SUDAH TERBIASA DALAM PEMERINTAHAN
PT. Assrof Media - Tuesday, 30 January 2024 | 07:00 PM


Saya berpikir, sejauh mana tingkat kesulitan memilih Pemimpin Nasional, apakah hanya tertuju mencari kemenangan dengan pertimbangan siapa yang terbanyak pendukungnya itulah yang dipilih sehingga nantinya ikut menikmati bagi hasil dan jatah kekuasaan pasca pemilihan ataukah mencari kebenaran karena persamaan aqidah, kecukupan intregitas atau kecakapan kemampuan dengan resiko kekalahan sehingga akibatnya tidak mendapatkan kupon bagi hasil dan jatah kavling keberuntungan. Mungkinkah faktor kepentingan yang menghalangi sehingga susah memilih pemimpin, siapa yang lebih mengumntungkan dan siapa yang kurang menguntungkan. Karena dalam kondisi sekarang tidak ada yang dirugikan tetapi siapa yang lebih menguntungkan, tentu secara materi, gitu lho.
Saya merenung , begitu banyak pertanyaan yang muncul dan ternyata tidak mudah menjawabnya. Perenungan ini karena dipaksa oleh sikap kehati-hatian, takut salah dalam memilih pemimpin di dalam mempertanggungjawabkan kepada Alloh dan kepada masyarakat yang mengikuti hasil perenungan semacam ini. Masyarakat kebanyakan (awam) banyak mengenal jati diri para calon, tahunya karena melalui tampilan iklan televisi atau radio, foto yang tersebar dan tertempel di pinggir jalan, di tiang listrik, pepohonan atau karena bantuan yang sampai tangannya.
Saya diam sejenak, apakah sudah tiba peringatan Rasululloh bahwa kelak orang-orang akan menjauh dari ulama dan fuqoha, sehingga Alloh mendatangkan beberapa bencana dan salah satunya adalah Alloh akan menurunkan pemimpin (sulton) yang dholim, sebagai akibat perilaku masyarakat, sebagaimana Al-Qur'an menyebutkan: Para ulama sebagai pewaris perjuangan para nabi (anbiya'). Ataukah kita yang sudah menebak siapa yang sebenarnya ulama dan siapa yang hanya berpenampilan ulama. Memang terkadang membingungkan, mungkin karena keawaman. Terkadang dikira sebagai ulama, tetapi dalam kegiatannya sulit dipahami karena secara lahiriyah disibukkan masuk ke wilayah bisnis politik dan politik bisnis seperti warga kebanyakan, bahkan cenderung mengabaikan wilayah pendidikan (tarbiyah) yang seharusnya menjadi wilayah para ulama dalam keseharianya dengan taushiyah atau fatwa-fatwanya.
Baca Juga
Penutupan Lomba Biro Dakwah (BIDAK) Tahun 1444 – 1445 H
Saya menelaah, apakah sudah sampai pada peringatan Rasululloh, bahwa kehidupan agama kelak nanti seperti bara api, ketika dipegang terasa panas tetapi ketika ditaruh di permukaan tanah, tentu bara api itu secara perlahan akan mati. Demikian dengan agama ketika ditinggalkan pengikutnya maka agama hanya tinggal nama, Islam hanya tinggal simbol dan Al-Qur'an tinggal tulisan karena tidak lagi dijadikan pedoman. Kepentingan agama dalam memilih pemimpin cenderung dikalahkan oleh kepentingan yang lain. Kalau begitu memang susah benar memilih pemimpin.
Ya Alloh, berilah perlindungan kepada bangsa kami dan karuniakanlah seorang pemimpin yang membawa kemaslahatan umat yang Engkau ridhoi, Indonesia tercinta menuju baldatun thoyyibatun warobbun ghofuur, amin.
Oleh: Masrudy
Next News

MELETAKKAN NIAT PADA TEMPAT YANG TEPAT
a day ago

PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN
7 days ago

SEJUMPUT LELAH, SEGUNUNG BARAKAH
10 days ago

MIMPI DI ATAS KERTAS LUSUH
14 days ago

PENGABDIAN GURU TUGAS
16 days ago

PESANTREN: TEMPAT NIKMAT YANG TAK TERLIHAT
18 days ago

BELAJAR MEMANAJEMEN WAKTU
a month ago

Penyumbang Emas Terbesar Puncak Monumen Nasional
a month ago

MEMANAGE WAKTU SEBELUM BERLALU
a month ago

PENYAKIT HATI: MUSUH TAK KASAT MATA YANG MERUSAK KEHIDUPAN
2 months ago
