Shadow

Maulid dan Persoalan Produksi, Distribusi dan Konsumsi

hjg

Dalam tradisi Muslim tradisional terutama di Indonesia, makan bersama merupakan lingkaran sosial-keagamaan yang rasanya tidak pernah berakhir, mereka harus berhadapan dengan makan bersama dalam berbagai momentum. Selain berdoa, makan bersama merupakan ciri khas Muslim tradisional yang menurut Agus Sunyoto, dalam sejarahnya di masa lalu, wilayah Nusantara merupakan lumbung makanan yang sangat besar, sehingga masyarakatnya selalu merasa perlu saling berbagi makanan (sharing food). Tingginya intensitas ragam perayaan keagamaan dalam masyarakat Islam di Indonesia dalam sejarahnya tidak menunjukkan meraka yang kurang makan.

Dalam pandangan ekonomis Abdurrahman Ibn Khaldun (1332 M-1384 M). Manusia memiliki ragam kebutuhan dasar untuk menjaga keberadaannya di muka bumi, seperti bagaimana manusia memerlukan makanan, pakaian dan senjata untuk menjaga diri mereka. Kebutuhan ada dua macamnya. Pertama, kebutuhan utama (dharuriyat). Kedua, kebutuhan non-utama (kamaliyat). Yang pertama sangat penting sebab erat hubungannya dengan hidup individu dan orang banyak. Sedangkan yang kedua tidak langsung berhubungan dengan hidup, tapi lebih kepada gaya hidup. Hari ini kita punya masalah serius dalam bergaul dengan pola pikir dan gaya hidup terutama menyangkut produksi, distribusi dan pola konsumsi dalam konteks kehidupan sosial-keagamaan.

Perayaan Maulid Nabi yang dicontohkan oleh para wali di masa lalu keseluruhannya sangat organik, sebab perayaan maulid juga digunakan sebagai sarana bersyukur kepada Alloh SWT atas hasil bumi. Suguhan dan berkat acara maulid sesuatu yang tumbuh dan hidup di sekitar lingkungan hidup sekitar, seperti buah-buahan, umbi-umbiyan, nasi, dan hewan.

Tradisi Duabelasan merupakan perayaan maulid bersama yang biasanya diselenggarakan di masjid dusun. Masyarakat membawa ragam makanan dan setelah acara berdoa selesai, ragam makanan itu dijadikan rebutan karena dianggap sudah mengandung berkah maulid. Tradisi Duabelasan merupakan sisa-sisa tradisi maulid sebelum mengalami privatisasi seperti saat ini.

Keberlangsungan tradisi penyelenggaraan maulid berhubungan dengan sistem produksi yang digerakkan oleh para petani. Saat ini di Indonesia, setiap satu menit ada satu anggota keluarga petani yang memutuskan berhenti menjadi petani. Dengan kenyataan itu, hanya butuh dua puluh enam juta menit bagi Indonesia untuk kehilangan seluruh petaninya. Di sini penulis hanya ingin mengingatkan tentang pentingnya produksi, pertanian dan menjadi petani sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW;

ماَ مِنْ مُسْلِمً يَغْرِسُ غَرْساً أَوْ يَزْرَعُ زَرْعاً فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ اِنْساَنٌ أَوْ بَهِيْمَةٌ اِلاَّ كاَنَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

 “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon, atau menanam tanaman kemudian pohon atau tanaman itu dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan menjadi sedekah baginya.”

Saat ini, hidangan dan berkat maulid sudah mulai didominasi oleh sesuatu yang tidak tumbuh dan berkembang di sekitar kita. Seperti Apel Washington, roti gandum, dan ragam makanan nirnutrisi (junk food) yang banyak membahayakan kesehatan badan. Kita sepantasnya mau menaruh kecurigaan kepada gejala yang lebih besar; apa jangan-jangan sistem produksi dalam dunia pertanian kita memang sedang bermasalah di tengah besarnya konsumsi.

Saat ini di beberapa tempat khususnya di pulau Madura, makanan-makanan di bulan Maulid sering lebih banyak yang dibuang dibandingkan dengan yang dimakan karena tingginya intensitas perayaan maulid, tingginya produksi masakan di suatu titik wilayah dan melibatkan masyarakat dalam satu lingkungan sosiologis. Artinya kita harus menghadapi masalah serius yang lain, yaitu distribusi yang mubazir. Di satu tempat banyak makanan yang dibuang, sedangkan di tempat lain banyak orang-orang yang kekurangan makanan.

Karena kenyataan itu, di Madura berkembang tradisi memberikan berkat mentah (bherkat mattaan) sebagai usaha meminimalisir pembuangan makanan jadi di bulan Maulid. Saat ini, di tengah kondisi yang serba sulit sebab pandemi, idealnya distribusi makanan harus bersifat mentahaan dan benar-benar menyasar kepala keluarga yang benar-benar memerlukan makanan, terutama di perkotaan. Sebab mengenyangkan perut yang lapar adalah tradisinya Nabi, sosok yang sedang kita rayakan bulan kelahirannya.

Makan dan minum merupakan perintah Alloh SWT dalam al-Qur’an kepada manusia bersamaan dengan larangan berlebih-lebihan, seperti dalam Surah al-A’raf Ayat 31.

ياَ بَنِي أَدَمَ خُذُوا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسجِدٍ وُكُلُوا وَاشرَبُوا وَلاَ تُشرِفُواْ اِنَّهُ لاَ يُحِبُّ اْلمُسْرِفِينَ

 “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Menurut Imam Fakhruddin ar-Razi, pada akhir ayat tersebut memang secara eksplisit hanya berhubungan dengan perintah makan dan minum, tetapi secara emplisit lebih kepada perintah pola konsumsi yang ideal dan proporsional, tidak berlebih-lebihan dan ramah lingkungan.

Barangkali banyak dari kita yang memilih menterlantarkan wahyu di atas karena memang tidak pernah ada larangan syariat dalam mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak ada di lingkungan sekitar kita, seperti gandum, Apel Washington, Jeruk Cina atau makan dalam jumlah besar. Karena secara hukum syariat, ragam pola konsumsi dibolehkan selama tidak ada dalil yang secara tegas melarangnya. Tapi jika berkaca kepada pola konsumsi Nabi Muhammad SW yang tidak punya tradisi mencari makanan yang tidak ada di sekitarnya (la yatakallafu mafqudan) apa yang sedang kita jalani ini menjadi jauh dari tradisi Nabi.

Masalah kita adalah pola konsumsi, dimana manusia sering membuat makanan melebihi kebutuhan mereka. Pola konsumsi yang tidak proporsional akan berpengaruh terhadap kualitas lingkungan hidup. Konsumsi makanan dan minuman di bulan Maulid menjadi sangat tinggi dengan banyaknya perayaan maulid Nabi. Entah darimana datangnya tradisi pola konsumsi yang tinggi itu mengingat sosok agung yang diperingati bulan kelahirannya merupakan pribadi dengan pola konsumsi yang rendah. Sebagaimana cerita tentang sahabat Abu Hurairah RA.

يُرَىْ اَنَّ أباَ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرَّ عَلىَ قَوْمٍ بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ شاَةُ مَشْوِيَةُ فَدَعَوْهُ فَأَبَى أَنْ يَأْكُلَ وَقاَلَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الدُّنْياَ لَمْ يَشْبَعْ مِنْ خُبْزٍ شَعِيْرٍ يَعْنِى كَيْفَ يَجُوزُ لِى أَنْ أَتَنَعَّمَ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَلِكَ

“Abu Hurairah terlihat lewat di suatu kaum yang di depan mereka terdapat kambing panggang. Kaum itu  memanggil Abu Hurairah tapi ia menolak ajakan makan dari mereka. Abu Hurairah berkata: Rosululloh SAW sampai meninggal dunia tidak pernah kenyang dari makan roti gandum. Maksudnya, bagaimana boleh bagi saya enak-enakan sedangkan Rosululloh tidak demikian.”

Kita sedang berhadapan dengan jumlah makanan yang sangat besar hari ini dengan kemasan aorganik yang telah banyak menjadi limbah kebal dan masalah serius bagi lingkungan dan kehidupan. Perayaan maulid sebagai ekspresi rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW memang sering tidak bersamaan dengan cinta, sayang dan penghormatan kita kepada makanan, kepada lingkungan dan kehidupan yang merupakan ajaran Nabi.

Suasana menjadi lebih gawat karena kemasan konsumsi dan berkat dalam setiap upacara perayaan maulid yang intensitasnya sangat tinggi semakin aorganik. Ragam bungkus makanan yang aorganik itu telah terbukti membawa dampak buruk terhadap lingkungan hidup. Alam memerlukan waktu lima puluh sampai seratus tahun untuk menghancurkan satu plastik.

Memang belum ada data statistik yang bisa menjelaskan tentang peningkatan volume konsumsi dan sampah aorganik di bulan Maulid jika dibandingkan dengan bulan sebelum dan sesudah bulan Maulid. Tapi barangkali tong sampah tempat tinggal kita bisa dijadikan sebagai data empiris.

Tradisi merayakan maulid yang bersifat prophetik memang sedang berjalan menuju kepada budaya hedonisme. Di beberapa tempat khususnya di Madura, maulid diselenggarakan sampai melampaui batas kemampuan, sebagian penyelenggara ada yang sampai berhutang demi menyelenggarakan maulid dengan mewah, yang jika ditelusuri justru sangat bertentangan dengan sabda Nabi MuhammadSaw;  

أَناَ وَصُلَحاَءُ أَمَّتِى بَراَّءٌ مِنَ التَّكَلُّفِ

 “Aku dan orang-orang saleh umatku tidak bertanggung jawab dari tradisi memaksa.”

Dengan demikian, tidak ada salahnya kita kembali kepada model perayaan maulid seperti yang dicontohkan oleh para wali terdahulu. Maulid berbasis ekologi yang pro-sosial dan ramah lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.