Mengenal Erau: Pesta Rakyat Kalimantan Timur yang Lebih dari Sekadar Hura-hura
PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM


Mengenal Erau: Pesta Rakyat Kalimantan Timur yang Lebih dari Sekadar Hura-hura
Kalau kita bicara soal Kalimantan Timur, belakangan ini pikiran orang pasti langsung terbang ke IKN alias Ibu Kota Nusantara. Tapi, ayolah, Kaltim itu bukan cuma soal lahan proyek atau hutan belantara yang lagi jadi sorotan politik. Jauh sebelum hiruk-pikuk ibu kota baru, ada satu kota kecil yang tenang tapi punya sejarah raksasa bernama Tenggarong. Di kota inilah, setiap tahunnya digelar sebuah hajatan yang saking ramainya bisa bikin kamu lupa kalau dunia itu luas. Namanya Festival Erau.
Buat kalian yang belum akrab, Erau itu bukan sekadar festival budaya biasa yang isinya cuma pidato pejabat dan potong pita. Erau adalah jantungnya orang Kutai. Kata Erau sendiri berasal dari bahasa lokal, Eroh, yang artinya ramai, riuh, dan penuh sukacita. Bayangkan sebuah kota yang biasanya adem ayem, tiba-tiba berubah jadi lautan manusia, aroma makanan tradisional di mana-mana, dan suara musik gamelan Kutai yang bikin bulu kuduk berdiri tapi juga pengen goyang.
Sejarah yang Nggak Kaleng-kaleng
Jangan salah, Erau ini bukan festival kemarin sore. Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-13, tepatnya saat pengangkatan Raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Jadi, bisa dibilang ini adalah salah satu festival tertua di Indonesia yang masih eksis sampai sekarang. Dulu, Erau dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan perayaan atas naik takhtanya sang raja. Sekarang? Fungsinya meluas jadi pesta rakyat, meski sisi sakralnya nggak pernah luntur sedikit pun.
Pihak Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura masih memegang peran kunci. Jadi, walaupun suasananya modern dengan panggung musik atau pameran UMKM, ruhnya tetap ada di kedaton (keraton). Tanpa izin dari Sultan, ya nggak bakal ada yang namanya Erau. Vibe-nya itu lho, kayak kamu lagi masuk ke mesin waktu; di satu sisi ada orang main HP, di sisi lain ada ritual kuno yang gerakannya nggak berubah sejak ratusan tahun lalu. Ciamik banget, kan?
Prosesi Mengulur Naga yang Bikin Merinding
Kalau kamu tanya apa puncak dari segala puncak di Erau, jawabannya cuma satu: Mengulur Naga. Ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu sekaligus paling dramatis. Jadi, ada dua replika naga raksasa yang dibuat dari kayu dan kain warna-warni yang cakep banget. Naga-naga ini nggak cuma dipajang, tapi diarak menyusuri Sungai Mahakam dari Tenggarong menuju Kutai Lama.
Kenapa ke Kutai Lama? Karena di sana dipercaya sebagai tempat asal muasal nenek moyang mereka. Perjalanan naga ini lewat air adalah simbol pembersihan dan penghormatan. Melihat naga-naga itu membelah arus Sungai Mahakam yang legendaris, dikawal oleh puluhan kapal nelayan, rasanya tuh magis banget. Kamu bakal merasakan ada energi kolektif yang luar biasa kuat. Di saat naga sampai di tujuan, bagian "sisik" naga biasanya diperebutkan warga karena dipercaya bawa berkah. Ya, semacam berebut berkah di sekaten kalau di Jogja lah, seru tapi tetap harus hati-hati biar nggak kejepit!
Belimbur: Perang Air Versi Kearifan Lokal
Setelah ritual naga selesai, dimulailah bagian yang paling disukai anak muda: Belimbur. Kalau di Thailand ada Songkran, nah di Tenggarong ada Belimbur. Intinya sih satu: semua orang boleh menyiramkan air ke orang lain. Gampangnya, ini adalah perang air massal satu kota! Begitu gong tanda Belimbur dibunyikan, jangan harap kamu bisa pulang dengan baju kering. Mulai dari anak kecil sampai kakek-kakek, semuanya pegang gayung atau selang.
