Sabtu, 8 Agustus 2026
Assirojiyah.online
KPPA

KEUTAMAAN AL-I'TIDZAR DAN AL-AFWU DALAM KEHIDUPAN SPIRITUAL

PT. Assrof Media - Saturday, 08 August 2026 | 09:55 AM

Background
KEUTAMAAN AL-I'TIDZAR DAN AL-AFWU  DALAM KEHIDUPAN SPIRITUAL
KEUTAMAAN AL-I'TIDZAR DAN AL-AFWU DALAM KEHIDUPAN SPIRITUAL (PT Assrof Media/ISTIMEWA)

KEUTAMAAN AL-I'TIDZAR DAN AL-AFWU

DALAM KEHIDUPAN SPIRITUAL

Oleh: Qurrotul Ainy Abdulloh

Manusia adalah makhluk ciptaan Alloh yang paling sempurna, baik dari fisik maupun gaya hidup. Keistimewaannya jauh berbeda dari makhluk lainnya. Namun, hal ini tidak menunjukkan bahwa manusia itu sempurna. Sebab, setiap orang memiliki keistimewaan dan kekurangan yang berbeda-beda. Bukan hanya itu, dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak akan terlepas dari kesalahan dan kekhilafan, baik kesalahan yang menyangkut hak Alloh ataupun yang menyangkut hak manusia lainnya.

Rasululloh SAW bersabda yang artinya: "Setiap anak Adam (manusia) pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah). Hadis ini dengan jelas menggarisbawahi bahwa kesalahan adalah bagian dari tabiat manusia, dan bertaubat adalah hal yang paling utama.

Lalu, apa itu taubat? Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat taubat mencakup tiga unsur: penyesalan dalam hati (nadam), berhenti dari perbuatan salah (iqla'), dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya ('azm). Jika kesalahan itu menyangkut hak manusia, maka untuk menyempurnakan taubat, kita diwajibkan untuk meminta maaf. Sebagaimana sabda Nabi yang artinya: "Barang siapa yang pernah berbuat jahat (zalim) kepada saudaranya, baik kehormatan maupun harta, maka mintalah maaf kepadanya sebelum datang hari kiamat, di mana dinar dan dirham tidak berguna lagi (untuk menebus kesalahan)." (HR. Bukhari).

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa meminta maaf berhukum wajib ketika seseorang melakukan ghibah, menyakiti, atau mengambil hak orang lain. Dalam ajaran Islam, meminta maaf (i'tidzar) merupakan sikap yang bukan sekadar etika sosial, tetapi juga ibadah yang memiliki kedudukan tinggi dalam syariat. Sebab, dengan meminta maaf, seseorang telah menurunkan ego dan menundukkan hawa nafsunya.

Imam Ibnu Qayyim menegaskan bahwa penyebab seseorang sulit meminta maaf adalah ego yang ada dalam dirinya. Oleh karena itu, orang yang berani meminta maaf termasuk orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Sementara itu, sandingan i'tidzar (meminta maaf) adalah al-'afwu (memaafkan). Sebab, perdamaian dan ketenangan hati tidak akan tercapai jika kedua sikap ini tidak disandingkan. Lantas, apa yang dimaksud al-'afwu? Al-'afwu berarti menghapus tuntutan terhadap seseorang yang telah berbuat salah, melapangkan dada, dan tidak menyimpan dendam. Dalam Lisan al-'Arab, kata 'afwu berarti "menghapus", seperti angin yang menghapus jejak kaki di pasir. Artinya, memaafkan adalah membersihkan hati dari luka dan kemarahan.

Alloh SWT berfirman yang artinya: "Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, serta orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali Imran: 133–134). Ayat ini menjelaskan bahwa meminta maaf dan memaafkan merupakan akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Segala macam kebaikan yang dilakukan akan kembali kepada diri kita sendiri.

Cara terbaik untuk memahami keutamaan memaafkan (al-'afwu) adalah dengan meneladani Rasululloh SAW. Beliau bukan sekadar mengajarkan pentingnya memaafkan lewat ucapan, melainkan juga menunjukkannya melalui tindakan nyata yang sangat menyentuh dan menggugah hati.

Salah satu kisah inspiratif dari beliau adalah ketika beliau memaafkan penduduk Thaif. Saat itu Rasululloh SAW berdakwah ke Thaif. Penduduk Thaif tidak hanya menolak dakwah beliau, tetapi juga mengusir dan melempari beliau dengan batu hingga berdarah. Malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghancurkan mereka sebagai balasan. Namun, Rasululloh menolak dan berkata: "Aku berharap Alloh mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Alloh semata dan tidak menyekutukan-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari kisah Rasululloh ini, dapat kita pahami bahwa puncak dari sikap pemaaf bukan hanya sekadar memaafkan, melainkan juga mendoakan kebaikan bagi orang yang telah menyakiti.

