Minggu, 12 April 2026
Assirojiyah.online
KPPA

Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta

PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM

Background
Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta
Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta (istimewa/)

Seren Taun: Bukan Sekadar Pesta Panen, Ini Cara Orang Sunda Berterima Kasih pada Semesta

Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau hidup di kota itu isinya cuma kerja, kena macet, scroll TikTok, terus tidur? Kadang kita lupa kalau makanan yang kita makan—itu lho, nasi putih anget yang nemenin ayam geprek kalian—punya perjalanan panjang dan spiritual sebelum mendarat di piring. Nah, di Jawa Barat, ada satu tradisi yang bakal bikin kalian sadar kalau urusan padi itu bukan cuma soal urusan perut, tapi soal koneksi mendalam antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Namanya, Seren Taun.

Kalau kalian denger kata "tradisi", mungkin yang terlintas di kepala adalah sesuatu yang membosankan atau cuma buat orang tua. Tapi tunggu dulu. Seren Taun ini beda. Vibes-nya itu lho, magis tapi meriah. Bayangin aja, ribuan orang tumpah ruah ke jalan, bunyi lesung yang dipukul berirama (ngagondang), tarian yang estetik banget, sampai aroma kemenyan dan bunga yang bikin bulu kuduk merinding tapi sekaligus tenang. Ini bukan sekadar acara seremonial, ini adalah "lebaran"-nya para petani Sunda.

Filosofi di Balik Kata Seren Taun

Secara bahasa, "Seren" itu artinya serah terima, dan "Taun" ya artinya tahun. Jadi, secara harfiah, Seren Taun adalah ritual serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang. Dalam konteks masyarakat agraris Sunda, ini adalah momen untuk melaporkan hasil panen selama setahun terakhir sambil berdoa supaya tahun depan nggak kalah subur.

Tapi jangan salah, ini bukan pamer harta atau pamer hasil sawah ya. Di sini ada pesan mendalam tentang ketahanan pangan dan rasa syukur. Masyarakat Sunda tradisional, terutama yang masih memegang teguh adat seperti di Cigugur (Kuningan), Cisolok (Sukabumi), atau Sindang Barang (Bogor), percaya kalau alam itu ibu. Kalau kita ngerusak alam, ya sama aja kita nyakitin ibu sendiri. Lewat Seren Taun, mereka merayakan hubungan harmonis itu.

Ngajayak: Parade Padi yang Bikin Merinding

Salah satu prosesi yang paling ditunggu-tunggu adalah Ngajayak. Ini adalah momen di mana masyarakat menjemput padi dari sawah untuk dibawa ke lumbung (leuit). Tapi jangan bayangin padi dibawa pakai truk ya. Padi-padi ini dipikul pakai rengkong—bambu panjang yang kalau dibawa jalan bakal ngeluarin suara decit yang khas banget.

Gue pribadi ngerasa, suara rengkong itu kayak musik alami yang nggak bisa digantiin sama speaker mahal sekalipun. Para perempuan juga ikut baris rapi sambil nanggung bakul nasi di atas kepala. Semuanya pakai baju adat. Kalau kalian lihat langsung, ada rasa haru yang aneh muncul. Di tengah gempuran teknologi dan impor beras yang sering bikin pusing, masyarakat adat ini tetap setia menjaga benih warisan leluhur mereka.

Puncak Acara: Menumbuk Padi Massal

Puncak dari segala keriuhan ini adalah saat prosesi penumbukan padi secara massal. Ribuan kuintal padi dimasukkan ke dalam lubang lesung besar, lalu dipukul bareng-bareng pakai alu. Bunyinya? Jedag-jedug tapi ritmis! Ini bukan asal mukul, lho. Irama yang dihasilkan itu simbol dari kekompakan dan gotong royong.

Di sini nggak ada yang namanya kasta. Mau lo pejabat, mau lo turis, mau lo warga lokal, kalau udah pegang alu, ya semuanya sama-sama capek dan sama-sama seneng. Hasil tumbukannya nanti dibagikan lagi ke masyarakat. Ini adalah simbol kalau rezeki itu harus muter, nggak boleh berhenti di satu orang doang. Vibes sosialnya bener-bener dapet banget, jauh lebih berasa daripada cuma sekadar bagi-bagi giveaway di Instagram.

Kenapa Anak Muda Perlu Tahu?

Mungkin ada yang nanya, "Terus apa urusannya sama gue yang tiap hari makan ramen?" Gini, guys. Seren Taun itu ngajarin kita soal keberlanjutan atau sustainability yang sekarang lagi tren banget di kalangan anak senja. Masyarakat adat udah mempraktekkan hidup ramah lingkungan jauh sebelum istilah "Zero Waste" itu ada. Mereka tahu kapan harus menanam, kapan harus istirahat, dan gimana cara menjaga air tetap bersih.

Selain itu, Seren Taun adalah benteng identitas. Di tengah budaya pop yang makin seragam, ngelihat tradisi yang masih tegak berdiri itu rasanya kayak nemu oase. Ini membuktikan kalau jadi modern itu nggak harus ninggalin akar. Kita bisa kok jadi anak tech-savvy tapi tetap hormat sama bumi yang kita pijak.

Kalau kalian punya waktu luang, coba deh sekali-kali main ke Cigugur, Kuningan saat upacara ini berlangsung. Biasanya diadakan tiap tanggal 22 Rayagung (bulan terakhir dalam kalender Sunda). Kalian bakal ngerasain gimana hangatnya toleransi di sana. Seren Taun di Cigugur misalnya, itu melibatkan semua penganut agama. Mau Muslim, Kristen, Katolik, atau penghayat Sunda Wiwitan, semuanya tumplek bleg jadi satu. Nggak ada sekat, yang ada cuma rasa persaudaraan sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Penutup: Refleksi di Tengah Modernitas

Akhir kata, Seren Taun itu bukan cuma soal joget-joget pakai baju adat atau ritual kuno yang nggak masuk akal. Ini adalah pengingat keras buat kita semua yang sering lupa bersyukur. Kita sering komplain makanan nggak enak, tapi kita lupa betapa susahnya petani nanam padi. Kita sering buang-buang nasi, padahal di tiap butirnya ada doa dan keringat yang dirayakan dengan upacara sebesar ini.

Tradisi ini adalah cara orang Sunda bilang, "Hatur nuhun, Gusti, bumi ini masih baik sama kami." Jadi, kapan nih kita mau ikut merayakan rasa syukur itu? Jangan cuma jago bikin story galaunya aja, sekali-kali bikin story tentang kekayaan budaya kita sendiri biar dunia tahu kalau Indonesia itu bukan cuma Bali, tapi ada harmoni yang indah dari tanah Pasundan.