Lebih dari Sekadar Tanggal Merah: Menelusuri Hangatnya Perayaan Isra Mikraj di Berbagai Penjuru Indonesia
PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM


Lebih dari Sekadar Tanggal Merah: Menelusuri Hangatnya Perayaan Isra Mikraj di Berbagai Penjuru Indonesia
Siapa sih yang nggak senang kalau melihat kalender dan menemukan deretan angka merah? Bagi kebanyakan anak muda zaman sekarang, apalagi yang sudah terjebak dalam rutinitas nine-to-five yang menyesakkan, tanggal merah adalah oase di tengah padang pasir. Tapi, pernah nggak sih kita benar-benar berhenti sejenak dan bertanya, "Ini libur dalam rangka apa, ya?" Nah, salah satu momen besar yang sering menghiasi kalender kita adalah Isra Mikraj.
Secara teologis, Isra Mikraj adalah perjalanan ajaib Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha hanya dalam waktu semalam. Output-nya? Perintah salat lima waktu yang jadi pondasi ibadah umat Muslim. Namun, di Indonesia yang punya DNA "apa pun acaranya, yang penting kumpul", peringatan Isra Mikraj nggak cuma berhenti di meja pengajian atau mimbar masjid. Ia menjelma menjadi festival budaya yang unik, seru, dan tentu saja, penuh makanan enak.
Vibes Rejeban: Saat Tradisi dan Spiritual Berpelukan
Kalau kamu main ke daerah Jawa Tengah atau Yogyakarta saat memasuki bulan Rajab, kamu bakal merasakan atmosfer yang beda. Di Keraton Yogyakarta, misalnya, ada tradisi bernama Yasa Peksi Burak. Jangan bayangkan ini cuma sekadar doa bersama yang kaku. Para abdi dalem bakal sibuk membuat replika burung buraq dari kulit jeruk bali. Ya, kamu nggak salah baca, kulit jeruk bali! Replika ini melambangkan kendaraan Nabi saat mikraj.
Bagi penulis, melihat kerumunan orang yang antusias melihat gunungan buah dan sayur dikirab itu selalu memberikan goosebumps tersendiri. Ada perasaan bahwa modernitas—dengan segala kemajuan iPhone dan kopi susu literannya—ternyata belum mampu menggeser rasa hormat masyarakat pada tradisi leluhur. Di sini, Isra Mikraj bukan cuma soal sejarah masa lalu, tapi soal bagaimana identitas sebagai orang Jawa dan orang Muslim bisa berjalan beriringan tanpa perlu saling sikut.
Ngaliyan dan Nganggung: Makan Besar ala Sumatera dan Jawa Barat
Geser sedikit ke Jawa Barat, ada tradisi yang namanya Rajaban. Biasanya, masyarakat bakal berbondong-bondong ke tempat keramat atau masjid jami untuk mendengarkan ceramah. Tapi yang paling ditunggu-tunggu tentu saja sesi "makan bareng"-nya. Ada istilah nasi tumpeng yang dimakan bersama-sama. Rasanya? Jelas lebih nikmat daripada makan steak mahal sendirian di mal. Ada rasa solidaritas yang kental saat tangan-tangan ini berebut potongan ayam atau sambal goreng ati.
Nah, kalau kamu terbang ke Palembang atau Bangka Belitung, ada tradisi yang nggak kalah keren namanya Nganggung. Bayangkan, satu kampung datang ke masjid membawa dulang (nampan besar) yang ditutup dengan tudung saji berwarna-warni. Isinya macam-macam, mulai dari nasi, lauk pauk, sampai kue-kue tradisional. Filosofinya simpel tapi nancep: "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing". Tradisi ini seolah menampar kita yang kadang saking sibuknya main HP, sampai nggak kenal siapa nama tetangga sebelah rumah.
Kenapa Anak Muda Perlu Ikut Nimbrung?
