Sabtu, 5 September 2026
Assirojiyah.online
KPPA

DAKWAH EKOLOGI DAN TATA KELOLA SAMPAH

PT. Assrof Media - Saturday, 05 September 2026 | 01:29 AM

Background
DAKWAH EKOLOGI DAN TATA KELOLA SAMPAH
DAKWAH EKOLOGI DAN TATA KELOLA SAMPAH (PT Assrof Media/ISTIMEWA)

DAKWAH EKOLOGI DAN TATA KELOLA SAMPAH

Indonesia saat ini menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks. Pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya konsumsi masyarakat, serta rendahnya kesadaran dalam mengelola sampah, menyebabkan timbunan sampah terus bertambah setiap hari. Kondisi ini bukan lagi sekadar persoalan kebersihan, tetapi telah menjadi ancaman bagi lingkungan, kesehatan, bahkan keberlangsungan hidup generasi mendatang. Izin bertanya untuk pertanyaan pertama.


Menurut Profesor, mengapa persoalan sampah di Indonesia saat ini sudah layak disebut sebagai kondisi darurat?

Terkait ungkapan 'Indonesia Darurat Sampah', hal tersebut sebenarnya menandakan bahwa masyarakat mulai memiliki atensi. Sebagai salah satu orang yang turut merumuskan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah berpuluh-puluh tahun yang lalu, saya melihat keterlibatan santri hari ini adalah sesuatu yang luar biasa.

Santri harus mengambil peran penting dalam melakukan rekayasa (engineering) sekaligus menjadi penggerak (generator) tata kelola sampah. Jika sampah hanya didiamkan begitu saja, maka ia akan selamanya menjadi masalah. Namun, jika sampah tersebut diolah dengan ilmu yang benar, maka masalah tersebut akan berubah menjadi berkah dan rezeki. Sampah bukan lagi urusan darurat, melainkan jalur transformasi rezeki yang bernilai ekonomi."

 

Apa faktor terbesar yang menyebabkan volume sampah di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun?

Secara konvensional, pertumbuhan demografi dan peningkatan populasi di Indonesia berbanding lurus dengan timbulan sampah. Manusia pada hakikatnya adalah 'pabrikan sampah' karena setiap individu memiliki potensi memproduksi sampah setiap hari. Semakin besar populasi di suatu wilayah (terutama di wilayah perkotaan), maka volume timbulan sampahnya akan jauh lebih besar dibandingkan dengan wilayah pedesaan yang populasinya lebih kecil.

 

Banyak masyarakat masih menganggap membuang sampah adalah urusan pemerintah. Bagaimana pandangan Profesor mengenai pola pikir tersebut?

Mengenai anggapan bahwa sampah adalah urusan pemerintah, melalui UU No. 18 Tahun 2008, kita justru ingin merombak paradigma lama masyarakat tersebut.

Paradigma Lama: Kumpul -> Angkut -> Buang. Di sini, TPA diartikan sebagai Tempat Pembuangan Akhir. Sampah dianggap sebagai barang kotor yang harus disingkirkan dan diserahkan begitu saja ke pemerintah.

Paradigma Baru: Kumpul -> Pilah -> Olah. Di sini, TPA diubah fungsinya menjadi Tempat Pemrosesan Akhir yang melibatkan peran aktif masyarakat dari sumbernya."

 

Seberapa besar dampak sampah terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, serta perubahan iklim apabila tidak segera ditangani? Dan apa kesalahan paling mendasar yang masih sering dilakukan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga?"

Dampaknya tentu sangat besar bagi lingkungan dan keimanan kita. Atas dasar keimanan bahwa 'Kebersihan adalah sebagian dari iman' (An-nazhafatu minal iman), pengelolaan sampah wajib dilakukan agar tidak mengotori kesucian iman kita. Lingkungan yang kotor bisa menjadi cerminan iman yang sedang kotor. Oleh karena itu, kita perlu melakukan taharah ekologi (bersuci lingkungan) agar kondisi yang awalnya merusak lingkungan bisa berubah menjadi nikmat.

