Rabu, 15 April 2026
Assirojiyah.online
KPPA

Asal-Usul Pulau Bali: Kisah Anak Skene yang Hobi Judi dan Naga yang Murka

PT. Assrof Media - Wednesday, 15 April 2026 | 12:00 AM

Background
Asal-Usul Pulau Bali: Kisah Anak Skene yang Hobi Judi dan Naga yang Murka
Asal-Usul Pulau Bali: Kisah Anak Skene yang Hobi Judi dan Naga yang Murka (istimewa/)

Asal-Usul Pulau Bali: Kisah Anak Skene yang Hobi Judi dan Naga yang Murka

Kalau kita bicara soal Bali, yang terlintas di kepala pasti nggak jauh-jauh dari beach club, sunset di Canggu, atau sekadar healing tipis-tipis di Ubud. Bali emang punya magnet yang luar biasa buat siapa pun. Tapi, pernah nggak sih lo bayangin gimana ceritanya pulau sekeren ini bisa terpisah dari Pulau Jawa? Padahal kalau dilihat di peta, jaraknya cuma selemparan batu doang, alias deket banget.

Ternyata, menurut legenda yang beredar turun-temurun, pemisahan Bali dan Jawa itu bukan karena pergeseran lempeng tektonik doang, tapi ada drama keluarga yang cukup intens di baliknya. Ada unsur kutukan, pengkhianatan, sampai naga raksasa yang punya stok emas nggak habis-habis. Bisa dibilang, ini adalah kisah tentang "anak beban keluarga" versi zaman dulu.

Manik Angkeran: Si OG Penjudi dari Tanah Jawa

Zaman dulu kala, di Kerajaan Daha, hiduplah seorang pendeta sakti bernama Sidi Mantra. Dia ini tipe orang tua yang sangat dihormati, bijaksana, dan punya hubungan langsung dengan para dewa. Sayangnya, pepatah "buah jatuh nggak jauh dari pohonnya" nggak berlaku di sini. Anak Sidi Mantra yang bernama Manik Angkeran justru punya gaya hidup yang berbanding terbalik 180 derajat.

Manik Angkeran ini bisa dibilang representasi anak muda yang salah pergaulan. Alih-alih belajar ilmu kebatinan kayak bapaknya, dia malah hobi banget main judi. Mulai dari sabung ayam sampai judi-judi lainnya, pokoknya semua dilibas. Masalahnya, dia kalah mulu. Karena gengsi dan ketagihan, harta orang tuanya pun habis digadaikan buat bayar utang. Jujur aja, kalau zaman sekarang, mungkin dia udah terjebak pinjol atau judol sampai dikejar-kejar debt collector.

Sidi Mantra yang sayang banget sama anaknya ini nggak tega liat Manik Angkeran merana. Akhirnya, lewat meditasi, Sidi Mantra dapet petunjuk buat pergi ke Gunung Agung. Di sana ada Naga Besukih, sesosok naga sakti yang menjaga harta karun di perut bumi.

Pertemuan dengan Naga Besukih

Dengan membawa genta (lonceng kecil) saktinya, Sidi Mantra mendaki Gunung Agung. Sesampainya di sana, dia membunyikan genta itu. Nggak lama kemudian, muncullah Naga Besukih yang sisiknya aja terbuat dari emas dan permata. Keren banget nggak tuh? Bayangin aja naga versi CGI film Marvel, tapi ini versi kearifan lokal.

Karena Sidi Mantra orangnya sopan dan punya reputasi bagus, si Naga Besukih ini dengan murah hati memberikan sedikit dari sisik emasnya. Sidi Mantra pulang dengan perasaan lega, berharap utang anaknya lunas dan si anak bakal tobat. Tapi ya namanya juga pecandu, Manik Angkeran bukannya tobat malah makin menjadi-jadi. Emas pemberian bapaknya habis dalam sekejap di meja judi.

Manik Angkeran penasaran darimana bapaknya dapet emas sebanyak itu. Dia pun mencuri genta sakti bapaknya dan nekat pergi ke Gunung Agung sendirian. Dia nekat banget, padahal modalnya cuma nyali dan rasa serakah.

