Minggu, 12 April 2026
Assirojiyah.online
KPPA

Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa

PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM

Background
Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa
Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa (istimewa/)

Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa

Kalau kita bicara soal Sulawesi Utara, biasanya pikiran orang langsung meluncur ke indahnya bawah laut Bunaken atau barangkali kuliner ekstrem di Pasar Beriman Tomohon yang sempat viral ke mana-mana itu. Tapi, tunggu dulu. Ada satu momen tahunan yang bikin kota sejuk di kaki Gunung Lokon ini berubah jadi lautan warna-warni yang aromanya jauh lebih enak daripada bau pasar: Tomohon International Flower Festival alias TIFF.

Bayangkan saja, sebuah kota kecil yang udaranya bikin betah mager, tiba-tiba disulap jadi panggung raksasa untuk ribuan, bahkan jutaan kuntum bunga segar. Kalau kalian pernah dengar Rose Parade di Pasadena, Amerika Serikat, nah, TIFF ini adalah versi lokalnya yang nggak kalah gokil. Bahkan, banyak yang bilang kalau kualitas dekorasi bunganya sudah selevel internasional. Nggak heran sih, secara tanah vulkanik di Tomohon itu emang "curang" suburnya, mau tanam apa saja pasti tumbuh subur, apalagi bunga krisan yang jadi primadona di sini.

Kenapa Harus Bunga?

Mungkin ada yang nanya, "Emangnya kenapa sih harus bunga?" Jawabannya simpel: Tomohon itu adalah "Kota Bunga"-nya Indonesia Timur. Geografisnya yang berada di ketinggian bikin hawanya dingin-dingin empuk, mirip-mirip Puncak atau Lembang, tapi dengan vibe yang lebih otentik. Bunga krisan di sini bukan cuma pajangan di pot rumah warga, tapi sudah jadi urat nadi ekonomi. Lewat TIFF, pemerintah setempat pengen pamer ke dunia kalau Indonesia punya destinasi kelas dunia yang estetiknya nggak main-main.

Acara utamanya adalah Tournament of Flowers (ToF). Ini adalah sesi di mana kendaraan hias (float) berlalu-lalang di jalanan utama Tomohon. Tapi jangan bayangkan mobil hias plastik yang biasa kita lihat di karnaval 17-an tingkat kecamatan. Float di TIFF ini hampir 100 persen dilapisi bunga segar. Detailnya luar biasa rumit. Ada yang bentuknya naga, burung garuda, rumah adat, sampai replika ikon-ikon negara sahabat. Wanginya? Jangan ditanya. Pas parade lewat, hidung lo bakal dimanjakan sama aroma krisan dan lili yang segar banget, beda jauh sama bau knalpot metik yang biasanya kita hirup di Jakarta.

Vibe yang Bikin Betah dan Ogah Pulang

Jujur saja, yang bikin TIFF ini spesial bukan cuma bunganya, tapi atmosfer kotanya. Selama festival berlangsung, Tomohon itu rasanya kayak lagi hajatan besar. Orang-orang dari berbagai penjuru Minahasa, Manado, bahkan turis mancanegara tumpah ruah ke jalan. Ada perasaan komunal yang hangat. Lo bakal lihat anak-anak sekolah yang ikut nari, ibu-ibu yang sibuk ngerumpi sambil nunggu parade, sampai fotografer profesional yang sibuk cari angle paling ciamik.

Salah satu yang bikin saya geleng-geleng kepala adalah dedikasi para perangkai bunganya. Mereka kerja siang malam sebelum hari-H supaya bunga-bunga itu tetap segar pas parade. Ini bukan cuma soal estetika, tapi soal kebanggaan warga Tomohon. Mereka pengen nunjukin kalau kota kecil mereka bisa bikin acara skala internasional yang bikin mata dunia melirik.

Selain parade bunga, biasanya ada juga pameran florikultura, pagelaran seni budaya, sampai kompetisi ratu bunga. Pokoknya, buat lo yang hobi konten atau butuh asupan visual yang segar buat feeds Instagram, TIFF adalah tempat yang paling tepat. Setiap sudut jalanan tiba-tiba jadi spot foto yang "cakep nggak ada obat".

Healing Sejenak ke Danau Linow dan Kulineran

Kalau sudah jauh-jauh ke Tomohon buat lihat bunga, rugi banget kalau nggak mampir ke destinasi sekitarnya. Habis capek desak-desakan nonton parade, lo bisa melipir ke Danau Linow. Jaraknya cuma sepelemparan batu dari pusat kota. Danau ini unik karena warnanya bisa berubah-ubah tergantung kadar belerang dan sinar matahari. Duduk di pinggir danau sambil ngopi dan makan pisang goreng sambal roa adalah definisi healing yang sesungguhnya.

Soal makanan, Tomohon itu surganya kuliner (buat yang berani coba segala hal, ya!). Tapi kalau lo nggak pengen yang ekstrem, masih banyak kok pilihan aman kayak Tinutuan (bubur Manado) yang porsinya bikin kenyang sampai sore, atau Nasi Kuning khas Manado yang dibungkus daun woka. Percaya deh, rasa bumbunya itu berani banget, nggak pelit rempah.

Sedikit tips buat lo yang mau ke sini: pastikan pesan penginapan dari jauh-jauh hari. Pas musim TIFF, Tomohon itu penuh sesak. Jangan sampai lo rencana mau tidur cantik di villa malah berakhir tidur di mobil karena semua hotel full booked. Dan satu lagi, bawa jaket! Biarpun matahari bersinar terang, angin gunungnya tetap bisa bikin lo menggigil kalau cuma pakai kaos oblong.

Kesimpulan: Wajib Masuk Bucket List!

Tomohon International Flower Festival itu lebih dari sekadar tontonan visual. Ini adalah bukti kalau kreativitas lokal kalau dikelola dengan serius bisa jadi magnet pariwisata yang luar biasa. Ada kebanggaan, ada kerja keras, dan tentu saja ada keindahan alam yang luar biasa di dalamnya.

Jadi, kalau lo bosan dengan liburan yang itu-itu saja—yang cuma mall ke mall atau pantai lagi pantai lagi—coba deh agendakan ke Tomohon pas bulan Agustus. Rasakan sensasi berdiri di pinggir jalan, diterpa angin sejuk pegunungan, sambil melihat mahakarya bunga yang lewat di depan mata. Rasanya kayak masuk ke dunia fantasi, tapi ini nyata dan ada di Indonesia. Kapan lagi bisa pamer di medsos kalau lo baru saja pulang dari "Pasadena-nya Indonesia"?

TIFF adalah pengingat kalau bumi kita, khususnya Sulawesi Utara, punya banyak cara untuk memanjakan penghuninya. Jadi, bungkus jaket lo, siapkan memori kamera yang lega, dan mari kita berangkat ke Tomohon!