Mungkin ada sebagian dari kita yang mikir, "Ah, itu kan acaranya bapak-bapak atau emak-emak pengajian." Eits, tunggu dulu. Justru di tengah gempuran budaya pop dan tren yang cepat banget berubah, momen-momen seperti perayaan Isra Mikraj ini adalah anchor atau jangkar kita. Ini adalah waktu terbaik buat social detox. Daripada scrolling TikTok sampai jempol keriting cuma buat lihat drama influencer, sesekali ikut "ngariung" di masjid atau balai desa bisa jadi terapi mental yang ampuh.
Ada kehangatan yang jujur saat kita duduk lesehan, mendengarkan hikayat perjalanan Nabi yang penuh keajaiban, sambil sesekali bercanda dengan warga sekitar. Ini bukan soal kolot atau ketinggalan zaman, tapi soal menjaga koneksi kemanusiaan. Lagipula, siapa sih yang bisa menolak aroma nasi uduk atau kue-kue pasar yang disajikan gratis setelah acara selesai? Itu adalah privilege kearifan lokal yang nggak ada di menu layanan pesan antar manapun.
Refleksi di Tengah Hiruk Pikuk
Secara personal, saya melihat perayaan Isra Mikraj di Indonesia itu seperti sebuah mosaik. Setiap daerah punya warnanya sendiri. Di Cirebon ada tradisi ziarah, di Sulawesi ada pembacaan kitab Barzanji dengan nada yang meliuk-liuk indah, dan di Kalimantan ada tradisi menyembelih sapi atau kambing untuk dimakan bersama. Benang merahnya cuma satu: rasa syukur.
Kita hidup di era di mana semuanya serba cepat. Kita dituntut buat produktif 24/7. Isra Mikraj mengingatkan kita bahwa Nabi saja butuh "perjalanan" untuk menerima perintah salat—sebuah ibadah yang tujuannya adalah untuk beristirahat sejenak dari urusan dunia. Maka, merayakan Isra Mikraj dengan tradisi lokal sebenarnya adalah cara masyarakat Indonesia untuk "beristirahat" secara kolektif. Kita berhenti sejenak dari kompetisi hidup, lalu makan bareng dan berdoa bareng.
Jadi, kalau tahun depan tanggal merah Isra Mikraj tiba, coba deh jangan cuma dihabiskan dengan tidur seharian atau pergi ke bioskop saja. Coba intip masjid terdekat atau tanya ke orang tua, "Ada acara apa hari ini?" Siapa tahu, di balik riuhnya suara rebana atau kepulan asap tumpeng, kamu menemukan ketenangan yang selama ini kamu cari-cari di aplikasi meditasi berbayar. Indonesia itu kaya, dan Isra Mikraj adalah salah satu cara paling manis buat merayakannya.
Penutup: Menjaga Api Tetap Menyala
Pada akhirnya, perayaan Isra Mikraj di Indonesia bukan sekadar ritual tahunan yang lewat begitu saja. Ia adalah pengingat bahwa kita punya akar yang kuat. Meskipun dunia sudah berubah jadi digital, rasa kebersamaan saat berebut nasi berkat itu tetap nggak tergantikan. Mari kita jaga tradisi ini supaya nggak cuma jadi catatan di buku sejarah atau konten singkat di media sosial, tapi tetap jadi nyawa yang menghidupkan toleransi dan keguyuban kita sebagai sebuah bangsa.
Next News

Mengenal Semeru: Lebih dari Sekadar Tempat "Healing" dan Film 5 CM
17 hours ago

Menelusuri Jejak Air Mata dan Berlian di Telaga Warna Dieng: Antara Mitos Magis dan Logika Belerang
17 hours ago

Menelusuri Jejak Telur Naga: Mengapa Raja Ampat Bukan Sekadar Surga Snorkeling
17 hours ago

Menelusuri Jejak Air Mata dan Berlian di Telaga Warna Dieng: Antara Mitos Magis dan Logika Belerang
17 hours ago

Mengenal Semeru: Lebih dari Sekadar Tempat "Healing" dan Film 5 CM
17 hours ago

Lombok Bukan Cuma Gili Trawangan: Menyelami Tragedi dan Cinta di Balik Tradisi Bau Nyale
17 hours ago

Asal-Usul Gunung Krakatau: Sang Legenda yang Pernah 'Menghapus' Langit Dunia
17 hours ago

Barong vs Rangda: Drama Abadi Bali yang Lebih Deep dari Sekadar Konten TikTok
17 hours ago

22. Cerita Rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih
a day ago

21. Legenda Si Lancang: Anak yang Lupa Asal Usul
a day ago