Tapi, ada aturannya, Gengs. Airnya harus bersih, nggak boleh pakai air selokan atau air berwarna, dan nggak boleh menyiram orang yang lagi ibadah atau ibu hamil. Belimbur ini maknanya adalah pembersihan diri secara simbolis. Kita membasuh kotoran dan aura negatif dengan air suci Sungai Mahakam. Rasanya? Wah, gokil! Semua sekat sosial hilang. Kamu bisa aja nyiram pejabat atau orang asing di sebelahmu, dan mereka cuma bakal ketawa sambil balas nyiram. Benar-benar bonding yang luar biasa.
Erau International Folk Art Festival (EIFAF)
Seiring berjalannya waktu, Erau juga naik kelas ke level internasional. Sejak beberapa tahun terakhir, agenda ini masuk dalam kalender wisata nasional dengan nama Erau International Folk Art Festival (EIFAF). Jadi, selain budaya Kutai, kamu juga bisa lihat penari dari Bulgaria, Latvia, Korea Selatan, sampai Mesir tampil di jalanan Tenggarong.
Lucu rasanya melihat bule-bule itu mencoba makan Gence Ruan (sambal khas Kutai) atau belajar menari Jepen. Ini membuktikan kalau budaya lokal kita itu punya daya tawar yang tinggi di mata dunia. Kita seringkali merasa minder sama budaya sendiri, padahal orang luar negeri rela terbang berjam-jam cuma buat melihat naga diarak atau ikut basah-basahan di tepi Mahakam.
Kenapa Kamu Harus Datang ke Sini Sekali Seumur Hidup?
Menurut opini saya yang cuma pengamat amatiran ini, Erau itu adalah pengingat. Di tengah gempuran budaya pop dan modernisasi yang makin gila, warga Kutai tetap punya jangkar yang kuat. Mereka nggak lupa siapa akarnya. Datang ke Erau bukan cuma soal foto-foto estetik buat feed Instagram (walaupun emang sangat Instagrammable), tapi soal merasakan detak nadi sebuah tradisi yang menolak punah.
Tenggarong itu kota yang tenang, udaranya enak, dan orang-orangnya ramah banget. Kalau kamu bosan dengan hiruk-pikuk Jakarta atau destinasi yang itu-itu saja, coba deh jadwalkan kunjungan saat Erau berlangsung. Nikmati sensasi makan di tepian Mahakam sambil melihat matahari terbenam, dengerin musik tingkilan, dan rasakan magisnya budaya Indonesia Timur yang nggak ada duanya.
Pokoknya, Erau itu paket lengkap: ada sejarahnya, ada ritual mistisnya, ada keseruan pesta airnya, dan yang paling penting, ada kehangatan orang-orangnya. Jadi, kapan kita ke Tenggarong? Jangan lupa bawa baju ganti ya, soalnya kalau udah Belimbur, nggak ada ampun buat yang pakai baju mahal!
Next News

Grebeg Maulud: Ritual Rebutan Berkah yang Bikin Jantung Mau Copot tapi Tetap Nagih
10 hours ago

Mencicipi Hangatnya Paskah di Indonesia: Dari Ritual Syahdu Sampai Perburuan Telur yang Chaos
10 hours ago

Mappacci: Bukan Sekadar Pakai Kutek, Tapi Ritual 'Deep Cleaning' Jiwa ala Bugis-Makassar
10 hours ago

Ngeri-Ngeri Sedap: Mengulik Debus, Warisan Jawara Banten yang Bikin Bulu Kuduk Berdiri
10 hours ago

Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa
10 hours ago

Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh
10 hours ago

Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita
10 hours ago

Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta
10 hours ago

Bukan Cuma Sekadar Pesta: Menyesap Magis di Semarak Festival Danau Toba
10 hours ago

Bukan Tawuran Biasa: Serunya Perang Topat di Lingsar yang Bikin Hati Adem
10 hours ago





