Rabu, 10 Juni 2026
Assirojiyah.online
KPPA

Pesta Rakyat, Lautan Manusia, dan Kenangan Karbala: Menyelami Tradisi Tabuik di Pariaman

PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM

Background
Pesta Rakyat, Lautan Manusia, dan Kenangan Karbala: Menyelami Tradisi Tabuik di Pariaman
Pesta Rakyat, Lautan Manusia, dan Kenangan Karbala: Menyelami Tradisi Tabuik di Pariaman (istimewa/)

Pesta Rakyat, Lautan Manusia, dan Kenangan Karbala: Menyelami Tradisi Tabuik di Pariaman

Kalau kamu main ke Sumatera Barat, jangan cuma mentok di Jam Gadang Bukittinggi atau makan nasi padang di pinggir jalan Kota Padang. Coba geser sedikit ke arah pesisir, tepatnya ke Kota Pariaman. Kota yang dikenal dengan pantai-pantainya yang landai dan matahari terbenam yang juara ini punya satu hajatan besar yang nggak cuma bikin merinding, tapi juga bikin adrenalin terpacu. Namanya Tradisi Tabuik.

Tabuik itu bukan sekadar festival budaya biasa. Ini adalah sebuah pertunjukan kolosal yang melibatkan emosi, sejarah panjang, persaingan sehat antar kampung, sampai kerumunan manusia yang tumpah ruah bak lautan. Bayangkan saja, sebuah kota kecil tiba-tiba "meledak" oleh ribuan orang yang ingin menyaksikan sebuah monumen megah dilarung ke laut saat senja. Vibe-nya itu lho, antara sakral dan pesta rakyat, campur aduk jadi satu.

Bukan Produk Lokal Asli, Tapi Akulturasi yang Keren

Nah, buat yang belum tahu, Tabuik ini sebenarnya punya sejarah yang unik. Ia nggak lahir murni dari budaya Minangkabau asli, melainkan hasil akulturasi yang luar biasa. Konon, tradisi ini dibawa oleh tentara Sepoy asal India yang beragama Islam Syiah. Mereka dibawa oleh Inggris ke Bengkulu pada abad ke-19, lalu menyebar sampai ke Pariaman. Makanya, kalau kamu lihat bentuk Tabuik, ada sentuhan estetika yang agak beda dari bangunan rumah gadang pada umumnya.

Secara esensi, Tabuik dirayakan untuk memperingati wafatnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam peristiwa Karbala. Tapi seiring berjalannya waktu, masyarakat Pariaman mengemasnya menjadi warisan budaya yang sangat identik dengan identitas mereka. Meskipun masyarakat Pariaman mayoritas Sunni, mereka tetap menjaga tradisi ini sebagai bentuk penghormatan sejarah dan tentu saja, daya tarik wisata yang nggak ada duanya di Indonesia.

Prosesi Panjang yang Nggak Main-Main

Jangan pikir Tabuik itu cuma acara sehari jadi. Persiapannya itu butuh waktu sepuluh hari, dimulai dari tanggal 1 sampai 10 Muharram. Ada rentetan ritual yang kalau diikuti satu-satu, berasa banget "soul"-nya. Mulai dari Maambil Tanah (mengambil tanah), Manabang Batang Pisang (menebang batang pisang), sampai Maatam (meratap).

Salah satu momen paling epik adalah saat Maarak Jari-jari dan Maarak Saroban. Di sini, suasana mulai memanas. Musik perkusi khas Pariaman, yaitu Gendang Tasa, mulai ditabuh tanpa henti. Suaranya itu lho, benar-benar bikin jantung ikutan berdegup kencang. Duk-tak-duk-tak! Kalau kamu berdiri di tengah kerumunan, rasanya pengen ikutan goyang atau minimal teriak saking semangatnya. Inilah yang disebut "Gempita Tabuik".

Persaingan Abadi: Tabuik Pasa vs Tabuik Subarang

Ini bagian yang paling seru. Di Pariaman, ada dua kubu besar dalam pembuatan Tabuik, yaitu Tabuik Pasa (Pasar) dan Tabuik Subarang (Seberang). Keduanya seolah-olah bersaing untuk bikin Tabuik paling megah, paling tinggi (bisa sampai 12 meter!), dan paling artistik. Persaingan ini bukan berarti mau berantem ya, tapi lebih ke gengsi budaya yang bikin suasana makin hidup.

Tabuik itu sendiri berbentuk seperti kuda bersayap dengan kepala manusia yang cantik, yang disebut Buraq. Di punggungnya, ada keranda bertingkat yang dihias dengan bunga-bunga kertas dan kain beludru. Detailnya gila banget! Kalau dilihat dari dekat, kamu bakal geleng-geleng kepala melihat ketelatenan para pengrajinnya. Bayangkan, struktur setinggi itu dibuat manual dan harus kuat untuk digoyang-goyangkan oleh puluhan orang saat prosesi puncak nanti.

Puncak Acara: Saat "Kuda Sayap" Bertemu Samudera

Hari terakhir adalah gong-nya. Seluruh masyarakat dari berbagai penjuru Sumatera Barat, bahkan turis mancanegara, tumplek blek di Pantai Gandoriah. Suasana makin riuh saat kedua Tabuik (Pasa dan Subarang) diarak menuju pantai. Di sini bukan lagi soal estetika, tapi soal kekuatan fisik dan kekompakan tim yang menggotongnya.

Saat matahari mulai turun, di saat langit berubah jadi oranye kemerahan, kedua Tabuik itu dilarung ke laut. Orang-orang bakal berebut mengambil bagian-bagian dari Tabuik itu karena percaya ada keberuntungan di baliknya. Momen ini bener-bener emosional. Ada rasa lega, haru, sekaligus bangga. Melihat monumen yang dibuat berhari-hari itu akhirnya hancur dimakan ombak, seolah-olah menjadi simbol melepaskan segala duka dan beban masa lalu.

Tabuik di Mata Anak Muda Zaman Now

Mungkin ada yang bertanya, "Hari gini masih nonton tradisi kuno?". Eits, jangan salah. Tabuik justru makin hits di kalangan milenial dan Gen Z. Kenapa? Karena ini konten visual yang sangat aesthetic dan instagrammable. Selain itu, ada kebanggaan tersendiri bisa melestarikan budaya yang sudah mendunia ini. Pariaman nggak cuma jadi kota yang tenang, tapi jadi pusat perhatian dunia selama festival ini berlangsung.

Secara opini pribadi, Tabuik itu lebih dari sekadar tontonan. Ia adalah pengingat bahwa kita punya sejarah yang kaya, yang melewati batas-batas negara dan mazhab. Ia mengajarkan tentang kerja keras, seni, dan persatuan. Meskipun pas acara puncaknya bakal panas-panasan, desak-desakan, dan mungkin kaki pegel, tapi pengalaman yang didapat itu priceless banget.

Jadi, kalau tahun depan kamu ada waktu di bulan Muharram, kosongkan jadwal. Beli tiket ke Padang, naik kereta api Sibinuang menuju Pariaman, dan rasakan sendiri magisnya Tradisi Tabuik. Tapi ingat, siapin fisik dan mental buat masuk ke dalam lautan manusia ya! Dijamin, kamu bakal pulang dengan cerita yang nggak bakal habis diceritakan ke teman-temanmu di tongkrongan.