MERASA DIBUTUHKAN DAN MERASA BUTUH
PT. Assrof Media - Saturday, 18 June 2022 | 09:06 AM


Baginda Rosululloh bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
"Sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. " (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Saya awali tulisan ini dengan sebuah keluhan sekaligus ungkapan marah dari seorang wanita terhadap sikap sang suami.
لاَ حَاجَةَ لِيْ بِشَخْصٍ يَسْتَكْثِرُ نَفْسَهُ عَيَّ وَكَاَنِّيْ لاَ اَمْلِكُ مِنَ اْلبَشَرِيَّةِ اِلاَّ رِفْقَتَهُ
"Aku tidak butuh pada seseorang yang merasa lebih secara berlebihan terhadapku. Seakan-akan aku tidak punya apapun secara kemanusiaan kecuali belas kasihnya."
Merasa butuh dan merasa dibutuhkan, dua perasaan yang tidak atau kurang baik dimiliki seseorang.
Merasa dibutuhkan akan mengantarkan kita menuju istana ilusi kejumawaan, angkuh, dan sok. Dan berujung somse (sombong sekali).
Merasa butuh, akan mengantarkan kita pada tebing-tebing penyanderaan diri dan bisa berujung pada situasi keterjajahan.
Tunggu,… merasa dibutuhkan dalam bingkai yang positif tentu juga ada. Misalkan, merasa dibutuhkan oleh anak dan istri, murid-murid yang hendak belajar huruf demi huruf, dan tetangga dan kerabat yang sama-sama dalam tata hubungan yang baik.
Rasa merasa dibutuhkan itu, hendaknya bisa mengantarkan diri pada Kristal-kristal pertanggung jawaban yang proporsional. Menumbuhkan rasa kasih sayang dan perhatian yang semestinya.
Rasa merasa butuh juga ada versi positifnya. Misalkan seorang juragan merasa butuh pada karyawan, sehingga menumbuhkan sifat-sifat baik utuk memperlakukan dengan lebih baik dan tambah baik. Demikian pula sebaliknya karyawan merasa butuh pada bosnya sehingga ia akan bekerja dengan amanah sebagai timbal balik jasa atas apa yang ia dapat dari sang majikan.
Nah, Pada tataran kesejatian hidup, rasa butuh dan membutuhkan hanyalah dapat diteguhkan dari para makhluk pada Sang Kholiq. Tidak boleh sedikit pun seseorag merasa butuh pada makhluk yang lain.
Tentang ungkapan di atas, "Aku tidak butuh pada seseorang yang merasa lebih secara berlebihan terhadapku. Seakan-akan aku tidak punya apapun secara kemanusiaan kecuali belas kasihnya."
Dalam konteks seorang istri yang sedang gundah atas perilaku sang suami yang sering menyebu- nyebut betapa dirinya telah memberikan kehidupan yang layak pada istrinya. Yang dia lihat hanyalah kehebatannya. Sang istri hanyalah pelengkap hidup. Naudzu Billah.
Tentu ini adalah akibat dari sikap jumawa dari perasaan seseorang yang merasa dirinya dibutuhkan orang lain, istri, teman, bawahan, dan lain lain.
Menyimpulkan, bila kita sedang dibutuhkan orang lain, jadilah air yang mengalir ke bawah, sampai ke relung kehidupan, tanpa mendongak wajah, membusung dada.
Jika kita sedang membutuhkan orang lain, hendaklah tahu diri, mau menghormat, menghargai, jangan sampai jadi kedelai lupa kulit, ehh… Kacang. Tapi jangan sampai mendewakan. Ingat, sebagian sampai melupakan orang yang malah lebih berjasa dalam kehidupannya.
Rabu12-01-2022*
Next News

Biografi Singkat Tokoh-tokoh Habib Berpengaruh di Indonesia
2 hours ago

Bullying dan Dampak Psikologis Serius: Tinjauan dan Pencegahan
2 hours ago

Lima Peluang Emas: Meraih Keberhasilan Sebelum Keterbatasan Tiba
3 days ago

Dzul Qa'dah: Bulan 'Kejepit' yang Sering Terlupakan, Padahal Pas Banget Buat Healing Spiritual
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Bulan Kalem yang Sering Dilupakan, Padahal Penuh "Privilege" dan Pantangan Gak Main-Main
a month ago

Nungguin Lebaran Haji Jangan Cuma Pas Motong Kambing, Yuk Pemanasan Spiritual dari Bulan Dzul Qa'dah!
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Bulan 'Kalem' yang Sering Terlupakan, Padahal Penuh Makna
a month ago

Mengenal Dzul Qa'dah: Si Bulan 'Tenang' yang Ternyata Punya Kedudukan Spesial
a month ago

Dzul Qa'dah: Si "Bulan Gabut" yang Ternyata Punya Makna Mendalam
a month ago

Menemukan Makna di Balik Sunyinya Dzul Qa'dah: Bukan Sekadar Bulan Kejepit
a month ago
