Shadow

MAFATIHUL HUDA Bukti Perjuangan K. Rosyidi

bv

Pendidikan Madrasah merupakan satu dari sekian banyak media dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam. Sehingga dengan keberadaanya, perintah amar ma’ruf nahi munkar dapat dijalankan di tengah masyarakat. Di Madura sendiri, persebaran madrasah hampir merata di berbagai daerah, khususnya pedesaan. Salah satu yang berhasil Koresponden Majalah Assirojiyyah telusuri yaitu Madrasah Mafatihul Huda. Sebuah lembaga pendidikan yang terletak sekitar 2 Km ke arah barat pasar Blega, Bangkalan.

Histori Madrasah

                Madrasah Mafatihul Huda didirikan oleh K. Rosyidi bin Jawi, salah satu alumni PP Asssirojiyyah di Dsn. Sranggaan, Desa Lombang Laok, Kec. Blega, Kab. Bangkalan. Sebelum berdiri Madrasah, masyarakat setempat terbilang sangat awam akan pengetahuan agama. Hal ini bisa dilihat dari perilaku-perilaku menyimpang  yang terjadi ditengah masyarakat, seperti judi, adu ayam dan lain sebagainya. Sebab inilah yang kemudian K. Rosyidi yang saat itu sedang merantau ke Kota Cirebon diminta masyarakat desa untuk kembali ke kampung halaman. Akhirnya aspirasi tersebut beliau terita dengan kembali ke desanya untuk membimbing masyarakat.

                Setelah kepulangannya, K. Rosyidi melihat  di daerahnya belum ada wadah pendidikan keagamaan bagi masyarakat, khususnya bagi anak-anak. Sehingga dengan niat baik beliau bertekad mendirikan sebuah madrasah pada tahun 1965 M dengan nama Mafatihul Huda. Penamaan madrasah tersebut merupakan pemberian langsung dari gurunya, KH. Bushiri Nawawi atau yang dikenal dengan gelar al-Muallim.

                Pada mulanya tempat belajar mengajar di madrasah ini mengalami tiga kali relokasi (perpindahan). Pertama, belum berbentuk bangunan, hanya berupa lesehan di teras rumah ibunda K. Rosyidi, Nyai. Fathuma. Setelah itu, sekitar tahun 70-an, beliau mendirikan dhalem (rumah) di sebelah utara tempat awal. Di sinilah para santri menimba ilmu dengan memanfaatkan dua lokal kelas yang disekat dengan anyaman bambu (tabing), dan sebagian yang lain berada di musholla. Kemudian, seiring meningkatnya jumlah santri yang belajar dan minimnya sarana yang tersedia, pada tahun 1980 madrasah dipindahkan ke tanah wakof sebelah timur dhalem sampai sekarang. Tercatat data peningkatan santri sejak awal berdirinya madrasah mencapai 350-400 orang.

                Tiga puluh tiga tahun K. Rosyidi mengabdi dan membimbing masyarakat Lombang, yang semula buta agama bisa paham agama. Pahit manis perjuangan menjadi juru dakwah telah ia lalui dengan rasa sabar. Dan tepat pada tgl 17 Ramadhan 1418 H/16 januari 1998, ketika pulang dari Cirebon dengan tujuan silaturahim dan penggalangan dana madrasah, sang pendiri dipanggil  menghadap Alloh.  Yang kemudian kepengurusan madrasah dilanjutkan oleh putranya, K. Romli Rosyidi sebagai pengasuh sekarang.

Jenjang Pendidikan

                Mafatihul Huda mulanya berupa Lembaga Pendidikan Islam (LPI). Kemudian, pada tahun 2007 M berubah menjadi Yayasan Pendidikan Islam (YPI) yang di dalamnya memuat pendidikan formal dan non formal. Perubahan tersebut, semata-mata untuk menyikapi kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan umum, serta agar para murid masih bisa belajar agama dengan efektif.

                Pendidikan formal sendiri terdiri dari PAUD, SMP, SMK dengan kurikulum DIKNAS dan ditambah dengan kajian kitab. Sedangkan untuk non formal berupa madrasah itu sendiri yang meliputi jenjang Raudlatul Athfal (RA), Ibtidaiyah Diniyah, dan Tsanawiyah Diniyah.

Adapun jadwal kegiatan belajar mengajar antara lain: PAUD beroperasi mulai jam 08:00-09:30 WIB, setiap Senin dan Kamis, SMP-SMK jam 07:00-11:30 WIB, dan Madrasah Diniyah (Ra, Mid, Mtsd) dari jam 01:30-0400 WIB. Selain kegiatan kurikulum ada juga ekstra kurikulum meliputi  pengajian al-Quran beserta tafsirnya, kitab Ibnu Aqil dan kitab Tasawwuf.

Hal unik dari yayasan ini adalah adanya kegiatan yang berkesinambungan, dari bangun tidur hingga tidur lagi. Ditambah lagi mata pelajaran yang lengkap sebagaimana di pondok pesantren. Karena memang cita-cita sang pendiri agar mengajarkan pendidikan ala pesantren.

Sarana dan Prasarana

                Madrasah tertua di Desa Lombang dan sekitarnya ini, sekarang sudah berbentuk bangunan gedung lantai dua dengan jumlah ruangan sebanyak 11 lokal. Ruangan ini dirasa cukup untuk menampung 171 santri yang ada meliputi 80 santri putra dan 91 santri putri.

Kemudian dalam hal mengajar, K. Romli sapaan akrabnya, dibantu oleh  17 tenaga pengajar, terdiri dari ustadz dan ustadzah lokal. Ada yang dari keluarga kiai dan juga para alumni madrasah.

                Adapun biaya operasional dan infrastruktur  madrasah itu sendiri didebet dari iuran bulanan santri sebesar Rp. 10.000, sumbangan alumni, simpatisan dan swadaya masyarakat.

e
Baca juga

Leave a Reply

Your email address will not be published.