Kamis, 25 Juni 2026
Assirojiyah.online
KPPA

Roro Jonggrang: Kisah Deadline Paling Absurd dan Red Flag Bandung Bondowoso

PT. Assrof Media - Wednesday, 15 April 2026 | 12:00 PM

Background
Roro Jonggrang: Kisah Deadline Paling Absurd dan Red Flag Bandung Bondowoso
Roro Jonggrang: Kisah Deadline Paling Absurd dan Red Flag Bandung Bondowoso (istimewa/)

Roro Jonggrang: Kisah Deadline Paling Absurd dan Red Flag Bandung Bondowoso

Pernah nggak sih kalian ngerasa dikejar deadline yang nggak masuk akal? Misalnya, bos atau dosen minta revisi kelar dalam satu jam padahal bahannya belum ada sama sekali. Rasanya pengen marah tapi nggak bisa, kan? Nah, kalau kalian merasa beban hidup kalian sudah paling berat, coba ingat-ingat lagi kisah legendaris dari tanah Jawa ini: Bandung Bondowoso dan proyek ambisius membangun seribu candi dalam satu malam. Kalau ini terjadi di zaman sekarang, mungkin Bandung Bondowoso sudah kena cancel massal karena dianggap toxic, sementara Roro Jonggrang bakal jadi ikon "creative problem solving" paling jenius di masanya.

Kisah ini bermula dari sisa-sisa peperangan antara Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Singkat cerita, Bandung Bondowoso dari Pengging berhasil menang dan membunuh Prabu Baka. Tapi, bukannya fokus melakukan konsolidasi kekuasaan, dia malah naksir sama anak musuhnya, Roro Jonggrang. Di sinilah letak red flag pertamanya. Masa iya, kamu membunuh ayah seseorang lalu dengan santainya ngajak anaknya nikah? Itu namanya bukan cinta, tapi obsesi yang agak ngeri-ngeri sedap.

Syarat Mustahil yang Jadi Boomerang

Roro Jonggrang tentu saja nggak bodoh. Dia nggak mau dong nikah sama orang yang sudah bikin keluarganya hancur. Tapi masalahnya, Bandung Bondowoso ini sakti mandraguna. Menolak mentah-mentah sama saja dengan mengundang maut. Akhirnya, Roro Jonggrang memutar otak dan memberikan syarat yang menurutnya mustahil dilakukan manusia normal: buatkan seribu candi dalam waktu satu malam saja, sebelum ayam berkokok.

Kalau kita pikir pakai logika sehat, syarat ini adalah cara halus untuk bilang "nggak". Ibarat kata anak zaman sekarang, "Aku mau jadian sama kamu kalau kamu bisa beliin aku seluruh saham Tesla besok pagi." Jelas-jelas itu penolakan. Tapi masalahnya, Bandung Bondowoso ini tipe cowok yang sat-set-das-des dan punya koneksi orang dalam di dunia gaib. Dia nggak pakai kontraktor manusia, melainkan memanggil ribuan jin dan makhluk halus untuk mengerjakan proyek "Candi-Ngerjain" ini.

Di sinilah suasana jadi makin intens. Bayangkan ribuan roh halus bekerja serentak, suara batu beradu, dan bangunan-bangunan megah mulai bermunculan satu per satu dari balik tanah. Bandung Bondowoso mungkin saat itu sudah merasa di atas angin. Dia sudah membayangkan bakal duduk di pelaminan bareng Roro Jonggrang sambil pamer proyek megah yang selesai sebelum fajar.

Aksi Tipu-Tipu yang Bikin Gagal Total

Melihat progres pembangunan yang terlalu cepat, Roro Jonggrang mulai panik. Candi-candi itu hampir selesai, tinggal satu lagi untuk mencapai angka seribu. Kalau dia diam saja, fajar belum muncul tapi syarat sudah terpenuhi. Di sinilah kepintaran Roro Jonggrang teruji. Dia nggak butuh otot atau kesaktian, dia cuma butuh kreativitas.

Dia mengumpulkan para pelayan perempuan di desa, menyuruh mereka membakar jerami di arah timur agar langit terlihat kemerahan seperti fajar. Nggak cuma itu, mereka juga disuruh menumbuk lesung kayu (alat penumbuk padi) dengan keras. Suara gaduh dan cahaya merah buatan itu berhasil menipu ayam-ayam di desa. Mereka mengira matahari sudah terbit, lalu mulailah mereka berkokok bersahut-sahutan.

Para jin yang sedang bekerja pun panik. Sebagai makhluk malam, mereka paling anti sama sinar matahari. Begitu dengar suara ayam dan melihat cahaya di ufuk timur, mereka langsung kabur kocar-kacir balik ke alamnya masing-masing, padahal satu candi terakhir belum kelar. Bandung Bondowoso ditinggal sendirian di tengah proyek yang belum 100 persen beres.

Ending yang Tragis dan Pelajaran Hidup

Pas tahu dirinya ditipu, Bandung Bondowoso bukannya introspeksi diri malah ngamuk luar biasa. "Kurang satu candi lagi, kan? Ya sudah, kamu saja yang jadi candi ke-seribu!" begitu mungkin kira-kira kalimatnya sebelum dia mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca batu. Sampai sekarang, masyarakat percaya kalau arca Dewi Durga yang ada di Candi Prambanan adalah perwujudan dari Roro Jonggrang yang dikutuk itu.

Kalau kita bedah pakai kacamata kekinian, kisah ini sebenarnya dark banget. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah hubungan yang dipaksakan nggak akan pernah berakhir baik. Bandung Bondowoso mewakili sosok yang punya power tapi minim empati, sementara Roro Jonggrang adalah simbol perlawanan terhadap penindasan, meski akhirnya dia harus jadi korban.

Jujur aja, kalau main ke Candi Prambanan sekarang, aura kemegahannya memang luar biasa. Tapi di balik batu-batu yang tersusun rapi itu, ada narasi tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, pengkhianatan, dan dendam yang membatu. Prambanan bukan cuma sekadar objek wisata sejarah, tapi pengingat kalau "ghosting" di zaman dulu itu levelnya lebih ekstrem: bukan cuma ditinggal chat tanpa kabar, tapi dikutuk jadi batu sekalian.

Buat kalian yang lagi berjuang mengejar cinta, ingat pesan moral dari cerita ini: jangan terlalu memaksakan kehendak, apalagi sampai minta bantuan jin buat bikin proyek dadakan. Dan buat kalian yang lagi dikejar deadline, syukuri aja kalau bos kalian manusia, bukan Bandung Bondowoso. Minimal kalau kalian telat ngumpulin tugas, kalian nggak akan dikutuk jadi monumen nasional, kan? Jadi, mari kita nikmati keindahan Candi Prambanan sambil merenung, betapa beruntungnya kita hidup di zaman di mana penolakan cinta paling mentok cuma berakhir di kolom blokir WhatsApp, bukan di pahatan batu candi.