Minggu, 16 Agustus 2026
Assirojiyah.online
KPPA

MERDEKA DALAM DIRI, TUNDUK DALAM ILMU

PT. Assrof Media - Monday, 17 August 2026 | 12:59 AM

Background
MERDEKA DALAM DIRI, TUNDUK DALAM ILMU
MERDEKA DALAM DIRI, TUNDUK DALAM ILMU (PT Assrof Media/ISTIMEWA)

Kemerdekaan sering kali dimaknai sebagai kebebasan. Bebas menentukan pilihan, menyampaikan pendapat, mengejar cita-cita, dan menentukan jalan kehidupan. Namun, bagi seorang santri, kemerdekaan memiliki makna yang lebih dalam. Kemerdekaan bukan sekadar tentang bebas melakukan apa saja, melainkan kemampuan untuk mengendalikan diri dan memilih jalan yang benar.

"Merdeka dalam diri, tunduk dalam ilmu." Kalimat ini menggambarkan dua sisi kehidupan seorang santri yang tampak berlawanan, tetapi sesungguhnya saling melengkapi. Merdeka dalam diri berarti memiliki keberanian untuk berpikir, berusaha, dan menentukan sikap. Sementara itu, tunduk dalam ilmu berarti memiliki kerendahan hati untuk belajar, menerima nasihat, dan menghormati guru.

Seorang santri yang benar-benar merdeka bukanlah mereka yang bebas dari aturan. Justru, ia mampu membebaskan dirinya dari sesuatu yang dapat merusak masa depan: hawa nafsu, kemalasan, kesombongan, dan ketidaktahuan. Kebebasan semacam inilah yang membutuhkan perjuangan paling besar karena lawannya bukan penjajah di luar diri, melainkan kelemahan yang ada di dalam diri sendiri.

Di pesantren, santri belajar bahwa ilmu tidak cukup hanya untuk diketahui, tetapi harus dihormati dan diamalkan. Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati pula dirinya. Ketundukan kepada ilmu bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan selalu membutuhkan proses belajar.

Kemerdekaan juga memberikan ruang kepada santri untuk berkembang. Santri dapat mempelajari berbagai bidang, menguasai teknologi, mengembangkan kreativitas, serta mengambil peran dalam masyarakat. Akan tetapi, kebebasan tersebut harus tetap dibingkai oleh ilmu dan akhlak. Sebab, kebebasan tanpa pengetahuan dapat melahirkan kesalahan, sedangkan pengetahuan tanpa akhlak dapat kehilangan arah.

Di tengah zaman yang semakin terbuka, santri menghadapi tantangan yang tidak ringan. Arus informasi begitu cepat, berbagai budaya masuk tanpa batas, dan media sosial sering kali membuat seseorang mudah mengikuti sesuatu tanpa mempertimbangkan manfaat dan mudaratnya. Dalam kondisi seperti ini, kemerdekaan diri berarti mampu mengatakan "tidak" terhadap sesuatu yang tidak baik, meskipun banyak orang mengikutinya.

Pada akhirnya, kemerdekaan seorang santri tidak diukur dari seberapa bebas ia menjalani kehidupan, tetapi dari seberapa mampu ia mengendalikan dirinya. Ia bebas bermimpi, tetapi tetap rendah hati. Ia bebas berkarya, tetapi tetap berpegang pada nilai. Ia bebas berpikir, tetapi tetap menghormati ilmu dan guru.

Merdeka dalam diri bukan berarti bebas dari nilai, sedangkan tunduk dalam ilmu bukan berarti kehilangan kebebasan. Keduanya adalah jalan untuk membentuk santri yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.