Kendati demikian, sebagian besar dari kita masih kesulitan untuk menerapkan kedua sikap di atas: al-i'tidzar (meminta maaf) dan al-'afwu (memaafkan). Terkadang, sebagian dari kita telah berani meminta maaf, akan tetapi sebagian lainnya enggan untuk memaafkan. Begitu pula sebaliknya, terkadang yang terzalimi bersedia memaafkan meski tanpa diminta, sedangkan yang menzalimi enggan untuk menyadari kesalahannya dan tidak memiliki keinginan untuk meminta maaf.

Lalu, bagaimana cara kita menyikapi perselisihan yang pertama, yaitu jika orang yang bersalah sudah meminta maaf, tetapi orang yang dimintai maaf tidak memaafkan? Dalam channel YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya mengatakan, "Maka bagaimana jika kita yang melakukan kesalahan? Maka mintalah maaf terus kepada dia. Tidak bisa dengan cara ini, dengan cara yang lain. Terus, jangan berhenti. Tidak boleh berkata 'ya sudah kalau tidak mau memaafkan'. Karena yang penting adalah urusan kita dengan Alloh. Kalau kita tulus meminta maaf dan benar-benar takut dengan hukuman Alloh, tentu kita tidak akan meminta maaf sekali atau dua kali. Kita akan meminta maaf dengan banyak cara. Sampai kapan? Sampai dia mati atau kita mati. Kemudian ketika dia sudah mati dan belum memaafkan, bagaimana? Kalau dia masih keras belum memaafkan, tetapi kita serius meminta maaf dengan berbagai macam cara, maka ketahuilah, nanti di akhirat Alloh akan menyelesaikan urusan tersebut. Jadi, yang akan memberikan solusi adalah Alloh SWT. Yang penting kita benar-benar serius meminta maaf."

Dari ungkapan Buya Yahya di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang melakukan kesalahan harus mencari berbagai cara agar permintaan maafnya diterima. Karena kesalahan yang menyangkut hak manusia dapat diampuni jika yang terzalimi sudah memaafkan. Selain itu, orang yang meminta maaf (bertaubat) adalah golongan orang yang dicintai Alloh. Sebagaimana firman Alloh yang artinya: "Sungguh, Alloh mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222). Oleh sebab itu, meminta maaf merupakan tindakan penting yang harus segera dilakukan ketika seseorang melakukan kesalahan.

Adapun perselisihan yang kedua, yaitu memaafkan orang yang menzalimi meskipun dia tidak memiliki keinginan untuk meminta maaf. Dalam hal ini, seseorang yang berlapang dada memaafkan kesalahan orang lain sekalipun belum dimintai maaf, maka kelak pada hari kiamat Alloh akan memberinya maaf sebagaimana dia telah memberi maaf. Hal ini berkaitan dengan sabda Nabi yang artinya: "Barang siapa yang memberi maaf ketika dia mampu membalas dendam, maka Alloh akan memberinya maaf pada hari kiamat." (HR. Ahmad).

Nilai Spiritual dan Sosial dari Memaafkan

Secara spiritual, memaafkan dapat membuka pintu ampunan Alloh. Seseorang yang mudah memaafkan akan dipermudah pula urusannya oleh Alloh. Sedangkan secara sosial, orang yang gemar memaafkan akan mengurangi tingkat konflik antarindividu. Dalam keluarga, memaafkan menjadi kunci keharmonisan, kerukunan, dan ketenteraman rumah tangga. Dalam pertemanan, memaafkan dapat memperkuat persaudaraan dan menghilangkan perselisihan.

Lebih lanjut, dalam membahas sikap al-'afwu ini, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), dalam beberapa ceramahnya, sering menekankan pentingnya memaafkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Bukan hanya itu, beliau juga menyampaikan bahwa memaafkan akan memperbaiki hubungan antarindividu. Memaafkan tidak hanya membawa kebaikan kepada orang yang dimaafkan, tetapi juga memberikan ketenangan dan kebahagiaan bagi diri sendiri. Menurut beliau, memaafkan merupakan salah satu cara untuk membersihkan hati dari rasa dendam dan kebencian yang dapat merusak kebahagiaan dan kesehatan spiritual seseorang. Selain itu, beliau juga menyebutkan beberapa keutamaan memaafkan lainnya: menghapus dosa dan mengangkat derajat, menjaga silaturahmi, serta mendapatkan ketenangan jiwa.

Berkaitan dengan penjelasan di atas, Nabi bersabda yang artinya: "Keutamaan adalah bahwa engkau menghubungi orang yang memutusimu, engkau memberi orang yang tidak memberimu, dan engkau memaafkan orang yang menganiayamu." (HR. Hanaad).

Kesimpulan

Meminta maaf dan memaafkan bukan sekadar etika sosial dalam Islam, tetapi juga termasuk ibadah hati yang memiliki kedudukan mulia di sisi Alloh. Kedua sikap ini menjadi salah satu ciri orang yang bertakwa, pembuka pintu ampunan, serta jalan menuju ketenangan jiwa dan keharmonisan sosial. Semoga kita semua bisa menerapkan kedua sikap ini dalam kehidupan sehari-hari. Meski tidak mencapai puncak, setidaknya kita termasuk golongan orang yang mau berusaha. Wallahu a'lam.

Tags