Bukan Tawuran Biasa: Serunya Perang Topat di Lingsar yang Bikin Hati Adem
PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM


Bukan Tawuran Biasa: Serunya Perang Topat di Lingsar yang Bikin Hati Adem
Kalau mendengar kata "perang", pikiran kita pasti langsung melayang ke arah hal-hal yang menyeramkan. Senjata tajam, teriakan marah, atau suasana mencekam yang bikin bulu kuduk berdiri. Tapi, coba deh kamu main ke Lombok, tepatnya di Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Di sana, ada sebuah "perang" yang bukannya bikin orang lari ketakutan, malah bikin orang ketawa kegirangan sambil basah kuyup terkena lemparan nasi. Namanya adalah Festival Perang Topat.
Jujur saja, di tengah kondisi dunia yang kadang terasa makin sumpek karena perbedaan pendapat, melihat Festival Perang Topat itu rasanya seperti meminum es kelapa muda di tengah terik matahari. Segar dan menenangkan. Festival ini bukan sekadar acara hura-hura atau atraksi wisata buat menuh-menuhin feed Instagram doang, tapi ada makna yang dalam banget di baliknya. Ini adalah simbol harmoni yang sudah terjaga selama ratusan tahun.
Sejarah Singkat yang Nggak Ngebosenin
Oke, sebelum kita bahas gimana serunya lempar-lemparan nasi, kita perlu tahu dulu akarnya. Semua ini berpusat di Pura Lingsar. Pura ini unik banget, karena dibangun sekitar tahun 1714 oleh Raja Anak Agung Ngurah Karangasem. Yang bikin beda dari pura lain, Pura Lingsar ini digunakan oleh dua umat beragama sekaligus, yaitu umat Hindu dan umat Muslim Sasak (khususnya yang memegang tradisi Wetu Telu).
Bayangkan, di satu kompleks bangunan yang sama, ada area untuk sembahyang umat Hindu dan ada area yang disebut Kemaliq untuk ritual adat umat Muslim. Di sinilah Perang Topat bermula. Tradisi ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas hujan yang melimpah dan hasil panen yang subur. Jadi, alih-alih berantem memperebutkan sumber daya, mereka malah merayakannya bareng-bareng lewat ritual lempar topat (ketupat).
Vibes-nya Mirip Konser, Tapi Lebih Berkah
Pelaksanaan Perang Topat ini nggak bisa sembarangan pilih tanggal. Biasanya digelar pada waktu "Purnama Sasih Keenam" menurut penanggalan Saka Bali, atau sekitar bulan November sampai Desember. Suasananya? Wah, jangan ditanya. Rame banget! Ribuan orang dari berbagai penjuru Lombok bakal kumpul di halaman Pura Lingsar.
Sebelum "perang" dimulai, ada prosesi yang namanya mengarak sesaji atau seserahan. Orang-orang bakal bawa gunungan yang isinya hasil bumi dan tentu saja, ribuan ketupat ukuran kecil sebesar genggaman tangan anak-anak. Ketupat inilah yang nantinya jadi amunisi utama. Para peserta biasanya sudah bersiap-siap dengan kain adat masing-masing. Ada aroma kemenyan, bunyi gamelan yang rancak, dan suara riuh rendah obrolan warga yang bikin atmosfernya terasa magis tapi tetap santai.
Detik-Detik "Baku Hantam" yang Penuh Tawa
Nah, momen yang ditunggu-tunggu adalah saat aba-aba dimulai. Begitu ritual doa selesai dan tanda diberikan, suasananya langsung pecah! Ribuan ketupat terbang di udara. Dari sisi utara lempar ke selatan, dari timur lempar ke barat. Nggak ada musuh abadi di sini. Kamu bisa aja dilempar sama orang yang nggak dikenal, terus kamu bales lempar sambil ketawa-ketawa.
