Shadow

Belajar kepada Kaum Anshor dan Muhajirin

Spread the love
18

Pesta demokrasi merupakan ajang bergengsi, di mana suara rakyat akan menjadi kekuatan utama dalam menentukan arah negara. Dalam konteks ini, banyak perbedaan pendapat yang terjadi. Bahkan sudah menjadi tradisi menjelang pemilihan, sering kali terjadi kontroversi yang menyebabkan pertikaian dan permusuhan baik di dunia nyata maupun maya yang berdampak pada pecahnya persatuan.

                Maka menjadi penting bagi rakyat untuk merenungi nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi bangsa ini. Dalam konteks demokrasi, kebebasan bersuara menjadi hak yang diberikan kepada setiap individu. Namun, di balik ini, sebagai rakyat yang memiliki hak bebas bersuara juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas dan persatuan. Pesta demokrasi seharusnya bukan panggung bagi konflik dan perpecahan, tetapi sebaliknya, menjadi wadah bagi dialog yang bermartabat. Sejarah telah mengajarkan bahwa persatuan adalah kekuatan. Dan persatuan yang kokoh adalah pondasi negara yang damai dan sejahtera.

                Persatuan merupakan salah satu ajaran yang sangat mulia dalam Islam. Sebab, persatuan merupakan ruh kehidupan, dan menjadi pilar kekuatan dalam hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengannya, muncullah kebersamaan, kemudian lahirlah sikap saling mencintai terhadap sesama. Oleh karena itu, Alloh SWT berfirman dalam Alquran;

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَاتَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْكُنْتُمْ اَعْدَاءَ  فَأَلَفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS. Ali-Imran : 103).

                Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Tafsir Mafatih al-Ghaib juz 8, menjelaskan yang dimaksud dengan habl Alloh (agama Alloh) ini memiliki banyak arti. Di antaranya, taat atas segala perintah dan menjauhi larangan. Ada juga yang mengartikan dengan bertaubat kepada Alloh. Hanya saja, pendapat yang paling kuat adalah dengan makna spirit persatuan antar sesama. Oleh karena itu, ayat di atas memiliki kandungan dan makna persatuan yang harus digenggam erat oleh semua manusia. Karena dalam bersatu, segala rintangan akan mudah diselesaikan, segala yang rumit menjadi mudah dan setiap sesuatu yang berat akan menjadi ringan.

                Maka tak heran Rasulullah SAW tidak henti-hentinya mengajarkan persatuan kepada umatnya. Sebagaimana semangat persatuan pada hakikatnya sudah digaungkan sejak masa kenabian. Rasul tidak pernah lelah untuk berkhutbah di hadapan para sahabat untuk terus bersatu dan menghindari perpecahan. Dan, salah satu buktinya adalah dengan bersatunya sahabat Anshar dan Muhajirin, sehingga menjadi sahabat yang sangat solid dan saling bahu membahu antara keduanya.

                Tidak hanya Rasulullah, para sahabat juga demikian, mereka selalu berupaya untuk terus mempertahankan persatuan antar sesama. Di antaranya adalah sahabat Abdullah bin Mas’ud yang diceritakan dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir. Dalam suatu kesempatan, ia berkhutbah di hadapan para sahabat yang lainnya untuk terus bersatu. Ia mengatakan: “Wahai manusia!, bertakwalah kalian semua kepada Alloh, dan berpegang teguhlah dengan ketaatan dan persatuan, karena persatuan itu adalah tali Alloh yang telah Dia perintahkan. Sungguh, apa yang dibenci dalam ketaatan dan persatuan, lebih baik dari apa yang disenangi dalam perpecahan.

                Harapan, semoga rakyat Indonesia bisa menjaga persatuan dan keutuhan negara meski sering terjadi perbedaan pendapat. Berbeda bukan berarti berpecah, melainkan menjadi satu kesatuan yang utuh.

Oleh : Abd. Lathif

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *