Minggu, 12 April 2026
Assirojiyah.online
KPPA

Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh

PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM

Background
Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh
Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh (istimewa/)

Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh

Kalau kamu sempat jalan-jalan ke Bali sekitar satu atau dua bulan sebelum Hari Raya Nyepi, pemandangan di pinggir jalan bakal berubah drastis. Bukan cuma soal turis yang makin ramai, tapi ada pemandangan unik di setiap Balai Banjar: tumpukan bambu, kertas semen, dan sekumpulan anak muda yang sibuknya melebihi persiapan skripsi. Mereka sedang mengerjakan "proyek ambis" tahunan yang paling ditunggu-tunggu, yaitu membuat Ogoh-ogoh.

Buat orang luar, Ogoh-ogoh mungkin cuma dianggap sebagai boneka raksasa yang serem. Tapi buat krama Bali, terutama anak mudanya yang tergabung dalam Sekaa Teruna Teruni (STT), Ogoh-ogoh itu harga diri. Ini adalah muara dari kreativitas, gotong royong, hingga urusan adu gengsi antar-banjar yang dibalut dengan nilai spiritual yang kental. Jadi, jangan heran kalau persiapannya bisa memakan waktu berbulan-bulan dan biaya yang nggak sedikit.

Bukan Sekadar Patung Seram

Secara harfiah, nama Ogoh-ogoh diambil dari sebutan "ogah-ogah" dalam bahasa Bali yang artinya digoyang-goyangkan. Memang, tujuan utamanya adalah untuk diarak dan digoyang sedemikian rupa supaya terlihat hidup. Secara simbolis, Ogoh-ogoh merepresentasikan Bhuta Kala, alias kekuatan alam semesta yang cenderung negatif dan destruktif. Bentuknya pun macam-macam, mulai dari sosok raksasa bertaring (Wiwidana), binatang mitologi, sampai sindiran sosial terhadap isu-isu yang lagi viral di media sosial.

Dulu, banyak pengrajin memakai styrofoam karena gampang dibentuk. Tapi sekarang? Wah, jangan salah. Kesadaran lingkungan di Bali lagi tinggi-tingginya. Sebagian besar Banjar sudah beralih kembali ke bahan organik. Pakai anyaman bambu (ulatan), kertas bekas, karpet kain, sampai bahan-bahan alami kayak serabut kelapa atau arang. Proses bikin detail otot atau tekstur kulitnya itu lho yang bikin geleng-geleng kepala. Estetikanya bener-bener level dewa. Kalau kamu lihat dari dekat, detailnya bisa bikin merinding saking miripnya sama makhluk hidup.

Vibes Malam Pangerupukan yang "Pecah"

Puncaknya terjadi pada Malam Pangerupukan, yaitu sehari sebelum Nyepi. Kalau Nyepi adalah hari untuk hening total, maka Pangerupukan adalah "pesta" kebisingan. Bayangkan ribuan orang tumpah ruah ke jalanan. Suara gamelan Beleganjur yang bertalu-talu dengan tempo cepat seakan memompa adrenalin siapa pun yang mendengar. Di sinilah "perang" kreativitas itu dimulai.

Membawa Ogoh-ogoh yang beratnya bisa ratusan kilogram itu nggak gampang. Butuh puluhan cowok berotot (dan yang sok berotot) buat ngangkat satu patung raksasa. Mereka akan berputar di persimpangan jalan (catus pata) sebanyak tiga kali. Kenapa harus di persimpangan? Konon, di situlah tempat berkumpulnya energi-energi negatif. Dengan goyangan yang energik dan suara gaduh, diharapkan roh-roh jahat ini ikut "masuk" ke dalam Ogoh-ogoh tersebut dan nggak mengganggu jalannya Nyepi keesokan harinya.

Ada perasaan magis yang susah dijelaskan lewat kata-kata saat melihat Ogoh-ogoh diarak di bawah sinar lampu jalanan yang remang. Bau dupa menyengat, keringat bercucuran, dan teriakan semangat para pemuda banjar menciptakan atmosfer yang sangat maskulin tapi tetap sakral. Ini bukan cuma soal pamer karya seni, tapi soal melepaskan beban emosional kolektif sebelum memasuki hari yang suci.

Prosesi "Pralina" dan Pelajaran tentang Keikhlasan

Satu hal yang sering bikin orang awam sedih adalah nasib Ogoh-ogoh setelah parade selesai. Setelah dikerjakan berbulan-bulan dengan biaya jutaan rupiah, Ogoh-ogoh ini biasanya akan dibakar (pralina) atau dihancurkan. Rasanya sayang banget, kan? Padahal kalau dijual ke kolektor mungkin laku mahal.

Tapi di sinilah letak filosofi terdalamnya. Pembakaran Ogoh-ogoh melambangkan pemusnahan sifat-sifat buruk dalam diri manusia. Kita diajarkan untuk tidak terikat pada hal-hal duniawi. Seni yang indah itu pada akhirnya harus dikembalikan ke asalnya—unsur Panca Maha Bhuta. Ini adalah bentuk katarsis. Setelah semua kegaduhan, semua emosi, dan semua kreativitas itu "dihancurkan", barulah manusia siap masuk ke fase hening total saat Nyepi. Sebuah simbol reset button bagi jiwa yang sudah lelah dengan hiruk-pikuk dunia.

Lebih dari Sekadar Tradisi, Ini Soal Koneksi

Di zaman sekarang, Ogoh-ogoh juga jadi ajang reuni. Anak-anak muda yang biasanya sibuk kerja di kota atau kuliah di luar daerah, pasti bakal usahakan pulang ke Banjar demi membantu proses pembuatan Ogoh-ogoh. Di sinilah mereka ngobrol, bercanda, hingga curhat sambil ngelem kertas semen. Hubungan sosial yang mungkin sempat renggang karena kesibukan masing-masing kembali erat di bawah naungan atap Balai Banjar.

Melihat antusiasme ini, rasanya optimis kalau budaya Bali nggak akan luntur ditelan zaman. Meski teknologinya makin canggih (sekarang ada Ogoh-ogoh yang bisa bergerak pakai sensor gerak atau hidrolik), esensi gotong royongnya tetap sama. Ogoh-ogoh adalah bukti nyata kalau seni dan tradisi bisa berjalan beriringan dengan modernitas tanpa kehilangan jiwanya.

Jadi, kalau kamu berencana ke Bali saat Nyepi, pastikan jangan melewatkan Malam Pangerupukan. Rasakan sendiri getaran gamelannya, lihat megahnya karya seni mereka, dan pahami bahwa di balik kemeriahan itu, ada doa untuk kedamaian semesta yang akan segera menyusul dalam kesunyian Nyepi yang syahdu. Selamat merayakan hari perubahan, gaes!