Shadow

Darul Muttaqin, Berawal dari Sebuah Komitmen

Darul Muttaqin

Daerah religi merupakan julukan bagi tempat-tempat yang kental dengan budaya keagamaan. Di Indonesia sendiri banyak sekali daerah semacam ini. Salah satunya Madura. Sebuah pulau yang sangat indah dengan penghuni hampir semua penduduk beragama Islam. Jadi tak ayal, jka daerah ini dijuluki demikian. Predikat religi ini bukan tanpa alasan, bukti yang memperkuat, salah satunya tersebarnya madrasah di hampir plosok-plosok desa. Kali ini Koresponden Majalah Assirojiyyah berhasil mengulas salah satu madrasah yang berada di tengah dataran Madura, yakni Madrasah Darul Muttaqin, Kp. Garuan, Ds. Karpote, Kec. Blega, Kab. Bangkalan.

Sekilas Sejarah

Madrasah Darul Muttaqin didirikan oleh Kiai Suhaimi. Salah satu alumni Pondok Pesantren Assirojiyyah yang dikenal dengan panggilan Agus Semi. Awalnya Madrasah ini hanyalah surau kecil yang dipimpin ayahanda beliau, H. Rofi’i. Dalam sejarahnya, H. Rofi’i merupakan guru ngaji pertama di semenanjung daerah tersebut. Dan salah satu santri thoriqoh kepada KH. Siradjuddin dan KH. Wardi Siradj, Sampang. Beliaupun juga dikenal sebagai seorang yang sampai pada tingkatan muroqobah tiga.

Pada tahun 80-an banyak masyarakat sekitar yang  tidak mengenyam pendidikan keagamaan, khususnya para generasi muda. Melihat fenomena yang pasti akan merusak tatanan religi di daerahnya, Agus Semi pun mempunyai inisiatif untuk mendirikan lembaga keagamaan. Gayungpun bersambut, keinginan beliau beriringan dengan ridlo sang guru, KH. Bushiri Nawawi (Amuallim), Sampang. Dan diresmikan langsung oleh Almuallim pada Hari Rabu tahun 1985 M.

Baca Juga:

DAHULUKAN PEMAHAMAN LALU HAFALAN

Pada awal berdirinya, masyarakat awam banyak yang mempertanyakan, karena tak jauh dari lokasi, sudah ada madrasah yang lebih dulu berdiri. Namun beliau tetap berkomitmen, sebab realitanya masih banyak anak-anak muda yang enggan bersekolah karena alasan jaraknya yang terlalu jauh menuju madrasah yang sudah tersedia.

Penamaan madrasah memang merupakan inisiatif pendiri. Terinspirasi dari Pondok Pesantren KH. Syukron Ma’mun, Jakarta (Darul Rohman). Kata Rohman diganti dengan Muttaqin (Darul Muttaqin) yang mempunyai arti, tempat hamba yang taqwa kepada Alloh SWT.

Menurut Agus Semi, tidak begitu banyak rintangan yang ia hadapi dalam mengelola madrasah ini. Hanya saja, ada beberapa wali santri yang tidak mengikuti prosedur saat mendaftarkan anaknya  ke madrasah.

Pendidikan dan Insfrastruktur

Memasuki halaman madrasah, terjejer alas paving dengan suasana yang amat tenang berhiaskan masjid serta pohon kurma. Di tempat indah ini, para santri menimba ilmu selama tiga jam yaitu pada jam12:30-03:30 Istiwa’. Adapun kurikulum yang dipakai sama seperti madrasah-madrasah salaf pada umumnya, berkutat pada penanaman aqidah dan fiqih. Sementara jenjang pendidikan di Darul Muttaqin ini hanya ada satu tingkatan, yakni ibtidaiyyah yang ditempuh selama enam tahun.

Terdapat empat lokal kelas yang digunakan oleh kurang lebih delapan puluh santri sebagai sarana belajar dan mengajar. Dan dalam kegiatan KBM, Agus Semi dibantu oleh delapan guru, satu diantaranya adalah Guru Tugas (GT)  dari PP. Assirojiyyah, dan sisanya merupakan alumni madrasah dan kerabat dekat beliau. Seperti lazimnya ustadz, Guru Tugas diberi amanah untuk mengajar madrasah, mengajar ngaji Alquran bakda maghrib, memimpin halaqoh ngaji kitab perminggu setelah sholat subuh, dan yang terpenting menjaga waktu adzan di masjid.

Adapun finansial di lembaga yang sudah berusia 37 tahun ini, berasal dari sumbangan masyarakat sekitar, alumni serta simpatisan yang sangat simpati akan kemajuan madrasah. Hingga muncul inisiatif dari ribuan alumninya yang berada di daerah Jawa untuk mengadakan pertemuan. Akan tetapi Agus Semi tidak menyanggupi disebabkan faktor kesehatan. Beliau berharap, semoga melalui madrasah ini, para santri bisa mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan, dan para alumni tetap menjaga nama baik madrasah.

OLEH: KHOTIMUL UMAM ALHARIZ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *