Shadow

MASJID KEMAYORAN KOMPENSASI DARI MAYOR BELANDA

m
Bagian luar Masjid dari sisi kanan. (FOTO: RO/AJ)

Surabaya yang terkenal dengan kota pahlawan sudah pasti banyak meninggalkan sesuatu yang bersejarah, baik itu benda ataupun bangunan, seperti edisi kali ini yang akan membahas sejarah bangunan masjid pemberian Belanda yang berdiri kokoh di Kampung Kemayoran Jalan Indrapura No. 2 Surabaya.

Masjid yang memiliki nama Raudlatul Musyawaroh adalah tempat bermusyawarohnya para sesepuh masjid daerah Surabaya seperti sesepuh Masjid Sunan Ampel, Masjid Peneleh, dan Masjid Kembang Kuning. Karena itulah masjid ini diberi nama Raudlatul Musyawaroh meski lebih dikenal dengan nama Masjid Kemayoran. Penyebutan nama Kemayoran karena dalam sejarahnya tanah yang ditempati saat ini merupakan pemberian dari seorang Mayor Angakatan Darat Belanda sekitar tahun 1772.

Dulunya masjid ini terletak di area Tugu Pahlawan. Masjid ini berada tepat di depan Gedung Pemerintahan Gubernur Hindia Belanda, yang sekarang berubah menjadi Gedung Pemerintah Propinsi Jawa Timur.Karena lokasinya yang tepat berada di depan Gedung Pemerintahan Belanda, maka menurut para petinggi Belanda, masjid ini harus digusur, sebab sangat mengganggu pandangan mata dan keindahan tatanan kota.

c
Meriam milik Kiai Sedo Masjid

Upaya Belanda memindahkan masjid milik masyarakat tersebut mendapat perlawanan sengit dari warga muslim Surabaya. Hingga akhirnya terjadi perang antara Belanda dan warga yang dipimpin oleh Kiai Sedo Masjid, yakni Kiai Badruddin. Perang pun terjadi sekitar tahun 1750 M sampai akhirnya sang kiai gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Sejak itulah kiai Badruddin dijuluki Kiai Sedo Masjid, karena beliau wafat dalam memperjuangkan masjid.

Akhirnya pihak Belanda berhasil melakukan tukar guling masjid dengan masyarakat muslim Surabya, artinya Belanda boleh memindahkan masjid namun harus memberikan kompensasi sebagai syarat relokasi. Kompensasi itu berupa sepetak tanah mulai tepi Kali Mas (Bibis) sampai jalan yang mamisahkan Kampung Kemayoran Jalan Kalongan.

IMG 4866
Bagian dalam Masjid Kemayoran

 Tidak banyak peninggalan pada Masjid Kemayoran ini, namun ada sebuah peninggalan yang menjadi saksi bisu. Terdapat sebuah meriam yang tetap terjaga, tempatnya berada di depan Polsek. Meriam itulah yang menjadi saksi perjuangan Kiai Sedo Masjid dalam membela dan memperjuangkan masjid dari gusuran Belanda. Meriam itu bernama Meriam Mbah Kiai Sedo Masjid, karena memang benda ini milik Kiai Badruddin sendiri sebelum gugur dalam peperangan. Selain bentuk arsitektur ala Belanda, Masjid Kemayoran ini juga dilengkapi dengan dua menara, yaitu pada sisi selatan dan utara masjid. Konon manurut cerita yang kami dapatkan dari salah satu anggota administrasi, Ach. Sultoni 03/09/2021,  menara itu berdiri kokoh namun posisinya agak miring. Suatu ketika ada seorang waliyulloh, Abah Toyyib yang nyender agar menara itu lurus hingga akhirnya posisi menara itu menjadi tegak lurus hingga sekarang. Beliau bukan ta’mir tapi beliaulah yang menjaga Masjid Kemayoran setelah Kiai Sedo Masjid wafat.

Pada tanggal 10 November saat terjadi perang ‘resolusi jihad’, menara bagian selatan terbakar oleh Belanda dan sekarang ditutupi dengan kubah, sehingga yang berfungsi saat ini hanya satu menara bagian utara. Menurut cerita lisan, Abah Toyyib ini seorang waliyulloh yang penampilannya tidak seperti orang pribumi namun berpenampilan seperti orang Timur Tengah. Adapun latar belakang beliau tak seorangpun mengetahui hingga beliau wafat dan dimakamkan di sebelah mihrob Masjid Kemayoran.

Masjid Raudlatul Musyawaroh atau yang lebih dikenal dengan Masjid Kemayoran, termasuk salah satu masjid tertua di Surabaya setelah Masjid Peneleh. Masjid yang didominasi warna hijau ciri khas manut NU itu telah mengalami dua kali renovasi. Yang pertama masjid dengan warna serba putih sedangkan yang kedua kalinya perubahan warna cat pada bangungan yang serba hijau ala Nahdlatul ulama.

Kegiatan di masjid ini sendiri bisa dibilang cukup padat. Mulai dari kajian rutin setiap Senin sampai Sabtu, rapat evaluasi setiap ba’da Jum’at, khotmil qur’an tiap bulan satu kali, dan perayaan haul setiap tahunnya.

Selain kegiatan keagamaan di atas, masjid ini memiliki Yayasan Ta’miriyyah sebagai sarana pendidikan seperti TK, SD, SMP, SMA. Karena itulah masjid ini juga dikenal dengan Masjid Ta’miriyyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.