Mappacci: Bukan Sekadar Pakai Kutek, Tapi Ritual 'Deep Cleaning' Jiwa ala Bugis-Makassar
PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM


Mappacci: Bukan Sekadar Pakai Kutek, Tapi Ritual 'Deep Cleaning' Jiwa ala Bugis-Makassar
Pernah nggak sih kalian main ke daerah Sulawesi Selatan, terus malam sebelum akad nikah, suasana di rumah mempelai tiba-tiba jadi syahdu banget? Ada bau-bauan khas daun-daunan, bunyi kecapi yang mendayu, dan orang-orang tua yang pakai baju bodo warna-warni sibuk mondar-mandir. Nah, kalau kalian melihat pemandangan itu, fiks kalian lagi menyaksikan prosesi Mappacci. Ritual ini bukan cuma sekadar acara kumpul-kumpul atau sesi oles-oles pacar kuku biar estetik di kamera, tapi lebih dalam dari itu.
Jujurly, buat anak muda zaman sekarang yang apa-apa pengennya serba simpel dan sat-set, Mappacci mungkin terlihat "rempong". Harus duduk diam di pelaminan (lamming) berjam-jam, diusap-usap tangannya sama puluhan orang, sampai pinggang rasanya mau minta resign. Tapi, kalau kita bedah maknanya, Mappacci itu ibarat sesi "deep cleaning" spiritual sebelum seseorang benar-benar melangkah ke babak baru kehidupan pernikahan yang katanya penuh plot twist itu.
Filosofi di Balik Kata "Paccing"
Secara etimologi, kata Mappacci itu asalnya dari kata "Paccing" yang dalam bahasa Bugis artinya bersih atau suci. Jadi, tujuan utama ritual ini adalah untuk menyucikan diri si calon pengantin. Bukan cuma suci badannya karena habis luluran di salon, tapi juga suci hati dan pikirannya. Orang Bugis-Makassar percaya kalau mau membangun rumah tangga yang berkah, ya start-nya harus bersih dulu. Dosa-dosa lama, sifat buruk, atau ganjalan di hati harus "dicuci" lewat doa-doa dan restu dari orang-orang sekitar.
Biasanya, acara ini digelar pas malam pacar (tudang mpenni). Suasananya itu beda banget sama resepsi yang biasanya bising sama musik dangdut atau band Top 40. Mappacci itu lebih intim. Isinya cuma keluarga besar, kerabat dekat, dan tokoh masyarakat yang dihormati. Di sinilah momen haru sering pecah, apalagi pas si calon pengantin minta restu sama orang tuanya. Vibes-nya dapet banget, sampai yang jomblo pun kadang ikutan baper dan pengen cepet-cepet nyusul.
Bukan Sekadar Barang, Semuanya Ada Maknanya
Satu hal yang bikin Mappacci ini unik adalah peralatannya. Jangan salah, benda-benda yang ada di depan calon pengantin itu bukan pajangan doang atau properti foto biar kelihatan "culture" banget. Semuanya punya simbolisme yang nggak main-main. Yuk, kita breakdown satu-satu biar nggak kudet:
- Bantal (Pattapi): Simbol kehormatan dan martabat. Artinya, pengantin diharapkan bisa menjaga harga diri keluarganya nanti.
- Sarung (Lipa Sabbe) 7 Lapis: Kenapa harus tujuh? Angka tujuh dalam filosofi Bugis sering dikaitkan dengan jumlah lapisan langit atau keberuntungan. Ini melambangkan ketekunan dan kesabaran dalam membina rumah tangga.
- Daun Pisang: Melambangkan kehidupan yang terus berlanjut. Pohon pisang kan kalau ditebang tumbuh lagi tuh, nah harapannya rezeki dan kebahagiaan pasangan ini nggak bakal putus-putus.
- Daun Nangka (Panasa): Dalam bahasa Bugis, nangka itu disebut "Minasa" yang artinya harapan. Jadi, setiap usapan daun nangka adalah simbol doa dan harapan baik buat masa depan.
- Lilin: Sebagai penerang. Biar jalan rumah tangganya nggak gelap gulita kalau lagi kena badai masalah.
- Daun Pacci (Inai): Ini bintang utamanya. Daun pacci yang sudah dihaluskan ini dioleskan ke telapak tangan sebagai tanda sahnya pembersihan diri secara simbolis.
