Minggu, 12 April 2026
Assirojiyah.online
KPPA

Sekaten: Lebih dari Sekadar Pasar Malam, Ini Adalah Napas Yogyakarta yang Tak Lekang Oleh Zaman

PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM

Background
Sekaten: Lebih dari Sekadar Pasar Malam, Ini Adalah Napas Yogyakarta yang Tak Lekang Oleh Zaman
Sekaten: Lebih dari Sekadar Pasar Malam, Ini Adalah Napas Yogyakarta yang Tak Lekang Oleh Zaman (istimewa/)

Sekaten: Lebih dari Sekadar Pasar Malam, Ini Adalah Napas Yogyakarta yang Tak Lekang Oleh Zaman

Coba deh bayangin, sore-sore di Jogja, udara mulai agak dingin karena masuk musim hujan, terus tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara gamelan yang bunyinya beda dari biasanya. Bukan gamelan pengiring mantenan yang kalem, tapi suaranya lebih mantap, berat, dan seolah-olah memanggil jiwa-jiwa yang lagi gabut buat merapat ke Masjid Gedhe Kauman. Kalau kamu sudah mendengar suara itu, tandanya satu: Sekaten sudah tiba.

Buat orang Jogja atau siapa pun yang pernah menetap lama di sini, Sekaten itu bukan sekadar festival tahunan. Ini adalah memori. Sebuah perayaan yang memadukan antara religiusitas, sejarah, sampai hiburan rakyat yang kadang bikin kaki gempor tapi hati senang. Meskipun sekarang formatnya agak berubah—terutama soal keberadaan pasar malam yang nggak lagi di Alun-Alun Utara—esensi Sekaten tetap menjadi magnet yang nggak ada duanya.

Sejarah yang Nggak Boleh Dilupakan

Ngomongin Sekaten tanpa bahas sejarah itu ibarat makan gudeg tanpa krecek: hambar, Bro! Istilah Sekaten sendiri konon berasal dari kata "Syahadatain", alias dua kalimat syahadat. Dulu, para Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga, punya strategi marketing yang jenius buat menyebarkan Islam di tanah Jawa. Beliau tahu kalau orang Jawa itu cinta banget sama seni musik, makanya dipakailah gamelan sebagai media dakwah.

Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilaga bakal dikeluarkan dari keraton dan ditabuh selama tujuh hari berturut-turut. Orang-orang bakal kumpul, dengerin musiknya, terus pelan-pelan diajak masuk ke masjid buat dengerin pengajian. Creative marketing zaman dulu emang nggak ada lawan, kan? Sampai sekarang, tradisi ini masih kental banget. Suara gamelan yang khas itu seolah jadi portal waktu yang membawa kita kembali ke masa ratusan tahun lalu.

Nginang dan Endog Abang: Kuliner Simbolik yang Unik

Ada satu pemandangan unik kalau kamu main ke halaman Masjid Gedhe pas gamelan lagi ditabuh. Kamu bakal lihat banyak ibu-ibu atau mbah-mbah yang asyik "nginang" (mengunyah sirih). Katanya sih, kalau nginang pas gamelan Sekaten lagi bunyi, bisa bikin awet muda. Percaya nggak percaya, tapi ritual ini bikin suasana jadi makin sakral sekaligus merakyat. Bau sirih yang khas bercampur dengan aroma dupa itu... beuh, Sekaten banget!

Selain nginang, jangan lupakan "Endog Abang" atau telur merah. Ini bukan sembarang telur rebus. Telur ini ditusuk bambu, diberi hiasan kertas warna-warni, dan biasanya ditancapkan di atas keranjang kecil. Simbolnya dalam banget, lho. Cangkang telur melambangkan pelindung, putih telur itu kesucian, dan kuning telur itu keikhlasan. Warna merahnya sendiri simbol kesejahteraan. Buat anak kecil, ini adalah must-have item kalau pulang dari Sekaten.

Dilema Pasar Malam dan Nostalgia "Awul-Awul"

Nah, ini nih yang sering jadi perbincangan hangat di tongkrongan anak muda Jogja belakangan ini. Dulu, Sekaten identik dengan pasar malam di Alun-Alun Utara yang penuh dengan wahana ekstrem kayak kincir ria (bianglala) yang bunyinya kriyet-kriyet, tong setan, sampai stand "awul-awul" (baju bekas). Bau minyak goreng dari penjual telur gulung dan suara mbak-mbak penjaga stand yang promo lewat pelantang suara itu adalah simfoni kekacauan yang kita rindukan.

Sekarang, demi menjaga rumput dan kebersihan Alun-Alun Utara sebagai bagian dari sumbu filosofis, pasar malamnya dipindah atau ditiadakan di lokasi tersebut. Banyak yang protes, banyak yang sedih karena merasa "roh" Sekaten jadi berkurang. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, langkah ini mungkin ada benarnya biar keraton tetap punya wibawa dan nggak cuma jadi tempat nyampah plastik doang. Meskipun begitu, vibes Sekaten nggak akan pernah hilang total selama gamelannya masih berbunyi.

Puncaknya: Grebeg Mulud yang Bikin Rebutan

Setelah seminggu penuh perayaan, tibalah saat yang paling dinanti: Grebeg Mulud. Ini adalah puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di momen ini, Keraton Yogyakarta bakal mengeluarkan beberapa "Gunungan"—gunungan hasil bumi yang tingginya bisa dua meter lebih. Isinya macam-macam, mulai dari kacang panjang, cabai, sampai rengginang.

Momen yang paling seru adalah pas Gunungan ini dibawa ke Masjid Gedhe dan didoakan. Begitu selesai doa, orang-orang bakal langsung "ngalap berkah" alias rebutan isi gunungan itu. Kadang sampai dorong-dorongan, tapi anehnya nggak ada yang marah. Katanya sih, kalau dapat bagian dari gunungan itu, rezeki bakal lancar setahun ke depan. Ya, anggap saja ini adalah bentuk optimisme kolektif masyarakat Jogja dalam balutan tradisi.

Kenapa Kita Harus Peduli?

Di era gempuran konser musik internasional dan festival kekinian yang tiketnya jutaan rupiah, Sekaten hadir sebagai pengingat kalau kita punya akar yang kuat. Sekaten itu demokratis. Di sana nggak ada kelas VIP atau festival A-B. Mau kamu mahasiswa perantauan yang dompetnya tipis, mau kamu pejabat, atau turis asing, semua tumplek blek jadi satu menikmati suasana yang sama.

Sekaten mengajarkan kita soal keseimbangan antara urusan langit (agama) dan urusan bumi (budaya dan hiburan). Ia adalah bukti kalau tradisi nggak harus kaku dan membosankan. Jadi, kalau nanti Sekaten digelar lagi, jangan cuma sibuk cari spot foto aesthetic buat konten TikTok doang, ya. Coba duduk sebentar, dengerin bunyi gamelannya, rasakan semilir anginnya, dan sadari kalau kamu sedang berada di tengah-tengah sejarah yang masih hidup.

Jogja tanpa Sekaten itu kayak ada yang hilang dari identitasnya. Ia bukan cuma sekadar acara kalender wisata, tapi degup jantung budaya yang bikin Jogja tetap terasa "Istimewa" di mata siapa saja. Jadi, kapan kita mau berangkat ke Sekaten bareng lagi?