Shadow

Peninggalan Terakhir Sang Sunan

Sang Sunan

Eksistensi masjid menjadi hal yang tak pernah habis dibicarakan. Hampir setiap daerah yang ada di negeri ini, terdapat bangunan masjid sebagai tempat peribadatan umat Islam, termasuk pula masjid peninggalan Syekh Zainal Abidin yang terletak di Jl. Raya Sunan Cendana, Ketetang, Kwanyar, Bangkalan.

Masjid Jami’ Sunan Cendana merupakan masjid yang didirikan oleh Syekh Zainal Abidin, atau yang lebih dikenal dengan Sunan Cendana. Menurut KH. Abd. Hannan, salah satu dzurriyah yang sekaligus ketua takmir, dulunya Masjid Sunan Cendana ini hanya berupa musholla kecil yang digunakan untuk sholat. Namun semikin berkembangnya dinamika sosial, akhirnya Sunan Cendana bersama penduduk setempat sepakat untuk merenovasi menjadi bangunan masjid.

Sunan Cendana sendiri bukanlah penduduk asli Madura, melainkan berasal dari Tanah  Mataram (Yogyakarta). Beliau menimba ilmu kepada Raden Rahmat (Sunan Ampel) di Surabaya. Setelah pendidikannya selesai, beliau kembali ke kota kelahirannya.

Raja Mataram yang merupakan paman beliau menugaskannya untuk berdakwah ke daerah Blambangan, Banyuwangi. Beliaupun berangkat untuk melaksanakan perintah tersebut. Di tengah perjalanan, Syekh Zainal Abidin bertemu dengan teman lamanya yang bernama Kaukabu atau orang Madura biasa memanggilnya Kabu-Kabu. Yang kemudian sang teman diajaknya untuk ikut berdakwah ke Blambangan.

Ajaran dakwah yang dibawanya tidak serta merta diterima dengan mudah oleh penduduk Blambangan. Butuh waktu dan usaha yang keras untuk meluluhkan hati mereka. Namun setelah beberapa tahun, berbekal ilmu dan ketekunan, banyak masyarakat  Blambangan yang masuk Islam, meski ada ada sebagian yang menolaknya dan lebih memilih pindah ke Bali. Setelah misi dakwahnya selesai, selanjutnya beliau singgah di daerah Pandaan. Di sini, beliau sempat membangun sebuah musholla. Yang konon, di musholla tersebut terdapat peninggalan Sunan Cendana berupa alat perang yang masih terjaga hingga sekarang.

Melihat keberhasilan dakwahnya di Blambangan, Kaukabu kemudian mengajaknya untuk berdakwah di Pulau Madura. Ajakan itu tidak langsung diterimanya, karena beliau harus melaporkan hasil dakwahnya di Blambangan kepada pamannya sekaligus meminta restu untuk memenuhi ajakan temannya. Akhirnya, dengan berat hati Sang Raja melepas kepergian keponakannya.

Ketika sampai di tepi pantai Surabya, beliau mencari kapal untuk menyeberangi lautan, namun tak satupun beliau temukan. Lalu beliau bermunajat pada Alloh SWT dan tiba-tiba muncullah seekor ikan hiu tutul (Mondung: Madura) yang bisa berbicara dan menawarkan tunggangan pada beliau. Ikan inilah yang membawa beliau hingga akhirnya sampai di Pelabuhan Kedungdung, Bangkalan. Dan sebagai ucapan terima kasih pada ikan itu, beliau memohon kepada Alloh, “Semoga keturunanku tidak sampai memakan keturunanmu (hiu tutul). Dan apabila ada keturunanku yang memakan keturunanmu, maka ia akan terkena penyakit belang (tutul putih pada bagian tubuhnya)”.

Sebagai pendakwah, beliau berkelana hampir ke seluruh Madura hingga sampai pada destinasi terakhirnya yaitu Kwanyar. Di sinilah beliau berdakwah dan mendirikan masjid. Dalam sejarahnya, masjid yang dibangunnya tergolong masjid yang sakral. Konon, barangsia siapa yang menduduki shaf depan, dia akan merasakan sesuatau yang luar biasa serasa berada pada maqom kholwat. Dan hal menarik lainnya, setiap kali Sunan Cendana berangkat sholat ke masjidnya, selalu dikawal oleh gerombolan monyet. Para monyet ini yang setia menemani beliau tiap kali beribadah.

Suatu ketika, Sang Sunan memohon kepada Alloh meminta tempat untuk berkholwat. Lalu dengan izin Alloh, tiba-tiba ada pohon terbelah dan mengeluarakan suara menyuruh beliau untuk masuk ke dalamnya. Beliau berada dalam pohon tersebut selama 40 hari meski ada yang mengatakan 21 hari atau satu minggu. Pohon tersebut bernama Pohon Cendana, sehingga masyarakat sekitar memanggilnya dengan Sunan Cendana.

Masjid dengan warna biru tosca ini sudah mengalami 4 kali renovasi, terakhir pada tahun 1990 yang menghabiskan dana Rp. 1,250 M. Meski nampak dengan arsitektur modern, kayu-kayu bekas bangunan tempo dulu masih terpakai pada bagian atas bangunan masjid.

Selain berfungsi sebagai tempat kegiataan religi seperti sholat berjamaah, kajian kitab, bahtsul masa’il dan acara houl. Masjid ini juga dipakai untuk kegiataan sosial berupa ajang perlombaan (cerdas cermat), leb gratis bagi masyarakat dan khitan massal setaip dua bulan sekali.

Oleh : Bukhori KPA

L
Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published.