untuk bermimpi di tahun yang baru. Jadi, kalau kalian belum punya agenda, coba deh mampir ke Pecinan terdekat. Rasakan sendiri sensasi "huru-hara" yang menyenangkan itu. Siapa tahu, sepulang dari sana, semangat kalian jadi ikut menyala seperti warna merah yang mendominasi setiap sudut jalannya. Selamat merayakan, dan semoga tahun ini penuh keberuntungan buat kita semua!