Serunya lagi, di Perang Topat ini nggak ada aturan yang kaku. Siapa saja boleh ikut, mau tua, muda, laki-laki, perempuan, turis lokal, sampai bule yang lagi liburan pun sering kecemplung ikut lempar-lemparan. Meskipun namanya perang, nggak ada yang baperan atau marah kalau kena lempar di muka. Malah, kalau kamu kena lempar, katanya itu bagian dari berkah.
Lucunya, setelah perang selesai, biasanya lapangan Pura Lingsar bakal penuh dengan sisa-sisa ketupat yang hancur. Nah, di sinilah keunikan lainnya muncul. Warga setempat percaya kalau sisa-sisa ketupat yang sudah dilempar itu punya berkah tersendiri. Banyak petani yang memunguti sisa ketupat tadi untuk dibawa pulang ke sawah mereka. Katanya sih, biar tanahnya makin subur dan dijauhkan dari hama. Sebuah kearifan lokal yang mungkin terdengar nggak masuk akal buat kaum urban yang skeptis, tapi buat warga Lingsar, ini adalah bagian dari iman dan tradisi yang tak terpisahkan.
Lebih dari Sekadar Lempar Nasi
Kalau kita mau tarik benang merahnya, Festival Perang Topat ini adalah tamparan halus buat kita yang sering ribut cuma gara-gara beda keyakinan. Di Lingsar, perbedaan itu bukan tembok, tapi malah jembatan. Umat Hindu dan Muslim di sana sudah mempraktikkan toleransi jauh sebelum kata "toleransi" itu sendiri jadi tren di media sosial.
Mereka membuktikan kalau harmoni itu bisa diciptakan lewat hal-hal sederhana, bahkan lewat perang ketupat sekalipun. Nggak perlu pidato formal yang membosankan di gedung mewah untuk bicara soal perdamaian. Cukup dengan saling melempar ketupat, tertawa bersama, dan saling menghormati ritual masing-masing, kedamaian itu tercipta dengan sendirinya.
Kesimpulan: Wajib Masuk Bucket List!
Jadi, kalau kamu punya rencana liburan ke Lombok, jangan cuma main ke pantai atau naik ke Rinjani saja. Coba deh cocokin jadwal liburan kamu dengan waktu pelaksanaan Festival Perang Topat. Rasakan sendiri sensasi kena lempar ketupat sambil melihat langsung gimana indahnya persaudaraan antar umat beragama di sana.
Bawa baju ganti ya, karena selain bakal kotor kena remah-remah ketupat, kadang suasananya juga makin liar dengan siram-siraman air. Tapi percayalah, pulang dari sana, kamu nggak cuma bawa baju kotor, tapi juga bawa oleh-oleh berupa perspektif baru soal gimana caranya hidup rukun di tengah keberagaman. Festival Perang Topat bukan cuma soal uniknya tradisi, tapi soal hangatnya hati manusia yang mau saling berbagi ruang dan kebahagiaan. Keren banget, kan?
Next News

Grebeg Maulud: Ritual Rebutan Berkah yang Bikin Jantung Mau Copot tapi Tetap Nagih
10 hours ago

Mencicipi Hangatnya Paskah di Indonesia: Dari Ritual Syahdu Sampai Perburuan Telur yang Chaos
10 hours ago

Mappacci: Bukan Sekadar Pakai Kutek, Tapi Ritual 'Deep Cleaning' Jiwa ala Bugis-Makassar
10 hours ago

Ngeri-Ngeri Sedap: Mengulik Debus, Warisan Jawara Banten yang Bikin Bulu Kuduk Berdiri
10 hours ago

Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa
10 hours ago

Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh
10 hours ago

Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita
10 hours ago

Mengenal Erau: Pesta Rakyat Kalimantan Timur yang Lebih dari Sekadar Hura-hura
10 hours ago

Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta
10 hours ago

Bukan Cuma Sekadar Pesta: Menyesap Magis di Semarak Festival Danau Toba
10 hours ago





