Sangkuriang: Cinta Terlarang, Skincare Abadi, dan Tragedi Salah Alamat di Tanah Sunda
PT. Assrof Media - Wednesday, 15 April 2026 | 12:00 PM


Sangkuriang: Cinta Terlarang, Skincare Abadi, dan Tragedi Salah Alamat di Tanah Sunda
Kalau kamu main ke Bandung atau daerah Lembang, pemandangan Gunung Tangkuban Perahu pasti jadi primadona yang nggak boleh dilewatkan. Bentuknya yang mirip perahu terbalik itu memang ikonik banget. Tapi, di balik keindahan kabut dan kawahnya, ada sebuah cerita yang kalau dipikir-pikir lagi sekarang, rasanya lebih "dark" dan lebih "plot twist" daripada drama Korea paling laku sekalipun. Kita bicara soal Sangkuriang—sebuah kisah tentang cinta terlarang yang mentok di restu alam semesta.
Mari kita jujur, cerita Sangkuriang ini adalah level tertinggi dari situasi "awkward". Bayangkan, kamu naksir cewek cantik jelita, eh ternyata dia ibu kandung kamu sendiri. Ini bukan sekadar mitos biasa; ini adalah narasi tentang takdir yang bercanda terlalu jauh. Tapi sebelum kita masuk ke bagian yang bikin dahi berkerut itu, kita harus mulai dari akarnya: Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi ini bisa dibilang "original influencer" di zamannya. Cantiknya nggak ada obat, awet muda, dan punya kharisma yang bikin siapa pun bertekuk lutut. Tapi, nasib membawanya tinggal di hutan hanya ditemani seekor anjing bernama Tumang. Nah, di sinilah keajaiban (atau keanehan) dimulai. Gara-gara sebuah sumpah sepele soal pintalan benang yang jatuh, Dayang Sumbi akhirnya harus menikah dengan Tumang. Plot ini kalau ditaruh di Twitter sekarang pasti langsung jadi "trending topic" dan didebatkan oleh netizen berhari-hari. Ternyata, Tumang ini bukan anjing sembarangan, dia adalah titisan dewa yang sedang kena kutukan. Dari hubungan lintas spesies ini, lahirlah Sangkuriang.
Singkat cerita, Sangkuriang tumbuh jadi pemuda yang gagah, pemberani, tapi ya gitu, agak emosian. Suatu hari saat berburu, karena kesal nggak dapat buruan, dia malah membunuh Tumang. Bayangkan, dia membunuh ayahnya sendiri (walau dia nggak tahu itu bapaknya) demi sepotong hati untuk dibawa pulang ke ibunya. Ini adalah momen pertama di mana tragedi mulai menyelimuti hidupnya. Dayang Sumbi yang tahu kalau itu hati Tumang langsung murka seada-adanya. Sangkuriang dipukul pakai sendok nasi sampai kepalanya bocor, lalu diusir dari rumah. Kasihan? Ya, sedikit. Tapi ya gimana, dia baru saja membantai peliharaan sekaligus ayah kandungnya.
Tahun berganti tahun, Sangkuriang bertransformasi jadi pria dewasa yang makin "glowing" dan sakti mandraguna. Namanya juga cerita rakyat, dunia itu sempit. Dia kembali ke tempat asalnya dan bertemu dengan seorang wanita yang kecantikannya masih tetap sama seperti belasan tahun lalu. Ya, itu Dayang Sumbi. Karena Dayang Sumbi punya resep awet muda (mungkin dia rajin pakai skincare alami atau memang punya gen dewa), Sangkuriang nggak mengenali kalau itu ibunya. Sebaliknya, Dayang Sumbi juga nggak sadar kalau pemuda tampan di depannya adalah anaknya yang dulu dia usir.
Mereka pun jatuh cinta. Benar-benar cinta yang serius sampai tahap ingin menikah. Tapi, rahasia sedalam apa pun pasti bakal terbongkar juga. Pas lagi manja-manjaan, Dayang Sumbi nggak sengaja melihat bekas luka di kepala Sangkuriang. "Deg!" Jantungnya serasa berhenti. Dia ingat betul itu bekas pukulan sendok nasinya bertahun-tahun lalu. Seketika, suasana romantis itu berubah jadi horor. Dayang Sumbi sadar kalau dia hampir saja melakukan kesalahan fatal: menikahi darah dagingnya sendiri.
Di sinilah kecerdasan Dayang Sumbi diuji. Dia nggak bisa langsung bilang "Eh, aku ibumu," karena Sangkuriang sudah kadung bucin alias budak cinta tingkat akut. Maka, dibuatlah syarat yang nggak masuk akal: Sangkuriang harus membendung sungai Citarum dan membuat perahu besar dalam waktu satu malam sebelum fajar menyingsing. Sangkuriang, yang punya koneksi dengan dunia jin, merasa tantangan itu gampang. Dia mengerahkan pasukan "invisible"-nya untuk kerja lembur bagai kuda.
Melihat pekerjaan hampir selesai, Dayang Sumbi panik. Dia nggak mau takdir buruk itu terjadi. Dengan sedikit trik ala ibu-ibu cerdas, dia membentangkan kain sutra merah di ufuk timur dan menyuruh warga menumbuk padi. Suasana jadi terang, ayam jantan tertipu dan mulai berkokok. Para jin anak buah Sangkuriang pun kabur karena mengira matahari sudah terbit. Sangkuriang gagal total.
Marah? Jangan ditanya. Sangkuriang merasa diprank oleh semesta. Dalam puncak emosinya, perahu yang belum jadi itu ditendang sekuat tenaga sampai terbang dan mendarat dalam posisi terbalik. Perahu itulah yang kita kenal sekarang sebagai Gunung Tangkuban Perahu. Sementara itu, Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi sampai akhirnya Dayang Sumbi menghilang (ngahiyang) menjadi bunga di hutan, meninggalkan Sangkuriang dengan penyesalan yang nggak akan pernah selesai.
Kalau kita ambil hikmahnya dari kacamata orang modern, kisah ini sebenarnya mengajarkan soal pentingnya kejujuran dan bahayanya memendam rahasia keluarga. Selain itu, kita juga belajar kalau "red flag" dalam hubungan itu nyata. Kalau sudah ada pertanda dari alam atau orang tua, ya jangan dipaksakan. Sangkuriang adalah pengingat bahwa ambisi yang meledak-ledak tanpa dibarengi kontrol diri hanya akan membuahkan kehancuran.
Sampai hari ini, Tangkuban Perahu tetap berdiri kokoh, menjadi monumen bisu tentang cinta yang salah alamat, kemarahan seorang anak manusia, dan bagaimana alam punya cara sendiri untuk menghentikan sesuatu yang nggak seharusnya terjadi. Jadi, kalau nanti kamu berkunjung ke sana, jangan cuma sibuk foto buat konten Instagram ya. Coba rasakan hembusan anginnya dan ingat-ingat sedikit tentang Sangkuriang yang pernah seberusaha itu, meski akhirnya harus kalah oleh kecerdikan seorang ibu.
Next News

Dzul Qa'dah: Bulan 'Kejepit' yang Sering Terlupakan, Padahal Pas Banget Buat Healing Spiritual
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Bulan Kalem yang Sering Dilupakan, Padahal Penuh "Privilege" dan Pantangan Gak Main-Main
a month ago

Nungguin Lebaran Haji Jangan Cuma Pas Motong Kambing, Yuk Pemanasan Spiritual dari Bulan Dzul Qa'dah!
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Bulan 'Kalem' yang Sering Terlupakan, Padahal Penuh Makna
a month ago

Mengenal Dzul Qa'dah: Si Bulan 'Tenang' yang Ternyata Punya Kedudukan Spesial
a month ago

Dzul Qa'dah: Si "Bulan Gabut" yang Ternyata Punya Makna Mendalam
a month ago

Menemukan Makna di Balik Sunyinya Dzul Qa'dah: Bukan Sekadar Bulan Kejepit
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Anak Tengah yang Sering Kelupaan Padahal Punya Vibes Sultan
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Bulan 'Kalem' yang Ternyata Punya Privilese Jalur Langit
a month ago

Dzul Qa'dah: Si Bulan 'Antara' yang Sering Terlupakan, Padahal Pahalanya Gede Banget!
a month ago