Plot Twist: Ekor Naga yang Terpotong

Singkat cerita, Manik Angkeran berhasil ketemu Naga Besukih. Naga itu baik hati banget, dia ngasih emas lagi buat Manik. Tapi dasar serakah, pas si Naga mau masuk kembali ke lubangnya, Manik Angkeran ngeliat ujung ekor naga yang penuh dengan permata berkilauan. Pikirannya langsung gelap. Dia mikir, "Kalau gue potong dikit ekornya, gue bakal kaya tujuh turunan tanpa harus judi lagi."

Crat! Manik Angkeran beneran memotong ujung ekor Naga Besukih dengan pedangnya. Si Naga murka luar biasa. Sakitnya nggak seberapa, tapi dikhianatin itu yang bikin perih. Begitu Manik lari bawa potongan ekor itu, si Naga langsung menjilat jejak kaki Manik Angkeran. Efeknya instan: Manik Angkeran langsung hangus jadi abu di tempat. Benar-benar kena karma instan tanpa perlu nunggu hari esok.

Lahirnya Selat Bali: Garis Pemisah yang Abadi

Sidi Mantra yang merasa ada sesuatu yang salah langsung nyusul ke Gunung Agung. Dia sedih banget liat anaknya udah jadi nugget gosong. Dia pun memohon-mohon sama Naga Besukih buat menghidupkan anaknya lagi. Naga Besukih setuju, tapi syaratnya cuma satu: ekornya harus balik utuh lagi. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra menyambung ekor naga itu, dan puff! Manik Angkeran hidup lagi.

Tapi, Sidi Mantra sadar kalau dia dan anaknya nggak bisa lagi hidup bersama. Dia pengen Manik Angkeran belajar mandiri dan nggak terus-terusan jadi beban. Pas mereka lagi di daerah yang sekarang kita kenal sebagai daerah Ketapang (Jawa) dan Gilimanuk (Bali), Sidi Mantra berdiri di atas tanah dan menggoreskan tongkatnya ke bumi.

Ajaibnya, bekas goresan tongkat itu makin lama makin lebar dan dalem. Air laut pun masuk membanjiri celah tersebut. Manik Angkeran cuma bisa bengong dari seberang, nggak bisa balik lagi ke Pulau Jawa. Garis air itulah yang sekarang kita kenal sebagai Selat Bali. Sidi Mantra di Jawa, Manik Angkeran di Bali.

Pelajaran Moral di Balik Keindahan Bali

Dari cerita ini, kita bisa liat kalau Bali itu bukan cuma soal pemandangan indah, tapi ada filosofi tentang konsekuensi. Manik Angkeran yang akhirnya menetap di Bali konon diperintahkan untuk menjaga kesucian pulau tersebut. Ini semacam redemption arc atau perjalanan penebusan dosa buat dia.

Observasi menariknya adalah, sampai sekarang masyarakat Bali sangat menjaga tradisi dan keseimbangan alam. Mungkin ini cara mereka menghormati "perjanjian" lama antara Sidi Mantra, Naga Besukih, dan leluhur mereka. Jadi, kalau lo lagi nyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk pakai kapal feri, coba deh liat air lautnya. Di bawah sana ada sejarah besar tentang seorang bapak yang harus merelakan anaknya demi kebaikan bersama.

Pelajaran buat kita semua: jangan serakah, jangan judi (apalagi judol), dan hargai usaha orang tua. Jangan sampai bapak lo harus bikin pulau baru cuma gara-gara males liat tingkah laku lo yang ajaib. Bali emang ajaib, tapi asal-usulnya ternyata cukup tragis ya?

Nah, itulah sekilas cerita tentang gimana Bali terpisah dari Jawa. Sebuah kombinasi antara kasih sayang orang tua yang tanpa batas, keserakahan manusia, dan kekuatan magis yang mengubah peta dunia selamanya. Gimana? Jadi pengen langsung booking tiket ke Bali sambil ngebayangin di mana dulu Naga Besukih nongkrong, kan?