Prosesi yang Menguras Emosi dan Doa
Urutan acaranya dimulai dengan pembukaan oleh protokol yang biasanya jago banget ngerangkai kata-kata puitis bahasa Bugis yang bikin merinding. Terus, satu per satu orang yang dituakan—biasanya mereka yang rumah tangganya harmonis dan dianggap sukses—bakal maju buat ngolesin pacci ke tangan calon pengantin. Kenapa harus yang rumah tangganya sukses? Ya, tujuannya biar "energi positif" dan keberuntungan mereka nular ke si calon pengantin. Istilahnya, cari berkah dari para sesepuh.
Pas prosesi ini berlangsung, biasanya bakal ada iringan musik tradisional atau pembacaan shalawat. Momen paling epik adalah pas orang tua sendiri yang maju. Di situ biasanya tangisan pecah. Ada rasa haru karena anak yang dulu kecil sekarang sudah mau jadi milik orang lain. Mappacci jadi semacam "perpisahan" manis sekaligus restu paling tulus dari orang tua sebelum melepas anaknya berlayar di samudra rumah tangga.
Tapi ya, namanya juga acara keluarga besar, nggak jarang ada sedikit bumbu-bumbu lucu. Misalnya, ada tante yang ngolesin pacci-nya ketebelan sampai susah kering, atau ada sepupu yang bukannya doain malah bisik-bisik nanya "kapan giliran saya?". Itulah seninya, tradisional tapi tetap manusiawi.
Kenapa Tradisi Ini Harus Tetap Eksis?
Mungkin ada yang mikir, "Zaman udah canggih, Elon Musk udah mau ke Mars, kok kita masih sibuk oles-oles daun ke tangan?" Eits, jangan salah. Justru di tengah gempuran budaya pop yang serba instan, tradisi kayak Mappacci ini jadi jangkar identitas kita. Mappacci mengajarkan kita soal adab, soal pentingnya minta restu ke orang tua, dan soal menghargai proses.
Banyak anak muda Bugis-Makassar yang merantau jauh ke Jakarta atau luar negeri, tapi pas mau nikah, mereka pasti bela-belain pulang buat Mappacci. Ada rasa bangga tersendiri saat kita bisa menjalankan tradisi leluhur. Lagipula, foto-foto Mappacci itu punya nilai estetika yang tinggi banget, jauh lebih berkesan daripada sekadar foto prewedding di kafe-kafe estetik.
Jadi, Mappacci itu bukan cuma soal ritual kuno. Ini adalah tentang doa yang divisualisasikan, tentang keluarga yang berkumpul, dan tentang kesiapan mental sebelum mengucap janji suci. Buat kalian yang bakal atau sedang merencanakan pernikahan dengan adat Sulawesi Selatan, nikmati setiap detiknya. Meskipun pegel duduk tegak berjam-jam, ingatlah kalau setiap usapan pacci di tanganmu adalah doa-doa yang akan mengiringi langkahmu ke depannya. Tetap bangga dengan budaya sendiri ya, gaes!
Next News

Grebeg Maulud: Ritual Rebutan Berkah yang Bikin Jantung Mau Copot tapi Tetap Nagih
9 hours ago

Mencicipi Hangatnya Paskah di Indonesia: Dari Ritual Syahdu Sampai Perburuan Telur yang Chaos
9 hours ago

Ngeri-Ngeri Sedap: Mengulik Debus, Warisan Jawara Banten yang Bikin Bulu Kuduk Berdiri
9 hours ago

Menyesap Wangi Krisan di Tomohon International Flower Festival: Bukan Sekadar Pawai Bunga Biasa
9 hours ago

Menunggu Malam Pangerupukan: Seni, Keringat, dan Mistisme di Balik Megahnya Ogoh-Ogoh
9 hours ago

Galungan: Saat Bali Berubah Jadi Estetik, Wangi, dan Penuh Cerita
9 hours ago

Mengenal Erau: Pesta Rakyat Kalimantan Timur yang Lebih dari Sekadar Hura-hura
9 hours ago

Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta
9 hours ago

Bukan Cuma Sekadar Pesta: Menyesap Magis di Semarak Festival Danau Toba
9 hours ago

Bukan Tawuran Biasa: Serunya Perang Topat di Lingsar yang Bikin Hati Adem
9 hours ago