Kesalahan paling mendasar masyarakat adalah tidak melakukan pemilahan dan pembatasan. Khusus untuk sampah plastik yang sulit terurai, solusinya adalah pembatasan dan teknologi penanganan. Masyarakat dan para santri di pesantren harus diedukasi untuk melakukan pemilahan sejak dari sumbernya: memisahkan mana sampah organik, anorganik (plastik/kertas), dan sampah tajam.

 

Pemerintah telah memiliki berbagai regulasi terkait pengelolaan sampah. Menurut Profesor, apakah yang menjadi tantangan terbesar dalam implementasinya?

Tantangan terbesarnya adalah mengubah kebiasaan dan cara kerja sistem di lapangan. Kita harus bergeser ke arah pengurangan dan pemilahan sampah:

Pengurangan Sampah: Santri bisa mulai membawa botol minum sendiri (tumbler) untuk mengurangi sampah plastik, serta membudayakan menghabiskan makanan agar tidak menjadi sampah organik.

Pemilahan Sampah: Memisahkan antara sampah organik (sisa makanan) dan anorganik.

Jika pemilahan dari sumber ini berjalan lewat kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, maka sistem pengelolaan sampah nasional akan jauh lebih ringan dan efektif.

 

Banyak orang yang beranggapan bahwa sampah tidak memiliki nilai ekonomi. Benarkah demikian?

Sangat tidak benar jika sampah dianggap tidak bernilai. Jika dipilah dengan baik, sampah memiliki nilai guna yang sangat tinggi:

Sampah Organik: Dapat diolah menjadi pupuk kompos untuk tanaman pesantren atau dialokasikan sebagai pakan ternak/budidaya lele di lingkungan pondok.

Sampah Plastik (BBM Alternatif): Sampah plastik dapat diolah melalui proses distilasi menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) alternatif yang setara dengan Pertalite. Saya pribadi pernah memfasilitasi beberapa SMK di Jawa Timur (seperti di Malang, Tulungagung, Trenggalek, dan Madiun) yang berhasil mengubah plastik menjadi BBM untuk sepeda motor dan perahu nelayan. Jika hal ini dikembangkan, kota-kota tidak lagi kekurangan tempat sampah, melainkan orang-orang akan berebut mengumpulkan plastik.

Sampah Makro/TPA (Listrik & Biogas): Sejak tahun 2010, beberapa TPA besar sudah mampu mengubah sampah menjadi energi alternatif (waste-to-energy) berupa gas metan untuk listrik dan biogas. Dengan paradigma ini, TPA tidak akan lagi didemo oleh masyarakat karena keberadaannya justru mendatangkan manfaat energi bagi rumah tangga di sekitarnya."

 

Apa peran dunia pendidikan, khususnya pesantren, dalam membangun budaya peduli lingkungan? Bagaimana cara sederhana yang dapat diterapkan santri? Dan terakhir, apa pesan Profesor kepada generasi muda, khususnya para santri, agar menjadi pelopor kelestarian lingkungan?

Pertama-tama, saya sangat mengapresiasi Pondok Pesantren Assirojiyyah yang telah memberikan perhatian, fokus, dan atensi yang luar biasa terhadap urusan sampah. Selamat datang di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) kepada santri-santri hebat dari Assirojiyyah. Di sini ada Walidatus Solihin, ada Yazidul Bustomi yang 'beratribut' Ibnu Baidhowi.

Kedatangan kalian jauh-jauh dari Sampang ke Surabaya, dari Assirojiyyah sampai ke Universitas Airlangga, membuktikan adanya gairah (ghirah) bahwa urusan sampah ini telah menjadi perhatian penting dan menjadi bagian dari tholabul 'ilmi (menuntut ilmu).

Pesan saya, siapa tahu pada saatnya nanti, kalian berdua bisa menempuh studi lanjut di Pascasarjana Unair untuk kemudian berkhidmat kepada Pesantren Assirojiyyah, untuk Indonesia, serta untuk kemaslahatan umat melalui jalur dakwah ekologi. Kehadiran kalian hari ini memberikan optimisme baru bagi saya bahwa sumber daya manusia di Madura semakin lama semakin baik. Teruskan gairah ini di pesantren!

 

Tags